
Sam dan Rea kembali ke ruang tengah, di mana semua tamu sudah duduk di meja makan. Meja makan dengan kapasitas 20 orang itu penuh dan hanya menyisakan 2 bangku untuk mereka.
Semua mata mengikuti Sam dan Rea sampai akhirnya mereka duduk di samping kanan Ben. Mereka heran karena penampilan Rea tampak berbeda dari setengah jam yang lalu. Rea terlihat lebih elegan menggunakan dress dan juga kalung yang diberikan oleh Sam. Tapi, disamping itu semua, mereka bingung dan bertanya-tanya karena sejak tadi Sam memegang tangan Rea tanpa melepaskannya.
"Oke. Karena semua sudah berkumpul, kita mulai saja acara makan malam nya." Ben berdiri untuk membuka acara yang tidak resmi ini.
"Saya berterima kasih karena kalian sudah bersedia datang ke sini. Seperti yang sudah kalian tahu, saya mengadakan acara ini karena saya ingin melakukan penyambutan untuk Alden dan juga Sam yang telah kembali ke rumah keluarga Sebastian." "Mari, kita sambut dengan bersulang untuk mereka."
Ben mengangkat gelas wine nya. Semua mengikuti Ben dari tempat duduk masing-masing.
Sam dan Alden sebagai tokoh utama berdiri dan menunduk mengucapkan terimakasih.
"Sam, lepaskan aku. Aku malu." bisik Rea pada Sam yang tidak juga melepaskan tangan nya.
Sebenarnya Rea bukan tidak nyaman dengan perlakuan Sam, tapi Valen dan Lidia terus menatapnya seolah Rea ini adalah kuman yang menempel pada baju Samuel.
"Tidak akan, Re. Biarkan saja semua orang tahu, siapa pilihanku." jawab Sam dengan santai.
Setelah pembuka yang diucapkan Ben, pelayan membawakan appetizer untuk para tamunya. Ya, makan malam ini dilakukan secara fine dining. Ben sudah memanggil chef dari hotel Emerald milik Reno untuk para tamu spesialnya.
"Silakan menikmati makan malam kalian, dan jangan sungkan." ucap Ben lagi. Dia kembali duduk, dan menikmati makan malam bersama keluarga dan rekan kerjanya ini.
"Kamu cantik sekali, Re." puji Ben di depan semua tamu. Ya, Ben mendengar jika tadi Rea sempat bersitegang dengan Valen dan Lidia. Jadi, pria tua itu merasa tidak enak dan perlu mengembalikan martabat Rea.
"Terima kasih, Om." jawab Rea malu-malu.
"Tuan Ben, saya dengar anak anda sempat ingin menikah dengan Valen Bramantyo. Apakah itu benar?" celetuk satu teman Ben yang duduk di sebelah Alden.
"Ya, itu benar. Lihat Valen, dia begitu cantik dan sangat cocok untuk Sam, bukan?" yang menjawab bukan Ben, melainkan Lidia yang duduk di sebelah Valen.
"Ya, tapi karena Valen sedikit pemilih, dia tidak mau dengan Sam yang berpenampilan culun." lanjut Lidia sambil tertawa.
Meski diucapkan sambil tertawa, kata-kata Lidia itu lebih tepat dikatakan sebagai sindiran. Valen sampai melongo karena Lidia mengatakan itu di depan tamu Ben yang notabene orang-orang penting di kota ini.
Semua mata mengarah pada Valen. Mereka menganggap Valen terlalu bodoh, karena melewatkan berlian seperti Sam.
"Karena itu, Sam sekarang memilih wanita di sebelahnya." "Dia juga cantik bukan?" Lidia mengerlingkan satu matanya pada Rea.
"Apa anda tidak keberatan jika wanita itu bukan dari keluarga terpandang?"
"Tentu saja. Kami percaya pilihan Sam, dan pasti kami akan dukung, asalkan dia bahagia." jelas Lidia lagi sambil tersenyum pada Sam.
Sam dan Rea terpaku pada tempatnya mendengar plot twist yang sedang dimainkan oleh Lidia.
Sementara itu, Alden dan Ben menghela nafas lega, karena jika Lidia menghina Rea, maka akan terjadi perang Dunia kelima di meja ini.
Berbeda dengan Valen, sekarang Valen yang menjadi malu karena semua mata memandang sinis ke arahnya. Sebagian dari mereka juga berbisik karena tingkah Valen yang kurang etis yang mencampak kan Sam hanya karena kacamata tebalnya.
"Tante tidak sendiri, karena dia dan dia juga memiliki kekasih orang biasa." Boy menunjuk dua pria yang mengapitnya, Juna dan Reno. "Tapi, kekasih mereka sedang kabur entah ke mana." lanjut Boy sambil tertawa puas.
Reno dan Juna yang jadi tumbal dari Boy langsung menginjak kaki Boy secara bersamaan.
"Sudah, sudah.. kita makan saja." Ben turun tangan karena percakapan malam ini sudah keluar dari konteks.
Rea diam-diam menatap Lidia yang sedang menikmati makanannya. Dia cukup terharu karena Lidia ternyata memihak Rea. Tapi, peristiwa malam ini cukup membuat Rea berpikir ulang mengenai status sosial dan pendidikannya yang begitu jauh dengan keluarga Sebastian.