When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Rea mantan Alden



Cafe Brew terdiri dari 2 lantai. Bagian bawah khusus untuk non smoking sedangkan di atas adalah tempat untuk smoking. Tempat di atas jauh lebih ramai dan Sam memang tidak merokok, jadi Dia memilih tempat di bawah.


Sam datang bersama Boy. Sohib Sam itu selalu saja menarik perhatian. Setelah kemarin mengecat rambut nya dengan warna blonde, hari ini Boy mengecat rambutnya dengan warna hijau abu. Penampilan Boy itu sukses membuat semua mata memandang ke arahnya.


“Harusnya kamu cat rambut kamu pake warna pink.” Omel Sam. Dia malas sekali kalau pergi dengan sohibnya satu ini karena dia terlalu menarik perhatian.


“Daripada lo. Udah macam anak sejarah.Mana ada cewe yang mau sama lo.” Balasnya.


“Justru aku carinya yang tulus, Boy.”


Boy terkekeh melihat temannya. Sam sebenarnya orang yang penuh karisma. Kalau dia sudah memakai jas, semua wanita pasti tidak akan memalingkan pandangannya dari Sam. Sayang, Sam sejak dulu tidak ingin identitasnya terbongkar. Dia mati-matian menyembunyikan perihal orang tuanya.


“Oh iya, gimana Rea? Lo udah dapet info tentang hubungannya sama Alden?”


“Belum..” Sam menengok jam tangan nya.


Sudah jam 9 lewat dan Rea belum muncul juga.


“Santai lah.. nanti juga dateng kok..” Boy mulai membuka laptopnya. Dia harus menyelesaikan pekerjaannya malam ini. Dan Boy sudah berjanji untuk tidak ikut campur ketika Rea nanti datang, jadi dia memilih untuk meneruskan pekerjaannya.


Tidak lama, Rea masuk. Dia terlihat menengok kanan kiri, sampai akhirnya menemukan Sam sedang memandang keluar jendela.


“Sorry.. tadi ada briefing..” Rea duduk di bangku yang kosong. Dia tidak lupa tersenyum pada Boy.


“Hai,, Aku Boy.. Bos Sam.” Boy mengulurkan tangannya dan segera di sambut oleh Rea.


“Rea..”


“Sorry aku ajak Boy..”


“Gak apa-apa.. kenapa mau ketemu di sini?”


Sam melipat tangannya dan menaruhnya di meja. Dia melepaskan kacamatanya, lalu memasang wajah serius.


“Soal Alden..”


Rea mendengarkan dengan cermat. Dia sangat ingin tau hubungan Sam dengan Alden. Bagaimana Alden bisa sampai memukul Sam?


Tapi Sam justru terdiam. Dia tidak tau harus memulai ini dari mana. Boy menengok dan hanya mengehela nafas panjang. Sam memang tidak suka kehidupan pribadinya di ketahui banyak orang. Jadi mungkin Sam bingung menjelaskan soal Alden pada Rea.


“Hubungan lo sama Alden itu apa?” Tanya Boy tiba-tiba.


“Emang kenapa?” Rea balik bertanya.


“Udah jawab aja,, nanti gue kasih tau hubungan Sam sama Alden.”


Rea tampak berpikir dengan negosiasi yang diberikan Boy.


Ketiga nya sempat diam beberapa saat sampai Sam berdehem.


“Oke,, Alden itu mantan gue.” Jelas Rea bangga. Dia sampai lupa kalau pria yang lebih muda usianya 5 tahun itu suka meminjam uangnya dengan paksa.


“Astagaaa...”teriak Boy.


Sebagian pengunjung cafe sampai menengok ke arah mereka karena teriakan Boy.


Berbeda dengan reaksi Sam. Dia terlihat diam tanpa ekspresi. Tapi saat ini sebenarnya Sam sedang mencerna perkataan dari Rea.


“Lo ga salah pilih? Lo udah di apain aja sama dia?”


Sam meninju ulu hati Boy, tanda dia untuk diam.


Boy sudah terlalu banyak bicara.


‘Sial, gue bantuin malah apes.. awas aja besok gue potong gaji lo.’ Batin Boy sambil memegangi perutnya.


