
Rumah Sakit Husada
Bau khas rumah sakit selalu membuat Sam sedikit pusing. Sejak kecil dia selalu mencium bau yang sama, karena sebagian besar hidupnya selalu berhadapan dengan dokter dan perawat.
Setelah menyelesaikan spesialis bedah jantung, Sam baru bisa bebas dari bau obat-obatan rumah sakit.
Rumah sakit ini sudah jauh berbeda sejak terkahir kali Sam menginjak kan kaki di sini. Sudah 13 tahun, Sam tidak muncul di rumah sakit milik keluarga Sebastian ini. Tapi, itu tetap tidak berpengaruh pada karyawan di sini. Begitu melihat Sam, mereka langsung menyapa dengan ramah sambil sedikit membungkukan badan.
“Anda kenapa pak?” Tanya salah satu resepsionis yang menjaga di situ.
“Ruang praktek Dr.Ben kosong?” Kata Sam tanpa mempedulikan karyawannya.
“I,,iya..” jawabnya tergagap. Sam memang ramah, tapi di waktu tertentu, dia bisa punya aura sadis juga. Kalau Sam sudah tidak menghiraukan mereka itu artinya dilarang ikut campur.
Sam melanjutkan berjalan sambil terpincang menuju ke ruangan ayahnya. Di sana ruangan paling komplit dan juga paling besar. Dia bisa lebih nyaman untuk mengobati lukanya.
Sam masuk dengan mudah. Dia menyiapkan semua peralatan, mencuci tangannya, lalu duduk di kasur pasien. Sam memotong celananya sampai ke bawah lutut dengan gunting. Dia mengambil kapas dan alkohol untuk mensterilkan lukanya. Setelah memastikan tidak ada pecahan kaca yang tertinggal, Sam mulai melakukan ritual untuk menjahit kaki nya sendiri.
“Luar biasa Sam, kamu jait luka mu sendiri..” gumamnya pada diri sendiri.
Sam mencoba berkonsentrasi, tapi pikirannya masih pada peristiwa yang baru saja dia alami.
“Sam.” Suara berat itu reflek membuat jarum yang dia pegang terlepas. Laki-laki paruh baya yang sudah beruban itu melihat Sam dengan wajah terkejut. Dia segera menghampiri Sam, lalu mengambil benang yang masih ada di tangan kanan Sam.
“Kenapa bisa luka?”
Sam terdiam. Dia menatap lekat pria itu dengan penuh tanda tanya. Pria itu berbalik, mencuci tangan, menggunakan sarung, mengambil jarum dan benang baru.
“Ini tinggal di jahit kan?”
Sam mengangguk. “Tadi kena pecahan kaca.” Jawab Sam akhirnya.
Giliran pria itu tidak menjawab. Dia sibuk menjahit luka Sam dengan seksama. Tidak perlu waktu lama, pria itu selesai dengan jahitan yang begitu rapih.
“Thank You Dad..”
Ya, pria paruh baya itu adalah pemilik dari ruangan ini. Profesor Benjamin Sebastian alias ayah Sam. Dia begitu tampan di usianya yang menginjak 60 tahun. Wajahnya, cara bicaranya dan gayanya sangat berwibawa. Sam mengakui kalau ayahnya itu pria yang hebat dalam menjalankan tugasnya sebagai dokter dan juga dalam bisnis rumah sakitnya ini. Terbukti rumah sakit yang di miliki Ben bisa bertambah setiap tahun baik di dalam maupun luar negeri. Tapi, untuk urusan keluarga, Ben tampak kesulitan menghadapi kedua anaknya.
“Pasti Alden kan?” Kata Ben sambil menatap dalam anaknya itu.
“Hmm..”
“Alden harusnya belajar dari kamu. Tapi, ya sudah lah.. Dad sudah coba segala cara dan hasilnya tetap nihil.” Ben menghela nafas panjang.
“Sam kasih dia atm. Entah berapa lama akan habis lagi.”
Ben mengangguk. Dia sudah banyak pikiran, dan memang Sam sudah berjanji akan merawat Alden dan membantunya mengurus Alden. Dia tau Sam sudah dewasa dan bisa mengatur semuanya.
“Dad,, Dad selalu ajarin Sam untuk tidak bohong kan?” “Alasan Alden pergi itu bukan karena dia selalu habisin uang Dad kan?” Tanya Sam menyelidik.
Raut wajah Ben berubah. Dia melepaskan kacamatanya. Meskipun begitu Sam tidak bisa membaca apa yang ada di dalam pikirannya.
“Memang ada alasan lain. Tapi, Dad belum bisa cerita itu. Dad janji akan jelasin semuanya nanti. Kalau kalian sudah kembali ke rumah.”
