When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Perlukah punya anak?



"Rea" Panggil Aeris.


Rea melambaikan tangannya, lalu berlari ke arah dua wanita yang sudah menunggu kedatangannya.


Kehadiran Rea di sambut dengan cipika cipiki oleh Aeris dan Tiffany bergantian. Para ibu-ibu muda ini sedang bersantai untuk menikmati kehidupan mereka yang terampas setelah menikah dan punya anak. Mereka mengajak Rea ikut serta supaya bisa mengenal Rea lebih dekat.


"Kamu lama sekali, Re." tanya Tiffany yang tidak sabar menunggu Rea. Ya, setelah satu tahun menikah dengan Juna, Tiffany semakin baik dalam mencontoh sifat Juna yang tidak sabaran.


"Sam tidak mengijinkan ku keluar." keluh Rea. Setelah sebulan menikah dengan Sam, Sam menjadi semakin egois karena hanya mengurung Rea di kamar.


"Yah, namanya juga pengantin baru. Coba kalau sudah punya anak seperti kami. Mereka malah suruh kami keluar sama anak-anak kami." giliran Aeris yang curhat.


"Lalu, anak kalian di mana?" Rea baru sadar jika ibu-ibu ini tidak membawa anak mereka ikut serta.


"Kami titipkan ke Dad mereka." jawab Tiff santai. Dia meminum orange jus nya dengan perasaan senang. Menjaga anak bayi ternyata melelahkan sekali. Tiffany bahkan pernah tidur hanya 2 jam saja karena Baby Nat selalu menangis.


Tidak berbeda jauh dengan Aeris. Karena Baby V kerap menangis di malam hari, Reno sampai tidur di kamar tamu karena tidak mau tidurnya terganggu.


"Kamu bagaimana, Re? Apakah sudah isi?" tanya Tiffany penasaran. Sejak menikah dengan Sam, Rea malah semakin kurus saja. Pasti karena Rea mengurus kedua orang tua Sam.


"Belum.. Sejujurnya, aku takut memilik anak." curhat Rea.


"Ya, kalau Om Ben tidak meminta cucu, lebih baik tidak usah punya anak." saran Aeris.


Tiffany segera menyenggol kaki Aeris. Ucapan Aeris itu bisa menjadi sumber pertengkaran rumah tangga orang lain.


"Tiff, kenapa sih.." "Ini kenyataan. Aku bukan nya ga bersyukur dengan Baby V, tapi kalau boleh di ulang, aku akan tetap berdua Reno saja tanpa anak." ucap Aeris dengan yakin.


Sebenarnya Tiffany pun sama. Tapi, dia tidak ingin jika Rea bingung membuat keputusan. Tiff dengar sendiri dari Juna jika Sam dan Rea menunda pernikahan mereka begitu lama, karena Rea yang masih belum siap.


"Satu saja itu cukup, Re. Yang penting kita didik anak kita dengan benar." ucap Tiff sambil menepuk pundak Rea.


"Tumben otak lo jalan Tiff.." sindir Aeris kembali dengan gaya informalnya.


"Sial lo. Dari dulu juga otak gue jalan."


Aeris tertawa puas. "Ya, kalau memang satu, bikin lah anak laki-laki. Siapa tau bisa di jodohkan dengan anak ku."


"Tentu saja aku jodohkan dengan anak ku." protes Tiffany.


Rea hanya menghela nafas panjang. Ibu-ibu ini meributkan sesuatu yang belum ada. Setelah ini pun Rea, perlu memikirkan baik-baik dengan Sam soal memiliki anak. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangan Rea selain yang di sebutkan ibu-ibu di depannya. Rea perlu menjaga Ben. Pasti dia akan kesulitan jika sedang hamil dan harus menjaga orang tua.


