
"Gimana?” Tanya seorang pria berambut terang yang duduk di sebelah Sam.
“Kabur.” Jawab Sam singkat. Wajahnya berubah 180 derajat menjadi lebih serius daripada ketika tadi dia menemui Valen dan Rea.
Pria di sebelah Sam itu tertawa nyaring. Dia sampai memegangi perutnya karena sakit.
“Cari mati ya..” omel Sam.
“Sorry Bro... lagian sih. You tinggal pakai lens aja kenapa sih? Katanya mau cari calon istri, tapi malah cari masalah.”
“Boy Setiawan!” Teriak Sam.
Boy segera diam. Dia tau sohibnya ini memang luar biasa aneh. Tidak ada satupun manusia di planet ini yang seaneh Samuel Edward. Sejak kecil Sam sudah aneh, sekarang lebih aneh lagi.
Sam yang tampan memilih menggunakan kacamata sekaligus menyembunyikan identitasnya. Dia juga tidak bisa punya banyak teman apalagi dekat dengan wanita. Boy sampai mengira Sam tidak menyukai lawan jenis. Tapi, ternyata minggu lalu Sam bicara ingin menikah dengan seorang wanita yang cantik. Boy dengan semangat 45 membantu Sam untuk bisa bertemu dengan Valen, meskipun dia harus menunggu di tempat parkir.
“Jadi lo mau tetep sama Valen ga? Atau kita cari yang lain lagi?” Boy mencoba untuk memecahkan keheningan.
“Belum ku putuskan.”
“Sepertinya seorang Samuel tidak membutuhkan pasangan hidup.” Ejek Boy.
“Tapi tadi ada satu wanita yang dia bawa.”
“Siapa?” Tanya Boy penasaran.
“Pegawainya..”
Lagi-lagi ucapan Sam membuat Boy tertawa. “Jadi dia bawa pegawainya terus kenalin ke lo? Udah fix sih,, dia nolak lo. Terus gimana pegawainya? Cantik?”
Sam tidak menjawab Boy. Dia menepikan mobil dan kemudian mengambil laptop di tas yang dia bawa. Sam mengetikan sesuatu, dan berbagai data masuk ke dalam laptopnya dalam waktu kurang dari 5 menit.
“Rea Renata..” Dia menunjukannya ke Boy.
Tindakan Sam yang random itu membuat Boy harus merebut laptop dari sohibnya itu, karena dia penasaran apa yang diperlihatkan Sam.
Tampak foto seorang wanita dengan wajah yang datar tanpa senyum. Rambutnya tergerai panjang dan matanya sedikit sipit. Wanita itu berfoto dengan kemeja putih dengan latar belakang biru. Ya, saat ini Sam sedang memperlihatkan lamaran kerja dari wanita bernama Rea Renata.
“Dia yang ketemu lo?”
“Yes,,” jawab Sam singkat.
Dia kembali mengambil alih laptop untuk melihat para pegawai Valen satu persatu. Valen punya 10 pegawai wanita dan satu satpam. Dan dari segi customer, Klinik Valen jelas punya nama baik di kalangan para pejabat dan artis. Itu terlihat dari list nama pelanggan VIP nya.
Begitulah, Sam membobol sistem di klinik Rea.
Memang tindakan ini tidak dibenarkan, tapi Sam akan mengurus semua besok.
“Biasa saja sih.. ku kira pegawai klinik cantik2..”
“Dia menarik..” ucap Sam sambil menengok ke Boy.
"Siapa? Wanita tadi?" tanya Boy heran.
Sam tidak mengangguk atau mengiyakan. Pertemuan pertama dengan Rea tidak terlalu buruk. Memang betul yang di ucapkan oleh Boy jika Rea tidak terlalu menarik dari segi fisik, tapi Rea tidak ilfeel pada Sam yang culun. Bagi Sam, itu sudah cukup.
Cara Sam untuk mendapatkan teman terbilang cukup unik. Sejak berada di America, dia selalu menggunakan kacamata tebalnya. Dia membiarkan orang-orang melihat penampilan terburuknya, sehingga dia bisa tau siapa yang benar-benar ingin berteman dengannya dan siapa yang hanya melihat fisiknya saja.
“Oke Sam,, lo memang unik ga ada duanya.” ucap Boy frustasi. Dia hanya bisa mendukung sahabatnya tanpa bisa protes.
"Tapi, gue penasaran, kenapa lo tiba-tiba ingin menikah?" lanjut Boy. "Apa karena Daddy mu?"
"Ya, itu salah satunya. Alasan lain karena aku hanya menggunakan kesempatan yang ditawarkan seseorang."
Sam ingat betul, sebelum dia pergi ke America, dia bertemu dengan Bramantyo. Dia menyelamatkan pria itu dan kemudian Bram menjanjikan akan mengabulkan permintaan Sam. Tapi, Sam kurang beruntung karena Valen ternyata tipe wanita yang melihat fisik seseorang.
Ponsel Sam berdering. Boy menatap layar ponsel Sam yang berada di sampingnya. Benjamin Sebastian calling..
"Sam, Daddy mu."
"Biarkan saja. Dia hanya ingin menanyakan hal yang sama dengan mu." Sam tidak menggubris telepon ayahnya. Dia menyalakan audio dengan cukup keras, lalu Sam kembali menjalankan mobil mewah milik Boy dengan santai.