When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
2 pria dalam hidup Rea



BRUK


Valen menabrak seseorang di depan pintu keluar klinik. Dada bidangnya membuat Valen sedikit salah fokus, tapi kemudian dia sadar untuk memarahi pria itu. Pria itu cukup tampan. Dia sangat manly.


“Cari siapa ya mas?”


“Cari Rea.” Jawab nya singkat tanpa menengok ke arah Valen.


“Rea sedang ada kerjaan. Nanti saja kalau sudah selesai.” Kata Valen dengan cukup kesal. Tentu saja kesal, karena pria di depannya ini tidak meminta maaf sama sekali.


“Panggil dia keluar.”


“Maaf ya mas... pertama, anda belum minta maaf karena sudah menabrak saya. Kedua, saya pemilik tempat ini, jadi kalau mau bertemu Rea, anda harus sopan sama saya. Lagian, mas siapanya Rea?” Oceh Valen.


Kini pria itu menatap Valen tajam. Dia meneliti Valen dari atas ke bawah. Melihat perlakuan pria itu, Valen sedikit risih dan merasa ditelanjangi.


“Pertama, anda juga salah karena jalan sambil main hp. Kedua, saya ga peduli anda siapa. Dan juga saya ini mantan Rea.”


“What? Alden?” Valen sedikit shock mendengar jawaban dari pria yang ternyata adalah Alden. Selama ini Valen tidak tau sosok dari pacar Rea. Dia hanya menceritakan soal Alden yang minta uang terus dan membuat dia sering lembur. Valen tidak menyangka karena ternyata mantan Rea itu seperti aktor Korea.


“Tolong kasih ini ke Rea, terima kasih.” Alden memberikan satu kresek berisi obat. Dengan segera, Alden pergi dari tempat itu dan mengacuhkan Valen.


‘Hadeh, emang ga bener tuh mantan si Rea.’ Batin Valen.


*


*


*


Sementara itu di ruang VIP.


Sam terbangun. Dia melihat ke sekitar dan tidak ada siapapun di ruangan. Jam di depannya menunjukan pukul 12. Jadi dia sudah tertidur 1 jam di sini. Sam lalu memakai kacamatanya dan beranjak untuk pergi.


Bisa-bisanya aku tidur.. batinnya dalam hati. Dia sampai lupa bertanya pada Rea soal hubungannya dengan Alden. Ini karena semalaman, Sam tidak bisa tidur memikirkan pertemuannya dengan Alden.


Sam pergi ke kasir dan Dia membayar semua tagihan dengan kartu black cardnya.


“Ehem..” suara itu tidak terlalu asing untuk Sam.


Dia menengok dan mendapati sosok Valen di sampingnya. Tapi berbeda dengan yang lalu, kini Valen tidak terlalu menarik lagi.


“Hai, Val..” ucapnya santai tanpa ekspresi.


“Ngapain ke sini?” Tanya Valen sambil mengibaskan rambutnya. Sekarang Valen bisa bicara lebih santai karena sudah tidak ada beban kata 'Perjodohan'.


“Perawatan aja kok.. sekalian ngobrol sama Rea..”


Valen mengangguk pelan. Dia lega tapi dalam hatinya dia merasakan sedikit kecewa. Karyawannya yang biasa-biasa saja bisa dicari oleh 2 pria dalam satu hari. Buru-buru Valen mengenyahkan pikiran itu. Dia harus ingat bahwa dia yang menginginkan ini.


“Makasih ya mba,,” ucap Sam ramah kepada para resepsionis. Dia lalu keluar tanpa bicara apapun lagi sama Valen.


“Dia ketemu sama Rea?” Tanya nya pada Gadis.


“Iya,, dia minta Rea yang tangani dia.”


“Panggil Rea kalau dia sudah tidak ada customer ya..”


Valen berjalan dengan gontai ke dalam ruangannya. Kursi putarnya tidak seenak dari biasanya. Pak Bram cukup kesal dengan keputusan Valen yang pergi sewaktu bertemu Sam. Ditambah Sam bisa memperbaiki sistem klinik yang sudah di hack. Bram bilang kalau jarang-jarang ada anak muda yang baik, pintar, sopan.


“Ibu cari saya?” Suara Rea membuyarkan lamunan Valen.


“Oh iya,, tadi saya bertemu sama Sam di depan. Katanya dia habis perawatan.”


Rea mengangguk. Dia menatap Valen dengan bingung. Kenapa akhir-akhir ini Valen begitu peduli pada kisah hidupnya?


“Kamu ada apa sama dia?” Tanya Valen curiga.


Setaunya dua orang bisa langsung dekat jika mereka telah melakukan sesuatu. Dan dia ga ingin karyawannya dan customernya melakukan hal yang aneh-aneh di dalam ruangan.


“Ya ngobrol aja sih Bu..” jawab Rea singkat.. “Tapi Bu.. Beneran Bu Valen ga suka sama Sam?”


Valen memicingkan matanya mendengar pertanyaan dari Rea. Pak Bram memang mengomelinya, tapi dia tidak pernah menyesal dengan keputusan yang dia buat. Menurutnya Sam hanya seorang pria biasa yang culun dan tidak menarik.


“Enggak.. Kamu lebih cocok sama dia.”


Rea tersenyum getir.


Valen memang baik, tapi dia banyak bergabung dengan sosialita di kota ini. Jadi dia pasti butuh pendamping yang sama derajatnya. Sedangkan Sam datang dan berkenalan hanya menjadi seorang pria sederhana.


Ponsel Rea berdering. Pesan masuk dari Sam.


'Nanti malam ketemu di cafe seberang ya..aku tunggu..'


“Bu,, kalau sudah selesai, saya mau kerja lagi bu..” kata Rea kemudian.


“Oke,, silakan." Ingat ya Rea,, kalau kalian pacaran, tolong kamu harus profesional di tempat kerja.”


Rea kembali mengangguk. Dia mengiyakan dan tidak protes dengan ucapan Rea karena tidak ingin memperpanjang pembahasan soal Sam.


“Oh iya Rea..” Valen kembali memanggil Rea dan membuatnya sukses harus mengerem kaki nya yang sudah ingin kabur.


“Itu ada obat dari mantan kamu.” Valen menunjuk kresek hitam yang ada di meja.


“Alden ke sini?” Rea langsung mengambil kreseknya dan mengecek apa yang di bawa Alden.


“Iya dan dia kurang sopan..”


“Oooh.. memang gitu orang nya bu.. tapi dia lumayan baik.” Jelas Rea dengan santai.


Valen hanya memijit kepalanya mendengar penjelasan dari Rea. Dia meminta Rea untuk segera keluar sebelum dia makin pusing.