
Alden menatap rumah keluarga Sebastian dengan perasaan campur aduk. Rumah ini begitu besar, tapi Alden memiliki banyak kenangan buruk di sini. Di sinilah dia bertemu sekaligus berpisah dari ibunya.
Flashback on
Alden kecil sedang bermain bola di halaman. Mira melihatnya dari jauh sambil memegangi alat pel nya. Tiba-tiba Alden menendang bola terlalu keras sampai memecahkan kaca jendela ruang kerja Ben. Mira segera menghampiri Alden. Dia tahu sebentar lagi Ben akan keluar dan memarahinya.
Benar saja, Ben keluar dengan ekspresi marah. Dia menemui mereka di halaman dan langsung menarik Alden yang bersembunyi di belakang Mira.
"Alden, sudah berapa kali Dad bilang. Jangan main bola di sini." tegur Ben cukup keras.
"Maaf, Dad.. Alden tidak, sengaja.." ucap Alden sambil terisak.
"Maaf Tuan, Ben. Alden tidak sengaja." bela Mira. Dia memeluk Alden sambil mengusap kepalanya.
"Jangan bela dia. Kalau salah, dia harus di hukum." kata Ben tegas. Mendengar kata hukuman, Alden semakin mempererat pelukannya.
Ben tidak peduli. Dia tetap menarik Alden, lalu memukulnya dengan cukup keras di bagian tangan.
Alden menangis meraung. "Dad jahat. Dad gak sayang sama Alden. Cuma Bi Mira saja yang sayang sama Alden." teriaknya.
Ben tidak mengambil pusing, lalu dia kembali ke dalam. Mira langsung mengusap tangan Alden yang merah,sambil berusah, menenangkannya.
"Cup.. cup.. sudah,, Dad hanya sedang kesal.' katanya lembut.
"Bi.. aku mau kabur dari sini." Alden mengelap air matanya, tapi suara isakannya masih terdengar.
"Lho, kenapa? Bukannya di sini nyaman? Kamu bisa makan enak, bisa sekolah di tempat yang bagus, dan juga punya keluarga." jelas Mira.
Alden tidak dapat bertumbuh gemuk dan sehat jika tidak tinggal di rumah keluarga Sebastian.
"Iya, tapi ini tidak membuat Alden senang." ucapnya jujur.
Kali ini, Mira yang menangis. Dia pikir Alden sudah mendapatkan segala sesuatu yang baik dari rumah ini, tapi dia tidak bahagia sekarang. Itu menjadi pukulan tersendiri bagi Mira.
"Maafin Mom, Alden." ucap Mira yang juga menangis.
"Mom?" tanya Alden bingung.
"Dengarkan Mom, Alden." "Kamu harus tumbuh jadi orang yang hebat. Kamu harus anggap keluarga ini adalah keluarga kamu."
"Apa maksud mu, Bi?" tanya Alden yang masih kebingungan mencerna kata-kata Mira.
"Aku, ini Mom kamu. Tapi kamu jangan beritahu mereka, karena nanti kita berdua bisa diusir."
"Benarkah?" Alden tampak tidak percaya pada wanita itu. Tapi, wanita itu menunjukan foto dan juga akta jika dia memang adalah ibu Alden.
"Alden, Mom mohon, kamu harus bersama keluarga Sebastian bahkan kalau Mom meninggal." pesan Mira pada Alden. Dia mengusap lembut air mata Alden, lalu kembali memeluknya.
"Mom, kenapa kita tidak keluar dari sini saja dan tinggal berdua?"
Mira tidak menjawab Alden. Dia sudah melakukan hal yang tidak seharusnya, yaitu bercerita identitasnya pada Alden. Tapi, rasanya tidak adil jika seumur hidupnya Alden tidak mengetahui dia adalah mom nya. Sekarang, Mira merasa bahagia karena mendengar Alden memanggilnya dengan kata Mom dan bukan Bi.
Flashback off
Lidia juga melakukan hal yang sama karena saat ini dia sedang berkumpul dengan grup arisannya.
Alden mengganggu di ruang tengah. Dia melihat sebuah bingkai foto besar yang menghiasi ruang tamu keluarga Sebastian itu. Foto Ben, Lidia, Sam yang kurus kecil, Alden yang tampak jutek dan juga pembantu mereka, Mira alias ibu nya. Bayangan tentang Mira langsung menghampiri pikiran Alden seolah itu baru saja terjadi kemarin.
