
Alden meremas gelas yang di pegangnya hingga pecah berkeping-keping. Dia sangat kesal dengan Sam. Alden sudah berjanji untuk tidak memaafkan Sam seumur hidupnya.
"Mom.. Aku pastikan dia gak akan hidup bahagia."
Alden kembali meminum bir langsung dari botolnya. Music di club yang biasanya terdengar menyenangkan, sekarang justru membuatnya kepalanya sakit.
Ya, club ini adalah tempat dulu Alden bekerja dan bertemu dengan Rea. Rea, gadis baik-baik itu datang untuk mengembalikan jas hujan nya. Sehari sebelum itu, mereka berdua tidak sengaja berteduh di tempat yang sama, dan Alden meminjamkan jas hujannya pada Rea. Entah dari mana Rea tahu tempat kerja Alden. Yang pasti, gadis itu datang bukan hanya mengembalikan jas hujannya, tapi juga membuatkan Alden roti. Alden sangat tersentuh dengan perbuatan Rea. Rea begitu baik dan dia mengingatkan Alden pada ibunya.
Sayangnya, dunia begitu sempit. Rea malah berpacaran dengan Sam, orang yang dibenci olehnya.
"Lepasin."
Seorang pria bule bertubuh kekar terlihat sedang menarik seorang wanita yang tidak asing untuk Alden. Alden pernah melihatnya di suatu tempat.
"Tolongin gue." Wanita itu memelas pada Alden yang duduk di sampingnya.
Alden sudah biasa menyaksikan pemandangan ini. Setiap hari dia akan menemukan banyak wanita murahan yang bermasalah dengan pria hidung belang, atau rentenir. Tapi setelah di perhatikan, wanita di samping nya tidak tampak seperti wanita murahan. Pakaiannya bermerk, penampilannya rapi dan bahkan tertutup.
Alden bangun dari duduknya. Tanpa kuda-kuda lagi, Alden langsung menghajar pria itu. Dia yang sudah kesal sejak tadi membayangkan jika Sam yang ada di depannya. Setelah orang itu tidak bergerak, baru Alden bangun dari tubuhnya. Dia lantas memandang wanita yang kini menangis sesenggukan.
"Cepat bangun. Gue antar lo pulang."
Wanita itu masih menangis tanpa bergerak. Dia begitu ketakutan sampai tidak mendengarkan Alden.
Alden berjongkok supaya bisa, memandangnya.
"Sudah jangan menangis. Menangis itu ga akan mengubah keadaan." Hibur Alden.
"Gue takut." Dia menarik kaos Alden.
"Haduh.. Merepotkan saja." Alden memeluk wanita yang masih dia coba ingat namanya. Dia mengakui jika dipeluk seseorang itu membuat tubuh lebih rileks dan merasa tenang.
5 menit berlalu dan wanita itu sudah mulai tenang. Alden sekarang dapat membantunya bangun.
"Gue ga ada niat jahat sama lo. Tapi mohon kerjasama nya untuk kasih alamat lo supaya gue bisa anter lo pulang."
"Antar saja ke klinik." Ucapnya lemah.
Alden tersadar sekarang. Wanita di depannya adalah Valen alias bos Rea.
"Kamu Valen kan?" Tanya Alden ketika mereka sudah berada di luar.
"Kenapa lo kenal gue?" Tanya Valen curiga.
"Gue Alden.. Mantan pacar karyawan kamu."
Valen terkejut. Dia ingat bertemu dengan Alden di depan klinik.
"Makasi Den.. Udah tolongin gue." Kata Valen sedikit lega karena ternyata dia mengenal orang yang menolongnya.
"You're welcome..masuk lah.." Alden membuka kan pintu mobil untuk Valen. "Siapa dia?"
"Gue ga tau.. Gue lagi nunggu Zoe, tiba-tiba dia marah dan seret gue." jelas Valen lemah.
"Tangan lo." Valen menengok pada Alden, dan menunjuk telapak tangan Alden yang berdarah karena pecahan kaca.
"Oh" Alden membuka kaos yang dikenakannya, lalu membalut lukanya dengan kaos itu.
Valen memperbaiki posisi duduknya, lalu dia melengos menghadap jendela. Pemandangan di samping nya menggoda iman karena badan Alden begitu menarik jiwa dan raga. Selama ini Valen hanya melihat badan six pack seperti itu dalam drama Korea.
"Kenapa kamu terlihat begitu kesal?" Tanya Valen yang tidak menengok sama sekali.
"Karena mantanku direbut orang yang paling aku benci."
