When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Realita yang melebihi ekspetasi



Sam dan Rea sudah mendarat di Perancis. Sam sempat menghina Reno dan Aeris yang sedang bucin-bucin nya ketika mereka baru saja tiba di bandara. Rea akhirnya tahu rencana busuk dari seorang Samuel. Dia mengajak Rea ke Eropa bukan hanya untuk berkencan, tapi juga untuk mengganggu Reno dan Aeris yang sedang bulan madu.


"Sam, kamu kejam sekali.." omel Rea begitu mereka naik dalam taksi.


"Sayang, yang kejam itu mereka. Selalu saja menambah kerjaan ku sampai aku lupa untuk berkencan dengan kekasih ku sendiri." Sam membela dirinya. Ya, selama ini Sam lah yang selalu direpotkan oleh Reno dan Juna. Sebentar-sebentar mereka minta untuk melacak keberadaan Aeris atau Tiffany. Sekarang giliran Sam yang mengganggu mereka.


Taksi berhenti di Hotel Shangrila Paris. Rea melongo ketika melihat hotel bintang 5 yang menjulang tinggi di depannya. "Sam, ini terlalu berlebihan untuk sebuah kencan."


"Ini adalah denda karena aku lupa kencan ku selama 2 tahun ini." Sam menarik tangan Rea untuk masuk ke kamar yang telah dia booking.


Kamar yang Sam pilih memiliki view langsung menghadap ke menara Eiffel. Rea tidak henti-hentinya mengucapkan kata wow.. Dia segera mengambil foto kamar hotel, lalu juga tidak lupa ber selfie dengan Sam dengan background menara Eiffel.


"Aku akan kirim ini ke Gadis. Dia pasti akan melongo." ucap Rea sambil mengutak atik ponselnya.


"Apa kamu senang?" tanya Sam pada Rea yang masih asyik sendiri.


"Cuma orang gila yang tidak senang berada di sini. "


Sam memeluk Rea dan mencium pucuk kepalanya. Satu hal yang Sam suka dari Rea adalah kepribadian Rea yang begitu jujur apa adanya. Rea juga tidak pernah menyombongkan Sam kepada teman-temannya.


"Kamu istirahat dulu.. nanti malam pakai gaun yang cantik. Kita akan dinner di atas."


"Lho, kamu di kamar mana?" tanya Rea bingung.


"Tentu saja di kamar sebelah."


Sam yang sudah berniat pergi jadi tergerak untuk menggoda Rea. Sam maju mendekat secara perlahan. Dia semakin mendekat dan Rea yang mulai takut bergerak mundur hingga badannya menabrak dinding.


“Atau kamu mau sekamar dengan ku, Re?” bisik Sam dengan nada yang mesra.


“Sam, kamu sudah pernah merasakan tendangan maut?” tanya Rea ketakutan.


“Tidak masalah, asalkan aku bisa memiliki mu, sayang.”


Rea merasakan lehernya geli karena hembusan nafas Sam.


“Saam…jangan mulai lagi.” Pekik Rea. Dia menyingkirkan kepala Sam dari dekatnya.


Sam seakan belum puas mengerjai Rea. Dia melanjutkan untuk menatap Rea. Sam menangkap wajah Rea dengan tangannya. Dia memiringkan kepala dan semakin mendekat pada Rea.


Rea merasakan jantungnya bekerja 2x lipat. Otaknya berkata supaya mendorong Sam, tapi Rea malah menutup matanya.


‘DUK’ Sam membenturkan kepalanya pada Rea. Dia tertawa puas karena Rea sudah mulai baper dan mengira Sam akan menciumnya, meskipun memang Sam sangat ingin melakukan itu sejak dulu.


“Kenapa tidak jadi Sam?” tanya Rea antara senang dan kecewa.


Rea mengangguk setuju. Hanya dengan berdekatan dengan Sam seperti ini saja, Rea merasakan hawa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.


“Dokter, kamu harus bertanggung jawab jika aku nanti terkena sakit jantung.” Protes Rea.


“Tenang saja, aku punya obat penawarnya.” Goda Sam.


Kali ini Sam benar-benar harus kembali ke kamarnya. Kalau dia di sini terus bersama dengan Rea, Sam takut tidak dapat menahan dirinya seperti Alden.


*


*


*


Malam ini sesuai dengan permintaan Sam, Rea datang ke atas. Dia menggunakan dress yang sudah Sam taruh di dalam tas. Sebenarnya Rea sangat kedinginan, tapi dia lupa membawa jaketnya dari kamar.


Rea cukup terkejut karena pelayan mengantarkannya ke sebuah meja yang sudah di hias dengan cantik. Di meja juga ada buket bunga mawar merah yang sangat indah. Rea mengambil itu dan membaca surat yang terselip diantaranya.


Terima kasih karena sudah menemani selama 3 tahun ini, Rea Renata. I Love you


Rea terharu dan senang dengan pemberian Sam. Rea lupa jika hari ini adalah hari jadian mereka. Dia tidak menyangka Sam lah yang mengingat tanggal penting ini. Tapi, ke mana pria itu? Rea tidak melihat keberadaan Sam.


Suara merdu biola perlahan muncul di belakang Rea. Ketika menengok, Rea kembali terkejut karena pemain biola itu berwujud seperti Sam. Rea mengucek matanya untuk memastikan jika dia tidak salah melihat. Tapi, ternyata itu benar adalah Sam. Sam memainkan lagu A Thousand years sambil menatap Rea.


Rea berdiri dengan perasaan campur aduk yang tidak bisa digambarkan. Pertama, karena dia tidak tahu jika Sam bisa bermain biola, kedua karena Sam begitu niatnya menyiapkan ini semua untuk kencan mereka yang tertunda. Rea hanya membayangkan kencan di taman bermain atau pantai. Tapi, Sam malah memberikan banyak hal di luar ekspetasi Rea. Baru kali ini ada realita yang melebihi ekspetasi.


Begitu selesai bermain, Rea langsung memeluk Sam. Rasa dingin yang sejak tadi Rea rasakan menguap begitu saja berganti dengan kehangatan yang berasal dari tubuh Sam.


“Makasi Sam,,”


“Apakah kamu suka, sayang?”


Rea mengangguk dalam pelukan Sam. “ Re, aku bersyukur karena waktu itu Valen mengajak kamu ke restoran itu. Kalau tidak, aku tidak bisa mengenal seorang Rea Renata.”


“Sam, aku juga sangat bersyukur karena mendapatkan seorang dokter yang kaya dan multitalenta.” Puji Rea. “Maafkan aku Sam yang selalu menunda masalah pernikahan.”


Rea merasakan betapa sulitnya Ketika dia jatuh cinta pada seorang dokter. Apalagi dokter itu adalah Samuel Sebastian. Segala kelebihan Sam lah yang membuat Rea sebenarnya ragu. Dan Sampai sekarang Rea tidak bisa meyakinkan dirinya untuk melangkah dalam pernikahan.


“Re, meski aku tidak bisa menunggu sampai 1000 tahun lamanya seperti lagu, tapi aku akan bersabar.”


Ucapan Sam yang tulus itu membuat Rea semakin mengerat pelukannya.