
Sabtu ini, seperti biasa, Rea pergi ke rumah Ben Sebastian untuk makan malam bersama. Rea datang dengan blouse pink dan juga celana jeans. Ya, Rea tidak terlalu memusingkan penampilannya, karena keluarga Sebastian cukup rendah hati untuk ukuran konglomerat. Mereka tidak pernah memikirkan status sosial Rea dan itu membuat Rea nyaman dengan keluarga ini.
"Hey, Boy. Kamu datang juga?" Rea bertemu dengan Boy di depan pintu gerbang.
"Masuklah. Kenapa kamu sendiri?" Boy memberikan tumpangan pada Rea karena jarak pintu dengan rumah Sam cukup jauh. Akan sangat lelah jika Rea berjalan kaki.
"Sam sedang on the way dari rumah sakit. Jadi aku ke sini sendiri." ucap Rea santai. Dia memang tidak ingin manja pada Sam karena tahu bagaimana kesibukan Sam.
Boy mengangguk tanda paham. Setelah Rea masuk, Boy segera menjalankan mobil menuju rumah utama. Mereka cukup terkejut karena di halaman ada banyak mobil mewah yang berjejer dengan rapi.
"Apa Om Ben mengundang orang lain?" tanya Rea pada Boy.
"Entah lah, aku hanya di beritahu Sam untuk datang."
Mereka turun dari mobil dengan rasa penasaran. Boy berjalan lebih dulu, sedangkan Rea mengikuti dari belakang.
"Bi, kenapa ramai sekali?" tanya Boy pada pelayan yang membuka pintu rumah untuk mereka.
"Tuan Ben sedang mengadakan acara untuk penyambutan Tuan Alden."
Benar saja, ini bukan makan malam biasa. Ben ternyata mengundang beberapa rekan bisnisnya. Rea segera memandang penampilannya dari atas ke bawah dari pantulan kaca pada guci yang berada di sudut ruangan.
"Boy, aku pulang saja." Rea berbalik dan hendak pergi lagi, tapi Boy menarik tangannya.
"Jangan cari masalah, Re." Boy tetap menarik lengan Rea untuk berjalan mencari Ben dan Lidia.
Ruangan sudah ramai dengan beberapa orang yang Rea tidak kenal. Rea hanya bersembunyi di belakang Boy karena merasa minder dengan penampilannya.
"Rea!" panggil Alden. Alden menghampiri Rea yang sedang menengok kanan kiri seperti maling.
Malam ini Alden tampil dengan rapi. Dia menggunakan setelan jas, lengkap dengan dasi batik.
"Kok kamu ga kasih tau aku sih Den kalau acaranya heboh seperti ini?" tanya Rea yang masih memegang lengan Boy.
"Dad ingin mengadakan penyambutan untuk aku. Dan dia baru saja bilang 1 jam sebelum acara." bisik Alden.
"Re, aku ke toilet dulu." Boy melepaskan Rea, karena Alden sudah berada di situ untuk menjaga Rea.
Rea memperhatikan sekeliling sekali lagi. Dia melihat Juna Liem, Reno, dan Ericka sedang berbincang di tengah ruangan bersama dengan Ben. Tidak jauh dari mereka juga ada Valen yang asyik berbincang dengan Lidia.
"Tenanglah.. Sam sebentar lagi sampai." kata Alden yang dapat melihat kecemasan di wajah Rea.
"Kita temui Dad and Mom dulu." Alden mengajak Rea untuk menemui orangtuanya. Mereka menghampiri Lidia terlebih dulu.
"Alden, sini sebentar, kamu harus menyapa sepupu mu." Ben menarik Alden untuk mengobrol bersama dengan teman-teman Sam.
"Malam tante.." Sapa Rea ramah.
"Halo, Re.. kamu sudah datang?" Lidia segera cipika cipiki seperti kebiasaannya.
"Halo Re.." Valen juga menyapa Rea.
Dia memandang Rea yang datang dengan pakaian seadanya seperti biasa. Valen menyunggingkan senyum mengejek yang tidak disadari oleh semua nya, kecuali Rea.
"Valen baru saja bercerita, ternyata kamu karyawannya." ucap Lidia dengan nada penuh arti.
"Iya, tante,, saya cuma karyawan saja." kata Rea sambil menunduk. Saat ini, Rea merasa sedang dikuliti oleh Valen dan Lidia.
Rencana Valen rupanya sedikit berhasil karena sekarang Lidia memandang Rea dengan tatapan yang menghakimi. Dibandingkan dengan Rea, Valen jauh lebih berkelas dan lebih cerdas. Malam ini pun Valen tampak cantik dengan dress vintage selutut yang di padu cardigan putih.
"Halo, Jeng Lidia.. siapa ini?" beberapa ibu-ibu seumuran Lidia menghampiri mereka.
"Hai, ini Valen.. dan ini Rea.. Mereka yang sedang dekat dengan Sam." Lidia memperkenalkan satu persatu, 2 wanita yang berdiri di samping kanan dan kirinya.
"Ooo.. cantik sekali.. siapa nama keluarga mu?" tanya teman Lidia pada Valen.
"Saya, anak keluarga Bramantyo tante.. senang kenalan dengan tante." kata Valen sambil tersenyum ramah.
"Aduh, sudah cantik sopan lagi." puji wanita yang lain.
"Ya,, dan dia juga dokter kecantikan." ucap Lidia lagi. Dia memandang Valen dengan bangga sambil mengusap lengannya, seolah Valen adalah anaknya sendiri.
"Lalu, ini siapa? Kamu anak siapa?" wanita tadi beralih pada Rea.
"Dia karyawan Valen,," sahut Lidia sebelum Rea sempat membuka mulutnya.
Rea menunduk malu. Perasaannya saat ini seperti baru saja di jatuhkan dari lantai 10. Ini jauh lebih sakit daripada ketika dahinya di jahit.
Teman-teman Lidia hanya berkomentar 'oh' saja, lalu mereka kembali berfokus pada pembicaraan mereka tadi, yaitu soal Valen.
"Jadi, pasti anak kamu pilih Valen kan?"
"Ada apa ini?" Sam yang baru saja datang, menghampiri orang yang berkerumun bersama Rea. Dia merasa ada sesuatu yang tidak beres karena pacarnya itu hanya menunduk lesu.
"Teman Mom sedang berkenalan dengan Rea dan Valen." ucap Lidia dengan terbata.
"Ayo, ikut aku." Sam menggandeng tangan Rea, dan mengajaknya pergi tanpa mempedulikan Valen atau Lidia.
Ya, meskipun tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, ekspresi Rea yang merasa terintimidasi cukup untuk membuat Sam memahami situasinya.