When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Dimarahi Bos



Pagi itu susana terasa kurang baik. Rea baru saja menginjakan kakinya di klinik dan dia disambut dengan wajah-wajah serius yang tidak seperti biasanya. Bahkan Gadis yang biasa menggodanya kini diam seribu bahasa.


“Kenapa lo? Salah makan obat?” Tanya Rea.


Belum sempat Gadis menjawab, Valen keluar dari ruangannya sambil bercak pinggang. Rea tau kenapa mereka semua diam. Alasannya ada di depannya. Wajah cantik Valen tidak secerah biasanya. Ada lingkaran hitam di sekeliling matanya.


“Kamu, masuk.” Valen menunjuk Rea dengan jari telunjuknya.


Rea mengikuti Valen dengan perasaan campur aduk. Dia mengingat apa kesalahan yang telah dia perbuat. Tapi sampai Rea duduk di depan Valen pun dia masih tidak menemukan apa kesalahan yang di perbuat.


“Ada kompalin dari salah satu tamu kita.” Kata Valen to the point.


“Yang mana bu?”


“Bu Hera.”


Rea mengingat 3 hari lalu di mana Bu Hera datang. Bu Hera adalah salah satu orang penting di kota ini. Dia istri pejabat yang memang sedikit rewel. Semua karyawan menyerah melayani Bu Hera, dan akhirnya terpaksa Rea yang melakukannya. Selama 1 tahun, Bu Hera tidak pernah ada masalah dengan Rea dan Rea pun sudah melakukan tugasnya dengan baik.


“Kenapa ya Bu?”


“Kamu salah kasih dia masker. Kulitnya jadi merah-merah.” Jelas Valen.


“Ga mungkin bu.. saya sudah baca resepnya dan juga saya lihat botolnya.” Rea mencoba membela diri.


“Terus ini apa?” Valen memperlihatkan foto wajah Bu Hera yang penuh bintik merah.


Rea tidak bisa menjawab. Dia yang awalnya yakin mulai ragu-ragu. Valen tidak mungkin semarah ini kalau memang tidak ada buktinya.


“Re,, ini pekerjaan gampang lho..masa gitu aja ga bisa? Kalau dia kasih tau wartawan, kita bisa kena Re..” kata Valen masih dengan nada tinggi.


Dia mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tampak frustasi dengan Rea yang hanya diam.


“Kamu pacaran sama Sam?” Tanya Valen tiba-tiba.


“Hah? Enggak bu..” jawab Rea kaget. Dia terkejut kenapa Valen bertanya di luar konteks Bu Hera. Apa hubungannya masalah ini dengan pacaran?


“Tolong Re,, yang profesional.. kamu harus fokus.. apa segitu tergila-gilanya kamu sama Sam?”


“Bu,, tapi saya..”


“Sudah lah.. jangan bela diri terus..” potong Valen.


Rea kembali seperti kucing tersiram air. Dia diam seribu bahasa. Baru pertama kali Valen bisa marah seperti ini. Dia selalu memandang Valen seperti sosok yang penuh kasih sayang dan lembut.


“Gaji kamu akan saya potong untuk menutup kerugian Bu Hera.”


Rea diam. Kali ini dia diam karena menghitung berapa gaji yang akan dia terima mengingat perawatan yang dilakukan Bu Hera itu mahalnya luar biasa.


Rea yang sudah tidak bisa protes lagi akhirnya pamit dan keluar dari ruangan tanpa semangat sama sekali. Dia mendekati Gadis untuk curhat pada sohibnya itu.


“Sabar ya...” hibur Gadis. Dia tau kata sabar tidak akan berengaruh besar untuk Rea. “Lo kan bisa ajak makan Sam tiap hari, minta traktir.”


“Kenapa sih semua orang ngira gue pacaran sama dia.” Kata Rea kesal.


“Ya jelaslah.. Tuh udah nunggu di luar.” Gadis menunjuk sebuah mobil SUV Lexus hitam di depan.


“Kemarin Biru, sekarang hitam.. keknya lo memang nemu harta karun Re..” bisik Gadis.


Rea bergegas keluar karena dia akan memprotes Sam. Dia sangat heran dengan Sam. Tingkahnya belakangan selalu membuat hidup Rea tidak tenang. Sebelumnya naik motor pake kacamata dan keliatan cupu, sekarang makin hedon mengeluarkan semua koleksi mobilnya.


Pintu mobil sudah terbuka ketika Rea sampai di depan.


