When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Rapat keluarga



Sepulangnya Ben dari rumah sakit, Ben mengadakan rapat keluarga di rumahnya untuk membahas soal permasalahan mereka.


Ini pertama kalinya mereka berkumpul bersama dengan keadaan yang tenang.


"Alden, Terima kasih karena sudah kembali ke rumah ini. Sam juga." ucap Ben memulai rapat mereka. "Dad harap kalian bisa rukun terus seperti ini, meskipun nanti Dad dan Mom sudah tidak ada."


"Dad, umur Dad masih panjang. Jangan bicarakan itu." protes Alden. Setelah tinggal beberapa hari dengan Ben, Alden justru semakin kagum dengan ayah angkatnya itu. Dia lebih ingin dekat dengan Ben, jadi setiap kali Ben bicara umur, Alden sangat kesal dan menjadi takut kehilangan Ben.


"Alden benar.. Dad masih akan melihat cucu dari Sam." sela Sam yang membenarkan perkataan Alden.


"Memang kamu akan menikah? Dengan siapa? Rea atau Valen?" sindir Alden.


Sam memicingkan matanya. "Jangan mencampuri pembicaraan ini dengan Rea ataupun Valen. Itu nanti kita selesaikan di luar."


"Sudah, Dad belum selesai bicara." Lidia menengahi anak-anaknya.


Ben kembali berfokus pada tujuannya mengumpulkan keluarganya.


"Dad tahu, kalian masing-masing mengalami trauma di masa lalu. Alden harus kehilangan orang tua dan Sam juga harus menghadapi penyakitnya. Tapi, karena itulah kalian tumbuh menjadi anak-anak yang kuat." Ben menarik nafas panjang. "Dad berusaha sebisa mungkin untuk adil sama kalian. Jadi, Dad akan putuskan untuk membagi warisan dengan jumlah yang sama rata." Ben mengeluarkan secarik kertas. Dia menyodorkan pada Sam dan Alden supaya mereka dapat membaca dengan jelas.


Alden hanya dapat menelan ludah saat mengetahui aset Ben yang begitu banyak. Jumlahnya fantastis di luar perkiraannya. Sedangkan Sam tidak terlalu memusingkan itu. Dia sudah mengurus hampir seluruh kerjaan Ben. Jadi, Sam tahu persis apa saja yang Ben miliki.


"Sam, bantu Alden untuk belajar mengelola rumah sakit." perintah Ben.


Sam mengangguk pelan meskipun itu artinya beban Sam akan bertambah satu lagi. Reaksi Sam yang begitu tenang berbanding terbalik dengan Alden. Dia tampak panik karena Ucapan Ben itu sama saja mengharuskan dia untuk belajar. Masalahnya, Alden sangat minim di bidang akademik. Dia akan lebih senang jika Ben menyuruhnya untuk membuatkan cocktail atau memilih mobil sport terbaru.


"Dad akan mengawasi kalian. Kalau sampai kalian melanggar perjanjian surat wasiat ini, maka harta Dad akan Dad sumbangkan ke panti asuhan."


"Tidak ada yang mudah, ferguso." bisik Sam dengan tatapan licik.


"Dad, aku minta diajari oleh orang lain saja." kata Alden tiba-tiba.


"Sam, ajari yang benar. Dan Alden, kamu harus berusaha keras dan jangan malas." Lidia ikut memberikan pesan kepada anak-anaknya.


"Lalu bagaimana dengan pembahasan soal cucu tadi?" Ben kini juga ingin mendengarkan apa yang anak-anaknya bicarakan.


"Mampus lo." ejek Alden.


Sam hendak menarik kerah baju Alden, tapi Lidia memberi kode supaya Sam tidak melakukan tindakan anarki yang akan memperburuk kondisi Ben.


"Jadi, siapa Valen?" tanya Ben penasaran.


"Sam, awalnya suka dengan Valen. Tapi, karena Sam selalu pakai kacamata jeleknya, Valen jadi kabur. Lalu, dia kenalan dengan mantan Alden. Nah, setelah pacaran dengan Rea, Valen kembali untuk mengejar Sam." Alden memberikan penjelasan dengan seksama.


Ben mengangguk meskipun dia tidak terlalu paham permasalahan cinta anak mereka.


"Valen anak yang sopan dan pintar." kata Lidia menanggapi cerita Alden.


"Tapi, Rea lebih menarik." ucap Ben.


"Valen punya pendidikan yang bagus."


"Rea itu bisa membuat Sam lebih bahagia."


"Kalian sedang apa? Kenapa jadi berdebat seperti ini?" Sam tiba-tiba berdiri. Masalah keluarga sudah selesai, tapi sekarang mereka malah memperdebatkan siapa yang lebih menarik antara Rea dan Valen.


"Saaam.." panggil Ben dan Lidia karena Sam pergi begitu saja tanpa berpamitan pada mereka.


"Alden, juga pergi dulu, Mom.. Dad.." Alden yang merasa sebentar lagi akan di interogasi, memilih untuk kabur juga seperti Sam.


(Sabar ya gaes.. Valen memang meresahkan.. Tapi yakin lah Sam akan membuat pilihan yang tepat.. Author juga ingin menulis kencan pertama mereka yang sempat tertunda.. tapi di tunggu saja yaaaa...🤗😜)