When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Berdamai dengan Sam dan Rea



Setelah pertemuan yang emosional itu, Alden berjalan tidak tentu arah. Pikirannya melayang ke mana-mana. Dia juga tidak bersemangat untuk makan atau bahkan kerja.


"Sekarang, terserah pada mu. Sam sudah pergi, dan dia meninggalkan Rea, itu juga demi kamu."


Alden mengingat kembali perkataan terakhir ayahnya. Sam sudah mengalah selama 13 tahun tinggal di America. Dan sekarang dia pergi lagi untuk merelakan Rea.


Alden mengambil ponselnya, dan dia menelepon Sam.


"Halo,," Ucap Sam dengan suara parau. Alden lupa jika di California saat ini sudah jam 3 pagi.


"Apa kabar mu?" tanya Alden kaku. Tentu saja kaku karena Alden tidak pernah menelepon Sam lebih dulu seumur hidupnya.


Sam terdiam cukup lama. Entah dia tertidur atau karena dia bertanya-tanya dalam hati.


"Baik. Bagaimana di sana?"


"Sam, aku menerima permintaan maaf mu." ucap Alden cepat.


"Apa kamu mabuk?" tanya Sam dengan nada curiga.


"Mana ada orang mabuk siang-siang. Di sini jam 12."


"Lalu?"


Alden mendengus kesal karena Sam tidak mengerti maksud ucapannya tadi.


"Sudah lah.. kamu pikir saja sendiri."


"Oke. Bagaimana dengan Rea? Apa kamu sudah mendekatinya lagi?"


"Ya, rencananya begitu." "Apa kamu marah?"


Sam terdiam lagi. Kali ini begitu lama. Alden sampai tidak sabar menunggu dan akhirnya dia menyimpulkan jika Sam ketiduran.


Alden lalu beralih untuk menelepon Rea.


"Re, bisa kita bertemu?"


*


*


*


Cafe Brew adalah cafe bersejarah bagi Rea karena setiap ada masalah, Sam dan Alden meminta Rea untuk pergi ke cafe ini.


Rea sudah menunggu 5 menit, tapi Alden tidak kunjung bicara. Dia hanya menikmati es krimnya, tanpa mempedulikan atau setidaknya menawari Rea.


"Aku tidak punya waktu untuk melihatmu makan es krim." kata Rea ketus.


Alden meletakkan gelas es krimnya, lalu mengelap sudut bibirnya dengan tisu. Dia butuh sesuatu yang manis untuk memperbaiki mood karena banyaknya kejadian hari ini.


"Ada yang ingin aku tanyakan tentang Sam."


"Kalian ribut lagi?" tebak Rea.


"No, Re." "Apa yang dia bilang sebelum dia pergi ke America?"


Rea bernafas lega karena ternyata Alden dan Sam tidak bertengkar lagi.


"Dia mengurus kerjaan di America. Kenapa tanya itu?"


"Dan, kamu percaya?"


"Tidak, apa-apa. Sebenarnya, aku sudah berbaikan dengan Dad." kata Alden kemudian.


"Serius???"


Alden mengangguk pelan. "Dad sudah jelaskan semuanya."


"Lalu, bagaimana kamu dengan Sam?" tanya Rea penasaran.


Alden mengangkat bahunya. Jujur, Alden masih merasa ada ganjalan dengan Sam. Khususnya mengenai Rea. Di satu sisi, Alden menginginkan Rea, tapi di sisi lain, Alden tahu jika Sam sangat menyukai Rea. Apakah Alden boleh sekali saja bertindak egois?


"Re, kami sudah menyelesaikan masalah masa lalu kami, tapi tidak dengan masa depan kami."


"Maksudnya?"


Akhirnya Alden menceritakan tentang acara permasalahannya dengan Sam. Dia juga bercerita tentang alasan dibalik kepergian Sam.Alasan utamanya adalah karena Sam ingin Alden untuk bersama Rea lagi.


"Ini gak mungkin, Den." Rea menggeleng tidak percaya karena tindakan Sam justru membuatnya kecewa pada Sam.


Alden meraih tangan Rea. Tangan itu begitu kecil dalam genggaman tangannya.


"Re,, jujur, dulu aku ingin merebut kamu dari Sam." Aku Alden dengan penuh penyesalan. "Tapi, sekarang, aku tidak akan memaksa lagi."


"Den..aku tahu kamu sebenarnya orang yang baik. Aku juga sedih mendengar kisah masa lalu kamu. Tapi, aku tidak bisa memenuhi permintaan Sam." jelas Rea dengan air mata yang sudah hampir jatuh dari pelupuk mata.


"Tidak apa-apa, Re.." "Aku lega karena sudah menceritakan semua ini sama kamu." Alden tersenyum. Dia beranjak dari kursinya karena merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan pada Rea.


"Alden..sekarang, kamu harus bantu supaya Sam kembali ke sini." ucap Rea sebelum Alden pergi.


Perasaan Rea sudah campur aduk sekarang. Entah mengapa, dia merasa Sam tidak akan mau lagi kembali ke Indonesia.


Telepon Rea berdering. Sam calling.. Waktu yang sangat tepat sekali.


Rea menarik nafas dalam, sebelum mengangkat telepon dari kekasihnya itu.


"Halo Re, kenapa lama angkat teleponnya?"


"Tadi baru saja ketemu Alden."


"Oh, baguslah. Alden baik-baik saja kan?"


'Kamu yang tidak baik-baik saja, Sam.' batin Rea.


"Hmm.. kamu bagaimana di sana?" tanya Rea penuh arti.


"Baik. Pekerjaan di sini banyak sekali, maaf kalau aku jarang telepon kamu, sayang." ucap Sam menyesal.


"Bukan itu, bagaimana hatimu?"


Sam terdiam. Alden pasti sudah menyadari jika Sam sudah tahu semuanya. Dan 95% dapat di pastikan, Alden juga sudah menceritakan masa lalunya pada Rea.


"Sam.. kamu tau, pikiran kita itu seperti tumpukan gambar. Kalau kamu selalu tarik gambar yang buruk, gambar itu akan muncul terus, dan otomatis kamu akan mengingatnya. Tapi kalau kamu tarik gambar-gambar baik yang lain, gambar buruk itu lama kelamaan akan berada di bawah dan kamu akan melupakannya." "Jadi tolong Sam, kamu taruh masa lalu kamu dengan Alden di bawah." Rea berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.


"Re, kamu bisa coba dengan Alden sekali lagi."


"Saam.. Aku itu bukan mainan. Aku akan memilih siapa yang aku inginkan." jebol sudah pertahanan Rea. Dia sangat sedih karena Sam malah menyuruhnya untuk bersama Alden.


"Re, kamu menangis?" Sam dapat mendengar suara isak tangis Rea dan Sam tentu merasa bersalah karena itu.


"Kamu bodoh sekali Sam."


"Ya, kamu benar. Aku memang bodoh." "Tapi, tolong kasih aku waktu, Re untuk menaruh semua gambar buruk itu di bawah."