When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Ending



Hari yang di tunggu Sam dan Rea akhirnya datang juga. Sam mengosongkan semua jadwal hari ini supaya tidak ada gangguan. Tapi, apa daya, semua orang menginginkan penanganan dari dokter terbaik dari rumah sakit Husada. Sam harus mengoperasi orang di saat istrinya sendiri akan melakukan operasi caesar.


Sam terburu-buru pergi ke ruangan Rea. Dia takut kalau Rea akan mengomel karena Sam lebih mementingkan pekerjaan daripada dirinya.


"Sayang, maaf... aku terlambat." ucap Sam yang langsung memegang tangan Rea.


"Hey, lepas." Boy yang baru saja datang, melepaskan tangan Sam.


"Kamu ngapain di kamar Rea, Boy." protes Sam.


"Kamu salah kamar. Ini kamar istri ku." Boy menekan kata istri supaya Sam sadar.


Marsha menengok sambil cekikikan. Sejak tadi dia sengaja melengos ke arah lain supaya Sam tidak tahu kalau dirinya bukan Rea.


"Kalian.. kenapa operasi hari ini juga?" tanya Sam bingung.


"Karena kami sudah sepakat untuk caesar hari ini." jawab Boy santai.


Kata-kata Rea beberapa bulan lalu menjadi kenyataan. Mereka akan melahirkan di hari yang sama. Dan sialnya, Sam malah salah masuk kamar.


"Cepat temui istri mu. Dia seperti nya marah besar." bisik Boy. Ya, Boy juga salah masuk ke kamar Rea karena dia terburu-buru.


Tanpa buang waktu, Sam langsung berpindah ke ruang sebelah. Di ruang itu, Sam melihat Rea yang tampak resah. Dia takut karena sebentar lagi akan menjalani operasi caesar.


"Sayang, aku datang.." ucap Sam sambil membelai rambut Rea.


"Sam, aku takut.." Rea melingkarkan tangannya pada lengan Sam.


"Aku akan temani sampai kamu sadar." Sam mencoba menenangkan Rea. Padahal jantung Sam sudah berdetak tidak karuan. Di satu sisi, Dia tidak sabar karena sebentar lagi anak mereka akan lahir, tapi di sisi lain, dia takut karena tekanan darah Rea cukup tinggi.


"Ayo, kita ke ruang operasi." Dokter datang dengan membawa beberapa perawat.


Sam mengangguk. Dia berjalan di samping Rea.


Lagi-lagi Sam bertemu dengan Pasangan Boy-Marsha yang akan melakukan operasi juga.


"Sam, mereka juga akan lahiran hari ini?" tanya Rea bingung.


"Ya,, kita akan lihat, anak siapa yang lebih tampan."


"Ish, yang penting anak kita lahir dengan selamat dan sehat." omel Rea.


"Iya.. iya.." "Sudah, jangan banyak bicara lagi."


Sesuai janji Sam, Sam masuk menemani Rea melakukan operasi. Dia duduk dan menggenggam tangan Rea sembari menunggu obat bius nya bekerja.


"Sayang, kita lupa belum mencari nama untuk anak kita." kata Sam tanpa mengalihkan pandangan dari Rea yang tampak pucat.


"Aku ingin nama yang berawalan dengan huruf R."


"Bagaimana dengan Reynald?" tanya Sam yang bingung memberi nama anaknya.


"No, Sam. Tolong cari yang unik."


Dokter memberi kode jika operasi akan dilakukan. Sam berhenti berbicara. Dia membantu dokter untuk mengikat tangan Rea. Rea pun sudah lemas dan tidak bisa menjawab Sam lagi.


"Sabar ya sayang.." Sam mengecup dahi Rea sambil tersenyum.


Operasi caesar itu berjalan dengan cukup tegang. Para dokter dan perawat tidak dapat melakukan kesalahan karena mereka sedang di awasi oleh Suami sekaligus pemilik rumah sakit ini.


Rea dapat merasakan sesuatu keluar dari dalam perutnya. Tangisan bayi pun mulai terdengar.


"Selamat, Dokter.."


Sam tidak menjawab. Dia terlalu takjub dengan bayi merah yang sedang menangis itu.


Dokter membawa bayi Sam kepada Rea, supaya Rea dapat melihat.


Rea menangis bahagia karena sekarang dia telah menjadi seorang ibu.


"Kami bersihkan dulu, Dok." pamit perawat yang memegang bayi Sam-Rea.


Sam mengangguk. Dia kembali duduk di sebelah Rea. "Terimakasih sayang.." Sam mencium Rea sekali lagi.


"Renzo." ucap Rea lemah.


"Apa?" tanya Sam yang kurang jelas.


"Ren-zo." ulang Rea.


"Ooh.. nama anaknya.." Sam merasa otaknya semakin lemot karena proses menegangkan ini. "Renzo Sebastian. Nama yang bagus." Sam setuju dengan ide dadakan Rea.


*


*


*


Beberapa jam setelah operasi, Rea sudah bisa duduk. Ini adalah keuntungan punya suami Sultan yang juga seorang dokter. Sam menggunakan metode yang paling bagus dan mahal untuk operasi caesar Rea. Rea juga bisa memberikan ASI untuk Baby Renzo yang sekarang ada dalam gendongannya.


"Suster, apakah Sam masih lama?" tanya Rea pada suster yang berdiri di dekatnya sejak tadi.


"Mungkin satu jam lagi." jawab suster dengan ragu-ragu. Dia sebenarnya tidak enak pada Rea yang selalu saja ditinggal oleh Sam karena panggilan yang mendadak.


Ya, Sam keluar lagi karena ada pasien kecelakaan yang membutuhkan operasi besar.


"Sabar ya Nyonya.. Dokter Sam memang sibuk." suster mencoba menghibur Rea.


Rea melemparkan senyum pada suster itu. Dia sudah biasa menghadapi situasi seperti ini. Entah berapa ratus kali Sam meninggalkan dia sendirian meskipun Rea sangat membutuhkan Sam. Ini adalah resiko yang Rea dapatkan ketika jatuh cinta pada seorang dokter. Tapi meskipun begitu, Rea tidak menyesal pada pilihannya. Dia bersyukur karena memiliki seorang Samuel Sebastian. Dan kebahagiaannya makin lengkap karena kehadiran Baby Renzo.


------------The end--------------


Terimakasih untuk yang sudah like, coment dan subscribe.. Nantikan karya-karya Author berikutnya ya...


(Intermezzo dikit..)


'Tok.. Tok..'


Rea menengok ke arah pintu. Dia cukup terkejut melihat 2 orang yang datang bersama dengan bayi mereka. Sudah cukup lama Rea tidak bertemu dengan orang yang kini sudah berada di dekatnya.


"Alden.. Valen.. kalian ke mana saja?"


"Ceritanya panjang, Re." "Selamat ya Re atas kelahiran anak mu." Valen tersenyum ke arah Rea dengan tulus.


"Siapa nama anak kamu?" tanya Alden penasaran.


"Namanya Renzo Sebastian." "Kalau anak kalian?" Rea beralih pada bayi perempuan berumur 1 tahun yang ada dalam gendongan Valen.


"Namanya Alana." kata Alden sambil menatap anaknya dengan penuh kasih sayang. Alden memilih nama Alana yang berarti prempuan cantik yang berani. Dia berharap suatu hari nanti dia bisa menjadi perempuan yang berani seperti halnya Dia dan Valen.


(Cerita Alden Valen akan di teruskan di judul lain yaaa...)