"Rea maksudnya?"
Alden mengangguk. Kali ini Valen terpaksa menengok. Apa yang membuat Rea begitu beruntung sehingga mendapatkan perhatian dari Alden dan juga seorang Sam.
"Entahlah.. Aku hanya tidak suka dia dekat dengan Sam."
"Kenapa?"
"Sudah lah..jangan memancing emosi."
Valen akhirnya diam. Sebesar itu rasa tidak suka Alden pada Sam sampai dia menekan setir dan membuat darahnya merembes ke kaos yang membalut tangannya. Apa hubungan Alden dengan Sam? Kenapa dia begitu benci dengannya?
*
*
*
Alden sudah sampai di depan klinik Rea. Dia mematikan mesin mobil lalu membuka pengunci otomotisnya.
"Turunlah.."
"Makasih Den, tapi boleh aku obati dulu luka kamu?" Tanya Valen pelan.
"Tidak perlu. Nanti sembuh sendiri."
"Plis.. Aku juga punya kaos di dalam." Valen menunjukan wajah imut nya. Bisa di pastikan pria yang melihatnya akan tersenyum senang. Tapi Alden tidak memberikan reaksi. Itu membuat Valen kecewa dan turun dari mobil. Dia tidak boleh memaksa Alden karena tampaknya pria itu sangat tempramen.
Valen membuka pintu klinik yang sudah tutup, tanpa memperhatikan Alden lagi.
"Lakukan dengan cepat." Kata Alden yang sudah berdiri di belakang Valen.
Valen cukup terkejut tapi sedetik kemudian dia tersenyum senang.
Valen langsung membawa Alden masuk ke ruangannya. Alden duduk di pinggir meja, karena malas menarik kursi. Sembari Valen mengambil peralatan, dia melihat jejeran sertifikat Valen. Rupanya selain cantik, Valen adalah wanita yang pintar.
"Sorry..aku pegang ya." Valen melepaskan kaos yang sudah penuh darah. Dia menyalakan lampu praktek nya, sehingga bisa melihat jelas luka Alden. Dengan teliti, Valen mengecek apakah masih ada pecahan kaca yang tertinggal.
Alden meringis kesakitan ketika Rea mencabut kaca yang tertancap cukup dalam pada tangannya.
"Kamu seperti bukan pengangguran." Valen memulai percakapan karena terlalu hening. Seingat Valen, Alden selalu memalak Rea, tapi kini Alden bisa membawa sebuah mobil yang cukup mahal.
"Ya,, aku baru saja dapat jackpot. Jadi aku bisa membeli mobil dan baju yang bagus." Ucap Alden asal.
"Keluarga mu di mana?"
Diam. Alden tidak menjawab pertanyaan Valen. Keluarga? Alden bahkan tidak tahu apakah Ben dan Sam itu bisa disebut keluarganya?
"Aku sudah tidak punya siapapun." jawab Alden akhirnya.
Valen merasa tidak enak pada Alden. Dia tidak tahu jika Alden tidak memiliki keluarga. Pantas saja Alden bertindak seperti ini.
"Kamu tau Den.. Rasa kesal itu dapat membuat kita bertindak jahat pada orang lain." ucap Valen sambil menatap Alden dalam.
Alden bereaksi dengan memicingkan matanya.
"Sepertinya, kamu sedang bicarakan diri mu sendiri."
"Ya, aku kesal dengan Rea." Jawab Valen jujur. Valen kembali mengingat peristiwa mengenai Bu Hera. Dia jelas tahu kalau itu bukan kesalahan klinik, tapi dia hanya ingin meluapkan perasaan kesalnya pada Rea. Rea yang notabene gadis biasa malah menjadi incaran 2 pria sekaligus.
Alden tertawa sinis. "Rea gadis yang baik. Apa yang dia perbuat sampai kamu begitu kesal?"
"Tapi Den.. Aku serius.. Kamu harus buang rasa kesal mu itu." Valen tidak menjawab Alden dan mengalihkannya pada topik yang seharusnya mereka bicarakan.
Kata-kata Valen benar. Emosi nya selalu memuncak bahkan hanya dengan mendengar atau mengingat keluarga Sebastian.
"Tapi, apakah semudah itu?" tanya Alden dengan pandangan yang sulit diartikan. "Bagaimana kalau ternyata kamu bukan hanya kesal atau benci dia, tapi kamu iri?"
Perkataan Alden sukses untuk membungkam Valen yang kini terdiam tidak dapat menjawab pertanyaannya.