“Alden itu adik aku.” Suara Sam membuat Rea menengok ke arahnya. Dia sampai menutup mulutnya dengan tangan karena shock. Dia melihat dari segi manapun, Sam dan Alden tidak ada miripnya.


Sam berhenti lagi. Dia ragu untuk melanjutkan kata-katanya selanjutnya. Dia hanya menggenggam gelasnya dengan erat dan memandang tajam ke depan. Jarang sekali seorang Sam memperlihatkan emosinya.


“Intinya, Anda lebih baik menghindari Alden.” Boy melanjutkan apa yang tidak bisa Sam ucapkan.


“Maksudnya?”


“Aku rasa aku tidak perlu ceritakan tentang apa yang Alden lakukan, tapi bagaimana kalau kita bekerja sama?” Tawar Sam.


“Aku ga ngerti Sam.. dan Alden ga seperti itu..dia orang yang baik.” akhirnya Rea menjawab. Sejak pacaran dengan Alden, Alden orang yang baik. Dia menjemput dan mengantar Rea pulang. Selalu menyapa ibu Rea dengan ramah, bahkan dia melihat Alden bermain dengan anak kecil. Memang, pada akhirnya Alden selalu memalak Rea, tapi Rea selalu kasihan kepadanya karena Alden tidak punya pekerjaan.


“Aku hidup sama dia selama 15 tahun.. “


“Terus? Apa masalahnya?”


Ehem.


Boy terpaksa memutus percakapan mereka bersamaan dengan pelayan yang datang membawa minuman.


Sam bangkit dari kursinya dan pergi begitu saja.


Rea merasakan hawa dingin yang menusuk ketika Sam melewati dia.


“Sorry,, Rea.. Sam selalu emosi kalau bicara soal Alden.” Kata Boy menenangkan.


Rea mengangguk tanpa tersenyum. Kepala Rea tiba-tiba sakit ketika memikirkan Alden, Sam dan yang lainnya.


“Minum lah,, nanti gue anter lo ke rumah..”


“Ga usah,, kan kita ga kenal,, nanti kalau lo culik gue gimana?” Ucap Rea sembarangan.


Boy memilih diam sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia baru pernah melihat wanita seperti Rea. Biasanya, cewe-cewe yang akan meminta tumpangan padanya.


“Sepertinya aku harus beli rolls royce.”Gumamnya.


“Apa?”


“Enggak..enggak.. Silakan minum.. ini enak lho.. spesial lho buat lo.” Boy tersenyum kecut.


Boy baru pertama kali bertemu dengan wanita aneh seperti Rea. Baru tadi Rea terlihat bingung karena Sam tiba-tiba emosi, tapi sekarang Rea tampak menikmati minuman nya tanpa mempedulikan Sam yang sudah pergi.


“Kerjasama apa si maksud Sam?” Tanya Rea penasaran.


“Lo ga ngerti?”


Rea menggeleng. Mengetahui fakta bahwa Sam dan Alden adalah kakak adik saja dia masih bingung dan tidak yakin.


“Ya sama..” jawab Boy polos. Dan ucapan Boy sukses membuat Rea menyemburkan minuman di mulutnya karena ingin tertawa.


“Laptop gueeee...” Boy segera mengambil sekotak tisu di meja, mengeluarkannya paksa, lalu mengelap air yang menggenang di laptopnya.


Dia tidak percaya dengan wanita di depannya. Wajah dan kelakuannya sungguh menyedihkan. Pantas saja Alden bisa menyukai Rea. Alden juga sama Bar-barnya dengan Rea.


“Sorry..sorry.. nanti gue ganti deh..” ucap Rea menyesal. Dia membantu Boy untuk mengelap laptopnya.


“Bayar pakai gaji 2 bulan aja belum kebeli ini..” omel Boy.. dia segera memindahkan data-data dengan memori eksternal yang dia bawa sebelum laptopnya mati.


Setelah keadaanya sudah stabil, dan semua bisa diatasi, Boy baru bisa memandang Rea.


“Ini gue maafin, tapi Lo harus bantu Sam,, ikutin aja apa yang dia mau.. Sam sudah terlalu bersabar sama Alden.”


"Tapi.." Rea tidak melanjutkan kata-katanya karena dia tidak tau juga apa yang harus dia lakukan.


Kenapa jadi rumit seperti ini? Apa yang diinginkan oleh Sam?