*


*


*


Sementara itu di cafe Milan. Sam menutup cafe miliknya itu karena dia kedatangan 2 tamu penting yang sangat sulit sekali di temui. Ya, Sam sekarang sedang duduk bersama dengan Reno dan Juna yang membawa anak mereka masing-masing. Sam berusaha menahan tawanya ketika melihat Juna dengan gendongan sedang menina bobo kan Baby Nat. Dia tidak bisa paham lagi, seorang bos yang penuh karisma menjadi seperti baby sitter berambut pendek.


Sama hal nya dengan Reno. Sam menengok ke arah Reno yang sedang memberi Baby V susu. Reno sampai bicara sendiri supaya anaknya mau minum susu.


"Kehidupan kalian begitu seru." celetuk Sam.


"Seru dari hongkong." protes Reno.


"Kenapa tidak pakai nanny?" tanya Sam heran.


Reno dan Juna dapat mempekerjakan 10 nanny jika mereka mau.


Reno menghela nafas kasar. "Kamu tau kan, Aeris dan Tiffany itu berasal dari planet lain." "Cara pikir mereka berbeda dengan kita."


"Maksudnya?"


"Sam, kamu pintar tapi bodoh." sindir Juna dengan to the point.


"Ya, jadi mereka tidak ingin menunggunakan nanny karena beranggapan jika kalau di urus nanny, mereka akan jadi anak nanny bukan anak mommy." jelas Reno lagi.


"Lagipula istri kita itu punya waktu 24 jam di rumah." tambah Juna. Baik dia dan Reno tidak mengijinkan istri mereka bekerja.


"Yah, bro. kalau kamu mau punya anak, tolong pikirkan baik-baik. Jangan asal main saja." ingat Reno pada Sam.


"Tidak apa-apa Sam. Tolong buat laki-laki supaya kita bisa jadi besan." ucap Juna sambil tertawa. Produksi Samuel pasti akan menuruni kecerdasan bapaknya. Juna tidak akan keberatan jika anaknya menikah dengan anak Samuel Rea.


"Sial. Sayang sekali aku sepupunya." Umpat Reno. Karena suaranya terlalu keras, Baby V terbangun dan menangis.


Mendengar suara berisik, Baby Nat juga ikut-ikutan menangis.


Sam memijit kepalanya sendiri melihat keributan yang terjadi. Dia memang harus memikirkan baik-baik apakah dirinya perlu mempunyai anak sekarang?


*


*


*


Di kamar


Sam merebahkan badannya di ranjang. Dia baru saja pulang dari perkumpulan bapak-bapak yang mengeluh soal anak. Rea yang melihat Sam tidak melepas pakaian atau membersihkan diri, segera membantu suaminya untuk melakukan itu. Dia mengambil micellar water dan tisu, lalu duduk di pinggir ranjang.


"Apakah mereka bicara soal anak?" tebak Rea.


"Hmm.." kata Sam tanpa membuka mata.


Dia membiarkan Rea membersihkan wajahnya. Ini enaknya mempunyai istri mantan pegawai klinik kecantikan. Rea selalu merawat dan membersihkan wajah Sam.


"Jadi, apakah kita akan tunda untuk punya anak?" tanya Rea lagi.


Sam menahan tangan Rea, lalu membuka matanya untuk memastikan apa yang Rea inginkan.


"Rea, aku rasa kita tunda dulu." Sam yakin jika Rea saat ini juga ragu untuk memiliki seorang anak.


"Kamu memang yang terbaik, suami ku." Rea menyentuh wajah Sam, lalu mencium pipinya. Dia sudah sangat takut jika Sam menginginkan anak. Sudah pasti dia harus mengikuti Sam karena dia kepala keluarga.


Tapi, apa yang Rea bayangkan berbanding terbalik dengan perlakuan Sam di detik berikutnya.


"Sayang, kamu sangat cantik malam ini."


Dengan satu gerakan, dia menarik Rea terbaring di ranjang. Sudah seminggu ini Sam libur karena istrinya datang bulan. Kini saat yang tepat Sam meminta jatah selama seminggu libur bermain.