When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Meminta balikan



Banyak sekali hal yang Rea ingin tanyakan pada pria di depannya. Di banding beberapa hari yang lalu, pria ini sekarang terlihat jauh lebih rapi. Rea juga melihat jam tangan baru, sepatu bermerk dan juga topi limited edition yang melekat di Alden.


“Udah liatnya?” Tanya Alden sambil tersenyum ke arah Rea yang tidak berkedip memandangnya.


Rea terkejut. Dia kembali menyesap minumannya.


Sebenarnya otak Rea sedang berputar sembari melihat perubahan drastis Alden, yaitu dari mana pria itu mendapatkan uang. Alden memang tampil sangat berbeda dan jauh lebih bersih dan keren, tapi dia mana mungkin mendapatkan uang untuk membeli barang-barang yang mahal?


“Kamu ngerampok bank ya?” Kata Rea akhirnya.


“Enggak lah Re.. aku memang bad boy,, cuma ga sampai ngerampok bank... cuma ngerampok rumah sakit.”


Rea hampir saja menyemburkan minuman yang sedang di pegangnya.Cuma kali ini Rea dapat menahan dan menelan minumannya meskipun itu sulit.


“Serius?”


Alden tertawa melihat Rea yang shock. Dia anak polos yang memang akan selalu percaya dengan perkataan orang.


Karena reaksi Alden yang begitu santai, Rea menyimpulkan jika berarti Alden hanya bercanda.


“Sorry,, ini uang yang selama ini aku pinjam.” Alden menyodorkan amplop coklat ke depan Rea.


Rea memang berantakan dan ceroboh, tapi kalau soal uang, dia bisa mengingat dengan baik berapa yang dia keluarkan ke Alden. Rea menghitung lembar demi lembar. Jumlahnya sama dengan yang diberikan pada Alden.


“oke, makasih,,” dia tersenyum senang sampai lupa kalau Alden sejak tadi memandangnya tanpa berkedip.


“Re,, apa kamu bilang ke Sam alamat rumah aku?” Tanya Alden tiba-tiba.


Sekarang ganti Rea yang menatap Alden. Sudah seminggu ini Sam tidak muncul, tepatnya saat malam itu Sam memintanya untuk bekerja Sama.


Rea juga penasaran kenapa Alden tiba-tiba bertanya tentang Sam. Alden bukan tipe orang yang suka bercerita. Selama pacaran, dialah yang banyak curhat setiap hari.


“Lo tau kan, kakak lo itu orang IT? Dia bisa menemukan alamat rumah gue dengan mudah.” Terang Rea. “Atau... Lo sama Sam bertengkar?” Rea teringat terakhir kali bertemu dengan Alden, Dia memukul Sam.


“Ya,, kalau mau denger lebih lanjut, kita balikan lagi.” Jawab Alden santai sambil tertawa.


Rea cemberut. Tapi dalam hati kecilnya dia senang melihat Alden kembali ceria. Sudah lama sekali dia tidak melihat Alden begini. Wajahnya begitu tampan kalau dia tertawa.


“Walaupun aku anak dari pengusaha kaya?”


“Maksudnya?” Tanya Rea curiga.


“Sam pasti cerita kan kalau aku kabur.”


“Iya..” Rea mengingat kembali apa saja yang Sam katakan malam itu.


“Aku sebenarnya anak dari keluarga Sebastian. Pemilik rumah Sakit Husada.”


“WHAT?” Teriak Rea.


Rumah sakit Husada adalah rumah sakit terbesar di kota ini. Dan Rea pernah mendengar nama yang sama di kota yang lain. Kalau Alden anak dari pemilik rumah sakit itu berarti Sam...


“Lo bercanda kan Den? Lo lagi ngeprank ya?”


“Tanya saja Samuel. Dia yang ngeprank kamu.”


Alden berbicara dengan nada yang meyakinkan.


Rea memutar otaknya kembali, ketika Sam bilang kalau dia anak pemilik rumah sakit, baru pulang dari America dan juga dokter bedah. Kali ini Rea bisa mengerti kenapa Sam begitu percaya diri dan juga tidak terlihat seperti orang culun lainnya.


Sementara itu, Alden meminum kopinya sampai habis. Dia mencoba membaca raut wajah Rea yang tampak bingung.


“Kamu ada hubungan apa sama Sam?”


“Ya kebetulan saja kami bertemu di cafe.” Jawab Rea asal. “Makasi infonya.. tapi gue harus pergi sekarang,, sudah waktunya kerja.” Ini adalah trik yang ampuh untuk mengalihkan pembicaraan sekaligus untuk pamit, karena Rea memang sudah kehabisan waktu. Dia pergi menemui Alden dengan ijin untuk makan siang.


“Tunggu” Alden memegang pergelangan tangan Rea. “Aku ga akan menyerah untuk balik sama kamu.”


Alden mengerti betul, Rea tidak suka dengan pria yang kasar. Tapi, dia merasa harus mendapatkan hati Rea kembali. Apalagi wanita itu tampak terlihat lebih menarik setelah Alden tau jika Rea mengenal kakak angkatnya.


Rea meringis. Masalahnya Alden bilang itu dengan cukup lantang dan itu membuat seisi cafe bisa mendengarnya. Rea sedikit memberontak supaya bisa lepas dari Alden. Setelah Alden melepaskannya, Rea buru-buru kabur sambil menutupi wajahnya dengan satu tangan.


'Rea Renata... kita lihat siapa yang lebih pantas mendapatkan kamu.' Alden bersandar dengan nyaman pada kursinya sambil menatap kepergian Rea.