
Sam menyilang kalender di mejanya dengan pulpen merah. Dia menghitung dengan jarinya, mengingat sudah berapa kali dia melakukan ini. Total 415 hari.
Ya, sudah 415 hari sejak Sam melamar Rea. Gadis itu tampak belum ingin menikah. Sam menghela nafas kasar. Dia sepertinya terkena kutukan dari Reno dan Juna. Dulu, Sam yang mengejek kedua orang itu karena kekasih mereka semua kabur. Sekarang, Rea memang tidak kabur, tapi dia selalu menghindar jika Sam membicarakan pernikahan.
"Lo mau tau cara cepat menikah dengan Rea?" Boy memainkan menekin jantung di ruangan Sam.
"Kalau konyol, lebih baik tidak usah." kata Sam malas. Boy adalah pria terabsurd yang pernah Sam kenal. Sam baru saja mengetahui jika Boy menyembunyikan kekasih Reno dan menjadikan gadis itu sebagai sekretarisnya. Dan uniknya lagi, Boy melakukan itu selama 2 tahun tanpa ketahuan siapapun.
"Lo bikin saja scandal sama Rea." "Jadi, lo pura-pura masuk ke hotel, dan sewa fotografer. Nah, foto itu kirim saja ke Om Ben. Di jamin besok kalian akan langsung menikah." Boy menjelaskan rencananya dengan bersemangat.
Sam meremas kertas di depannya, lalu menimpuk kepala Boy dengan kertas itu.
"Ide macam apa itu." omel Sam.
"Bagus kan skenarionya." kata Boy dengan bangga.
"Hati-hati Boy, Jangan-jangan kamu yang akan mengalami itu." ejek Sam sambil tertawa. Dia tidak bisa membayangkan jika Boy terkena scandal dan tiba-tiba menikah dengan wanita yang dibawanya ke hotel.
"Gak mungkin lah Sam.. itu gak berlaku buat gue."
Sam dan Boy terdiam sesaat. Mereka lalu dengan kompak menengok ke arah ranjang pasien, di mana sepasang kekasih sedang asyik pacaran. Mereka bahkan terbilang cukup berani karena saling merangkul, mencium dan menggoda satu sama lain.
"Hey, jangan jadikan ruangan ku ini untuk berbuat mesum." Omel Sam.
Sam memijit pangkal hidungnya untuk mengurangi sakit kepala yang tiba-tiba muncul karena duo bucin di depannya.
Valen tersadar jika Boy dan Sam sedang menatap mereka. Dia hanya tersenyum sambil merapikan rambut yang sedikit berantakan karena Alden mendekapnya.
Selama satu tahun ini, Sam mendapatkan banyak sekali kejutan dari Alden.
Pertama, Sam baru tahu jika Alden itu sangat bodoh. Dia harus ekstra mengajar Alden dan tentu saja itu menyita waktunya untuk pacaran dengan Rea. Kedua, yang membuat Sam hampir terkena serangan jantung mendadak adalah ketika memergoki Valen dan Alden sedang berciuman di ruangan adiknya itu.
Sam bahkan menginterogasi Alden 3 hari 3 malam dan meminta Alden untuk menceritakan kronologi bagaimana mereka berdua bisa menjadi kekasih. Dan setelah Alden memohon pada Sam, akhirnya Sam setuju untuk merahasiakan hubungan Alden-Valen dari Ben dan Lidia.
Tapi akibatnya seperti yang terlihat saat ini. Mereka sungguh tidak bisa melihat situasi dan menjadikan tempat kerja Sam jadi tempat pertemuan mereka.
"Kita di salip oleh Alden." ucap Boy sambil menghela nafas berat.
"Sudahlah.. kita pulang saja. Kita harus bersiap untuk datang ke pernikahan Reno-Aeris." Sam bangun dari kursi kerjanya. "Kamu juga, jangan sampai kamu bertindak macam-macam pada Valen.. Karena Dad akan menendang mu sampai kutub utara." Sam memberikan peringatan keras pada Alden.
"Bucin.. bucin.." Boy mengikuti Sam untuk pergi karena tidak ingin jadi obat nyamuk di ruangan ini.