Ben membuang sarung tangannya ke tempat sampah setelah selesai mengobati anaknya. Sudah 13 tahun berlalu, dan sejak Sam kembali ke Indonesia, ini adalah pertemuan pertama mereka. Pertemuan yang di buka dengan percakapan yang tidak wajar. Ben memang tidak pernah melarang Sam melakukan sesuatu, tapi karena kelonggarannya, sekarang Sam malah tidak mau pulang dan mangkir dari tugas dokternya.
“Kapan kamu kembali ke rumah? Kasihan Boy pasti privasinya terganggu.”
“Dad,, Boy justru senang Sam di sana.” Meskipun Sam lebih sedikit dominan, tapi kenyataannya Boy memang senang kalau Sam di sana. Boy anak tunggal, jadi hidupnya flat membosankan karena tidak ada teman berantem.
“Oke, kalau memang mau tinggal di sana dulu.. tapi... kerja lah di sini. Dad sudah kasih ruangan khusus untuk kamu praktek.” Tawar Ben.
Sam menelan ludahnya. Dia tau kalau ayahnya sangat ingin kalau Sam menggantikan dia mengurus rumah sakit dan sekaligus menjadi dokter spesialis di sini.
“Thank you Dad.. Sam pikirin dulu.”
Ben menatap anaknya yang pucat itu dengan penuh harap. Sejak kecil Sam sangat penurut. Dia bisa menangkap perkataan orang dengan baik bahkan semua yang Ben ajarkan, bisa Sam lakukan. Sebenarnya, melihat Sam di sini saja, Ben sangat senang. Dia pikir Sam tidak akan mau kembali ke Indonesia karena hubungannya dengan Alden yang kurang baik.
“Kamu mau istirahat di sini? Atau mau kembali ke tempat Boy?”
“Sebentar lagi Boy datang jemput Sam. Dad gak perlu khawatir.” Sam mencoba tersenyum.
Kepalanya sekarang sakit. Mungkin ini efek dari perkataan Alden dan juga Ben yang ingin Sam kembali ke jalur yang benar, yaitu menjadi dokter.
“Okay.. Dad harus pergi karena ada jadwal operasi.” Ben menepuk pundak Sam sambil berlalu.
“Saaaaaam...my bestie..” Boy menyeruak masuk ketika Ben membuka pintu.
Ben tidak sempat untuk protes karena dia harus menangani pasiennya. Dia memilih membiarkan anak tidak tau aturan itu masuk menemui Sam.
“Astaga... lo sampe seperti ini.. pasti sakit ya?” Ocehnya begitu melihat perban yang melilit kaki Sam.
“Biasa aja Boy..” jawab Sam tanpa semangat.
“Gila tuh si Alden... hampir aja gue kasih dia bogem mentah. Lagian lo ga bales aja tuh si biang kerok.”
Sam menggeleng pelan. Dia bukannya tidak berani pada Alden. Meskipun badan Alden lebih kekar dan berotot, Sam hanya tidak ingin melukai perasaan Ben. Ben dan Mom nya bilang untuk menjaga Alden dan mencoba memahami Alden yang notabene adalah anak angkat.
“Kamu aja yang balas dia. Kalau menang aku kasih uang 1 miliar.” Jawab Sam asal.
“Gila lo. Bisa masuk RS gue.” Boy bergidik ngeri. Tawaran Sam tidak sebanding dengan biaya rumah sakit. Alden bahkan mungkin bisa mencekiknya dengan satu tangan.
“Aku mau pulang.. cepet kita pergi..” Sam menarik tangan Boy untuk mendekat. Dia butuh penyangga karena saat ini kakinya masih sakit. Boy dengan sigap membantu sohibnya yang sudah seperti mayat hidup.
"Tadi kamu antar Rea?" tanya Sam yang kembali teringat dengan Rea. Dia sebenarnya bukan marah pada Rea, tapi dia kesal ketika Rea memuji Alden padahal Alden sudah memeras Rea dan melukainya. Entah apa lagi yang Alden lakukan pada wanita itu selama pacaran, tapi yang jelas Sam tidak rela jika wanita sebaik Rea harus terluka karena Alden.
"Dia pulang sendiri. Dia gak mau naik Ferrari gue." ucap Boy sedih.
"Bukan, itu karena dia takut sama lo."
"Astaga, aku itu pria ter so sweet sejagad raya." Boy membela dirinya dengan bangga.
"Sudahlah, Rea biar aku yang jaga."
"Wah, ceritanya bakalan seru nih.." Boy penasaran juga apakah Sam ingin membantu Rea untuk jauh dari Alden, atau nantinya dia akan menyukai mantan adiknya itu.