When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Pergi ke America



"Morning sayaang..” Rea membuka pintu dan langsung menyapa orang yang berdiri di depannya dengan ramah. Tapi ekspresi Rea berubah karena yang datang bukan Sam, melainkan Boy.


“Morning juga sayang..” ucap Boy senang karena mendapatkan ucapan selamat pagi yang begitu mesra.


“Lho, mana Sam?” tanya Rea bingung.


Boy memandang Rea dari bawah ke atas. Rea tampil berbeda hari ini. Dia menggunakan dress bunga-bunga dengan cardigan hitam. Rea juga menggunakan bando dan memoleskan lipstick.


“Lo mau ikut ke America juga?” Boy menengok ke belakang Rea untuk mencari kopernya.


“America? Aku ada janji dengan Sam untuk pergi kencan.” Kata Rea panik. Dia mendapat sinyal kurang baik karena seharusnya Sam yang berada di sini, bukannya Boy. Dan Boy bilang America? Apakah Sam akan pergi ke sana?


Boy juga memiliki feeling negative. Sam pergi begitu mendadak. Dia tidak bercerita apapun padanya dan juga Rea.


“Ya Sudah, ayo cepat naik, sebelum terlambat.” Boy membuka kunci otomatis mobil. Rea mau tidak mau naik dan dia berharap jika ini hanya rencana Sam dan Boy untuk membuat kejutan.


Boy segera melajukan mobilnya dengan cepat menuju bandara. Dia mengumpat Sam dalam hatinya karena jarak rumah Rea ke bandara begitu jauh. Dia melihat jam tangannya berulang kali sambil berdecak kesal, karena mereka hanya tersisa 15 menit saja.


"Boy, ini ada apa si?" Rea sudah memastikan jika ini bukan candaan. Boy benar-benar terlihat panik.


"Sam akan ke America pagi ini. Dia minta aku untuk bawa kamu ke bandara sekarang juga." ucap Boy tanpa menengok ke arah Rea.


"Tapi, apa dia sedang bercanda? Kami seharusnya kencan." ucap Rea terbata.


"Ya kita lihat, apakah Sam bercanda atau tidak."


Rea tidak banyak bertanya lagi. Dia hanya diam sepanjang perjalanan dengan wajah tegang, karena Boy memacu mobilnya semakin cepat.


Boy adalah sopir yang handal. dia bisa sampai di bandara tepat waktu. Sisa waktu mereka hanya 5 menit lagi. Mereka berlari untuk mencari Sam di terminal yang sudah diberitahukan sebelumnya.


"Sam.." Rea menangkap sosok Sam yang juga sedang menatapnya. Rea segera berlari ke arah Sam secepat kilat.


Sam sedikit terhuyung ke belakang,karena Rea menubruknya. Dia memeluk Sam seolah Sam adalah boneka beruang besar yang empuk.


"Sam, tolong jelaskan ini." protes Rea tanpa melepaskan pelukannya. Dia sudah membayangkan akan pergi berkencan dan makan es krim dengan Sam. Tapi ternyata acara kencannya malah berubah menjadi acara perpisahan seperti ini.


"Sorry Re.. aku bingung untuk jelaskan ini ke kamu. Ada urusan mendadak di America. Aku harus mengurus rumah sakit di sana."


"Saaaam.." Rea mulai menangis. Dia semakin erat memeluk Sam dan tidak berniat untuk melepaskannya.


"Re, kita kan masih bisa komunikasi." Sam berusaha menenangkan Rea. "Lagipula ada Boy yang bisa kamu andalkan kalau kamu butuh bantuan."


(Sabar Boy, nanti akan ada waktunya untuk jagain jodoh sendiri..)


"Kamu berapa lama di sana?" tanya Rea lagi.


"Belum tau Re.. sudah kamu jangan menangis."


Sam melepaskan Rea. Dia mengusap mata wanita itu dengan jarinya. Rea tampil cantik hari ini. Dia pasti sudah mempersiapkan diri dengan baik untuk pergi kencan bersama Sam. Sayangnya, Sam sudah membuat keputusan dan dia harus pergi.


Jika ditanya apakah dia sedih? Jawabannya sudah pasti iya. Sam merasakan hatinya hancur tak bersisa karena harus meninggalkan Rea tanpa memberitahu alasan sebenarnya pada Rea.


"Jaga diri kamu, Re. Aku mohon, jangan terlalu polos pada orang yang belum kamu kenal."


"Kamu juga.. Awas saja kalau kamu tertarik dengan bule-bule di sana." ancam Rea.


Sam mengacak-acak rambut Rea. Dia tidak ingin melepaskan pandangan dari Rea. Entah berapa lama dia harus berada di America. Mungkin, Sam bahkan tidak akan kembali jika Rea kembali pada Alden.


Rea berjinjit, lalu dia mencium pipi Sam dengan cepat.


"I love you, Sam.. cepat kembali.."


Sam semakin merasa bersalah dan tidak ingin pergi meninggalkan wanita itu. Sekali lagi, Sam memeluk Rea. Dia mencium rambut Rea yang berbau mint.


"Maaf Re, aku harus pergi sekarang."


Sam dan Rea saling memandang untuk sesaat. Rea harus bisa menerima karena ini adalah tugas Sam. Ini adalah resiko menjadi pacar dari seorang keluarga Sebastian.


"Jaga dia, Boy. Aku akan memberi pesan pada kalian setelah sampai di sana." Sam kali ini harus benar-benar pergi. Dia melambaikan tangan pada keduanya, lalu berjalan menuju pintu keberangkatan.


"Sabar ya Re.." hibur Boy.


"Boy, apakah kamu pernah menjalani hubungan LDR?" Rea menengok ke arah Boy.


"Mana mungkin pernah. Aku tidak pernah pacaran dengan siapapun." ucap Boy santai. Dia memang dekat dengan beberapa wanita, tapi Boy tidak ingin berpacaran dengan mereka karena itu akan merepotkan.


"Sam orang yang bisa kamu percaya, yakin lah dia tidak akan selingkuh."


Rea menangguk pelan.


'Ini sungguh aneh, pasti Sam pergi bukan karena kemauannya sendiri.'