“Sam, kenapa sih kamu selalu muncul di sini.” Omel Rea di samping mobil Sam.


Boy melambaikan tangan dari kursi pengemudi, membuat Rea makin kesal.


“Halo Rea..” sapa Boy ramah.


Sam juga tersenyum ramah. Dia mengenakan kacamatanya lagi dan tampil layaknya orang culun seperti sebelumnya.


“Kamu kenapa Re?” Tanya Sam heran.


“Kamu mau ngapain lagi? Aku sudah bilang gak mau ikut campur urusan kamu sama Alden.”


Ceramah Rea. Tadi nya Rea ingin membantu Sam, tapi karena kejadian hari ini, Rea mengurungkan niatnya. Rea merasa Valen kesal, jika melihat Rea dekat dengan Sam.


“Tenang Re.. Sam cuma mau ambil charger.. ketinggalan..” sahut Boy sambil tertawa.


Boy turun dari mobil ketika Sam melemparkan kode supaya meninggalkan mereka berdua.


Boy masuk ke dalam. Dia tersenyum sangat lebar kepada resepsionis di sana. Boy memang sangat senang jika melihat wanita cantik. Dia tidak akan pergi sebelum mendapatkan nomer telepon mereka.


Kini tinggal Sam dan Rea. Rea tetap diam antara kesal dan malu.


“Ini mobil Boy.” Jelas Sam. “Besok kalau sudah sembuh aku akan kembali pakai motor.”


“Terus kenapa?” tanya Rea ketus.


“Maaf kalau ini bikin kamu ga nyaman.”


“Ya udah..makanya jangan sering ke sini.”


Sam merasakan nada yang berbeda dengan kemarin malam. Mungkin Rea kesal karena permintaannya yang aneh. Padahal Sam hanya ingin mengorek informasi tentang Alden dari Rea. Jika Rea tidak mau, Sam akan gunakan cara lain.


“Ada masalah di kerjaan?” tebak Sam.


“Aku di marahin Valen dan dia ngira itu kita pacaran.”


“Bagus dong..” jawab Sam santai.


“Apaan sih.. Kamu harusnya deketin dia, bukan aku."


Percakapan mereka terputus karena Boy sudah kembali ke mobil.


“Oke, kita lanjut aja di wa.. dan mungkin sementara aku ga akan ke sini dulu.”Sam menutup pintu mobilnya, tanpa memandang Rea.


Boy kembali melambaikan tangan untuk mengucapkan salam perpisahan. Rea hanya memandang kepergian keduanya. Dia sedikit menyesal sudah bilang seperti itu sama Sam. Rea kembali masuk ke dalam. Dan setelah Rea masuk, Alden yang sejak tadi tidak jauh di situ, tepatnya di parkiran motor, sedang mengamati mereka.


*


*


*


Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Rea tampak gelisah di kamarnya. Lagi-lagi dia tidak bisa tidur dan sejak tadi hanya mengubah posisinya miring ke kanan, miring ke kiri.


Rea lalu mengambil ponselnya dan mencari nama Sam. Sejak tadi siang perasaannya sungguh tidak enak. Sam berubah sangat dingin. Rea mencoba mengetik sesuatu, tapi dia hapus kembali.


“Masa cewe yang wa duluan sih.., tapiii...”


Setelah mempertimbangkan setengah matang, Rea nekat untuk mengirim wa ke Sam.


‘Udah tidur? Sorry ya tadi... aku lagi kesal aja sama Valen.’


Tidak lama kemudian, wa Rea menjadi centang biru. Artinya, Sam sudah membacanya.


“Kenapa Valen marahin kamu?”


‘Ada langganan komplain. Katanya aku salah kasih treatment. Padahal sudah aku cek.’


‘Siapa nama customernya?’


‘Bu Hera.’


Tidak ada balasan lagi. Halaman Sam yang awalnya online, sudah kembali tidak online. Rea meletakan ponselnya. Setidaknya dia sudah minta maaf.


Ponsel Rea kembali berbunyi. Rea dengan cepat mengambil dan membuka pesannya.


‘Re.. kita perlu bicara lagi.'


Ternyata Alden.


Rea hampir tidak berminat saat mengetahui yang chat adalah Alden.


‘Apa lagi si Den,, ngomong aja sekarang.’


‘Soal Sam..ada yang ingin aku ceritakan.'


‘Oke, mau ketemu di mana?’


'Besok pagi di kantor.'