
3 hari setelah Sam pergi, Rea merasakan kehampaan yang teramat sangat dalam hidupnya.
Perbedaan jam antara Indonesia dan California membuat komunikasi mereka sedikit terhambat.
"Pagi-pagi udah kayak benang kusut aja,lo." sapa Gadis yang baru saja datang.
"Yang kusut ini kisah cinta gue." balas Rea kesal.
"Yaelah, kenapa lagi sih?"
"Sam pergi ke America."
"Hah? Terus lo gimana? lo putus sama dia?" Gadis memberikan reaksi yang berlebihan seperti biasa. Tapi, siapapun yang mendengar Rea juga akan terkejut, karena baru kemarin Sam pergi ke klinik menjemput Rea untuk kondangan.
Rea menggeleng.
"Oh, ya sudah Re.. aman kalau itu.." ucap Gadis yang mulai santai.
Rea tersenyum kecut mendengar jawaban Gadis. LDR pasti akan sulit karena Rea selalu merindukan pelukan dari Sam, juga bau parfumnya.
Ponsel Rea tiba-tiba berdering, memecahkan lamunannya akan Sam.
"Wah, kan.. si bucin telepon.." Gadis mengintip siapa yang menelepon Rea, ternyata orang yang baru saja mereka bicarakan.
Rea segera mengangkat telepon yang dia tunggu sejak tadi.
"Halo, sayang.." Sapa Rea senang.
"Re.. apakah sudah sampai kantor?"
"Sudah, tadi diantar Boy."
"Bagus. Aku sudah kirim kamu sarapan, pasti kamu belum makan pagi."
Pintu klinik terbuka. Alden muncul dengan membawa sebuah bungkusan di tangannya. Rea terperangah melihat kedatangan Alden.
"Pagi, Re.." sapa Alden ramah.
"Oh, pagi Den." balas Rea dengan canggung. Rea sampai lupa kalau dia masih terhubung dengan Sam.
"Apakah Valen ada di dalam?"
"Iya, Valen ada di dalam." "Kamu sudah sehat?"
"Ya.." "Aku masuk dulu."
Alden berlalu dari Rea dan Rea kembali tersadar pada ponselnya yang masih dalam mode panggilan.
"Apa itu Alden?" tanya Sam yang mendengarkan percakapan mereka.
"Ya, tapi tenang saja. Dia mencari Valen, bukan mencari aku." Rea menenangkan Sam supaya dia tidak khawatir atau marah.
"Tidak apa-apa, Re. Kalau mantan bukan berarti tidak berteman kan?"
"Ya,, tapi...."
"Aku masih ada kerjaan, kamu makan yang banyak ya sayang.." potong Sam.
Telepon terputus. Inilah yang Rea takutkan. Sam bukan hanya sedang jalan-jalan di America. Dia sedang bekerja. Jika di Indo saja dia sudah sibuk, bagaimana di sana? Sudah pasti mereka akan jarang komunikasi.
*
*
*
"Kamu ke sini hanya mau kasih ini saja?" tanya Valen heran.
"Untuk berterima kasih tentunya. Kalau tidak ada kamu, aku bisa mati."
Valen tersenyum kecil. Dia sebenarnya tidak punya niat untuk membantu Alden. Itu semua hanya kebetulan. Kebetulan Valen melihat Rea pergi naik ojek ke rumah Alden. Valen membuntutinya, lalu dia melapor ke Sam. Ya, tujuan Valen untuk memberitahu Sam saja. Tapi, karena rasa kemanusiaan Valen, dia malah merawat Alden, bahkan membawanya ke dokter.
"Apa Sam mengatakan sesuatu pada mu?" tanya Alden penasaran.
"Maksudnya?"
"Emm.. dia pergi ke America."
Valen terkejut. Dia yang tadinya bersandar, kemudian memperbaiki posisi duduknya dengan badan yang lebih mendekat pada Alden.
"Kamu serius?"
Alden mengangguk.
"Bagus dong.. kamu bisa dekati Rea lagi." Valen tertawa senang. Tapi dia terpaksa menghentikan tawanya karena Alden tampak memberikan reaksi yang berbeda. Pria itu malah diam dan melamun.
"Oh iya, dokter Lukas cerita apa saja?" Alden mengubah topik pembicaraan. Dia teringat akan dokter yang memeriksanya. Dokter itu adalah teman Ben Sebastian.
"Dia tidak cerita apapun. Kenapa?" Valen balik bertanya karena Alden cukup aneh hari ini.
Dan pada kenyataan nya Valen memang tidak mendapatkan informasi apapun dadi Dokter Lukas. Dia bahkan sudah mendesaknya dengan berbagai cara, tapi dokter itu tetap bungkam.
"Tidak apa-apa."
"Kalau begitu, temani aku makan." Valen menahan Alden yang sudah berdiri.
Alden kembali duduk. Valen mengambil sebuah gelas, dan membagi kopi nya sama rata. Dia juga memaksa Alden untuk memakan croisantnya.
"Thanks, Val." Alden tersenyum.
Valen baru pertama kali melihat pria ini tersenyum. Dia menyesap kopi nya tanpa mengalihkan pandangan dari Alden. Alden sebenarnya mempunyai wajah yang tampan, hanya dia jarang memperlihatkan senyumnya.
"Kopi nya enak." kata Valen yang langsung menghabiskan minuman dari Alden.
Alden tertawa kecil. "Kita ini sungguh lucu."
"Kenapa?"
"Sebenarnya nasib kita itu sama. Kita sama-sama iri dengan Sam dan Rea. Kamu iri karena Rea bisa mendapatkan Sam, sedangkan aku iri pada Sam yang bisa mendapatkan semuanya." Alden mulai memakan croisantnya.
Valen tidak menjawab. Perkataan Alden itu ada benarnya. Dia memang iri pada Rea. Bahkan sikap nya pada Rea juga berubah. Sekarang Valen lebih sering memarahi Rea, padahal dulu mereka cukup dekat. Valen mengakui jika Rea anak yang rajin dan menyenangkan.
"Kamu tahu, Val. Ketika Sam pergi, aku justru merasa bersalah." lanjut Alden.
Valen melipat tangannya. Dia mencoba memahami setiap perkataan Alden. Dia tidak tahu keseluruhan cerita antara Sam dan Alden, tapi Valen bisa sedikit menyimpulkan sekarang.
"Den, sepertinya kamu tidak benar-benar membenci Sam." ucap Valen akhirnya.
"Maksudnya?"
"Ya.. kamu itu sebenarnya sayang sama Sam."
Alden terdiam cukup lama. Dia memang iri pada Sam, tapi bukan hal ini yang Alden inginkan. Sam menyerah begitu saja.
"Bereskan masalah mu dengan mereka, Den. Apakah kamu pernah tanya alasan kenapa mereka melakukan itu? Aku rasa kalian hanya kurang berkomunikasi." kata Valen to the point. Dia bisa lebih bebas untuk mengomentari Alden karena dia tidak ada hubungan apapun dengan Alden. Berbeda dengan Rea. Rea tidak akan bisa memilih salah satunya karena mereka bertiga terlibat dalam cinta segitiga.
"Semoga masalah mu dan Sam cepat beres."