*
*
Pernikahan Reno sangat meriah. Sam senang karena sepupunya itu berakhir dengan Aeris. Wanita itu memang bukan dari kalangan terpandang, tapi hanya Aeris yang dapat membuat Reno bahagia. Keadaan Reno itu sebenarnya sama dengan keadaan Sam saat ini. Sam begitu bahagia bahkan hanya dengan memandang Rea.
"Pelan-pelan makannya sayang.." Sam mengelap sudut bibir Rea yang belepotan es krim. "Apa tadi kurang?" tanya Sam yang heran dengan Rea.
"Kalau tadi kan aku harus jaga sikap, kalau sekarang kan enggak." celoteh Rea. Dia membuka mulutnya lagi dan menyuapkan satu sendok besar es krim, sehingga mulutnya belepotan lagi.
Sam gemas sekali dengan tingkah Rea. Di pesta Reno tadi, Rea memang jauh lebih elegan. Selama satu tahun ini, Rea belajar dari Valen bagaimana caranya menjadi Wanita yang elegan. Tapi dasar Rea. Dia melakukan itu hanya jika berkumpul bersama dengan orang-orang kalangan sosialita. Jika berada di rumah Sam, seperti saat ini, Rea berubah menjadi seperti preman yang kelaparan.
Setelah menghabiskan satu kotak es krim sendirian, Rea baru berfokus pada Sam yang sejak tadi memandangnya.
"Jangan bilang kamu ingin menyusul Reno." Rea dapat menebak apa isi pikiran Sam.
"Re.. aku sudah menunggu selama 415 hari.." "Selain itu, kamu harus ingat umur Re.." kata Sam yang kembali mengelap sudut bibir Rea. Ingin rasanya Sam melakukan itu dengan menggunakan bibirnya, tapi Rea tipe gadis kuno yang bahkan ciuman saja tidak mau.
"Jangan bawa-bawa umur, Sam. Kamu bikin aku tambah down saja." Rea menunduk sedih. Dia sangat sensitif jika berbicara soal umur. Saat ini umur Rea sudah mencapai angka 35 tahun.
"Maaf sayang.. habis kamu selalu saja menolak jika aku bicara soal pernikahan." Sam bergerak dari kursinya, untuk memeluk Rea. "Apa lagi yang kamu khawatirkan, Re?" "Kalau kamu menunggu Alden, sampai kapanpun dia akan selalu begitu. Menunggu Alden mahir mengelola rumah sakit itu bagaikan memasukan onta ke lubang jarum."
Rea tertawa geli mendengar Sam putus asa karena Alden.
"Atau, kamu khawatir karena kesehatan Dad?" Sam melepaskan Rea dan mengamati wanita nya dengan intens. "Kesehatan Dad juga tidak akan pulih sepenuhnya."
Selama ini Rea memang sangat mengkhawatirkan Ben. Dia ingin Sam fokus untuk merawatnya. Tapi, bukan itu yang ada di pikiran Rea.
"Sam, bagaimana kita mau menikah kalau kita tidak pernah berkencan?" ucap Rea sambil menunduk.
"Kencan?" Sam mengerutkan dahinya. Dia selalu membawa Rea ke rumahnya atau rumah sakit. Dan, kadang Sam juga main ke rumah Rea atau ke klinik. Apa yang Sam lakukan bukan termasuk kencan?
"Ih.. kenapa kamu jadi tertular Alden sih?" Rea mencubit pipi Sam dengan gemas. "Ingat tidak, dulu kamu janji mau ajak aku jalan-jalan, tapi kamu malah kabur ke America."
Setelah 2 tahun berlalu, Sam baru saja ingat janji kencannya pada Rea. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri dan sampai sekarang pun begitu. Kehidupannya masih seputar Alden, Ben dan rumah sakit. Jangankan mengajak Rea jalan-jalan, dia sendiri saja tidak pernah jalan-jalan atau mengambil libur.
"Oke, aku sudah putuskan." Sam kembali pada kesdarannya. "Kita akan kencan besok."
"Benar, Sam?" Rea melompat senang seperti anak kecil.
"Iya, kita akan kencan.. tapi tolong gunakan pakaian yang tebal."
"Pakaian tebal? Memang kita mau kencan di mana?" Rea membayangkan kemungkinan tempat yang Sam maksudkan. Apakah Sam akan mengajaknya main ice skating?
"Sudah..besok juga kamu akan tahu Re.." Sam menyunggingkan senyuman yang penuh arti.