Tidak terasa sudah 20 tahun Alden berpisah dengan Mira. Alden harus kehilangan ibunya pada usia nya yang baru saja 10 tahun.
"Alden." ucap Ben dan Lidia secara bersamaan.
Alden menengok. Pria tua itu berlari ke arahnya untuk memeluk Alden.
Lidia mengikuti dari belakang. Dia mengusap punggung Alden yang kini sedang menangis.
"Maafin Dad, Alden." kata Ben tercekat. Dia juga menangis karena merasakan penderitaan Alden.
"Dad,,, Alden sudah tahu semuanya. Sam juga sudah tahu semuanya." ucap Alden lirih.
"Ya, Dad baru sadar kalau kalian semua sudah tahu." Ben melepaskan Alden.
Dia menatap dalam anak angkatnya itu. Ini tidak sesuai dengan sekenario di awal. Tadinya Ben ingin memberitahu anak-anaknya sendiri setelah mereka berkumpul di sini. Tapi, Dokter Lukas membuat pengakuan dosa, jika dia memberitahu Sam tentang masa lalu Alden dan ibunya. Sam bahkan kabur ke America juga karena masalah ini.
"Baiklah. Karena kamu di sini, Dad akan ceritakan pada mu. Tapi, sebelumnya, Dad ingin minta maaf." Ben berlutut tepat di depan Alden. Dia sangat menyesal karena telah membiarkan kesalahpahaman ini berlangsung begitu lama.
Alden yang biasa tempramental, kini justru tidak tega melihat Ben. Kemarahannya berpuluh- puluh tahun menguap seketika.
"Dad, sudahlah." Alden membantu Dadnya berdiri.
Mereka bertiga duduk dalam diam selama beberapa menit.
"Jadi, Mira datang pada Dad sambil menangis. Dia membawa kamu, dan berkata untuk merawat kamu karena kalian sudah tidak punya tempat tinggal. Dia bilang kalau dia sakit kanker dan hidupnya mungkin tidak akan lama lagi." Ben menjelaskan dengan perlahan. "Dan, kamu tahu kan. Sam juga sakit jantung. Dad pikir, Sam tidak akan bertahan lama. Dan jika dia meninggal, Dad masih punya kamu untuk meneruskan nama keluarga Sebastian."
Lidia memegang tangan Ben yang tidak kuat menceritakan tentang masa lalu keluarga mereka.
"Sayang, aku saja yang cerita." ucap Lidia yang juga sedih mendengar apa yang baru saja diucapkan suaminya. "Ya, sama seperti Mom kamu, Sam tidak bisa bertahan hidup lama." "Sebenarnya, kami sudah pasrah, tapi ternyata kami menemukan sebuah kecocokan yang tidak kami sangka. Sam bisa selamat karena transpalansi jantung dari Mira."
"Tapi, ini tidak adil. Kalian paksa Mom untuk berikan jantungnya?" sahut Alden yang kembali mulai merasa emosional.
Lidia menggeleng. "Dad awalnya tidak mau. Tapi Mom kamu memaksa. Kami tidak tahu jika dia menulis surat pernyataan akan memberikan jantungnya pada Sam kalau dia meninggal. Mau tidak mau, kami lakukan transpalansi itu."
Alden menggeleng kuat. Ini fakta yang mengejutkan. Dia pikir, Ben dan Sam adalah manusia yang egois yang merebut Mom nya.
"Alden, Dad dan Mom menyayangi kamu sebagai anak sendiri. Dad akui, dulu Dad keras padamu, karena Dad pikir kamu harus punya mental yang kuat untuk meneruskan usaha Dad." jelas Ben lagi.
"Tapi, Dad akui, setelah Sam mulai sehat, Dad sedikit melupakan kamu. Dad lebih berfokus pada Sam dan Dad jadi merasa bersalah pada mu."
Ya, Ben memberikan semua keinginan Alden. Dia bahkan menyekolahkan Sam ke America karena Alden tidak ingin tinggal bersama Sam. Dan karena keputusan ini, Sam Alden justru semakin menjauh.
"Dad.. kenapa Dad ga cerita dari dulu?" Alden kembali menangis.
"Alden, apakah kamu mau mendengarkan Dad? Dad dan Sam lah yang selalu mendengarkan kamu."