When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Dr.Samuel Sebastian



Rumah Sakit Husada


Sam benar-benar menepati janjinya pada Rea. Hari ini dia pergi ke rumah sakit dengan pakaian super rapi. Ben sangat senang sampai dia mengadakan pesta penyambutan di rumah sakit. Ini tentu kabar yang sangat baik untuk Ben. Jika Sam sudah mulai menjadi dokter di rumah sakit ini, Ben akan perlahan memberikan tugas-tugasnya pada Sam.


Ben juga tidak lupa untuk mengundang Rea karena ingin berterima kasih pada wanita itu. Dia sangat yakin jika Sam akan menuruti keinginan Rea, mengingat Sam juga melakukan hal yang sama.


Saat ini, mereka sedang berada di ruang rapat dengan seluruh staff rumah sakit. Ben sedang memperkenalkan Sam pada semua karyawannya.


"Sam, aku masuk pagi nih.." keluh Rea. Dia sekarang menjadi karyawan yang paling sering bolos karena kelakuan Sam.


"Kamu lupa ini permintaan mu? Kamu mau lihat aku jadi dokter kan? Lagian ini juga undangan dari Dad." bisik Sam.


"Ya tapi,,," Rea tersenyum kecut.


"Gue juga kenapa jadi korban?" Boy melanjutkan protes pada Sam karena Rea diam saja.


"Kalau lo, supaya lo bisa liat dokter-dokter cantik di sini."


Boy tersenyum. Sam benar. Boy melihat sekeliling ruangan. Banyak dokter muda yang cantik dan juga suster yang menarik.


Sam kembali fokus pada ceramah Ben selaku pemilik rumah sakit. Dia sudah bicara pada Ben, untuk memutuskan kesepakatan mereka.


"Kalian pasti sudah kenal dengan anak saya, Samuel Edward Sebastian. Mulai hari ini, Sam akan bekerja di rumah sakit Husada untuk menjadi dokter spesialis jantung. Saya harap kalian bisa bekerja sama dengan baik. Sekarang, kita sambut Dokter Samuel." Ben memberikan kode pada Sam untuk maju ke depan.


Sam berdiri. Dia merapikan bajunya, lalu berjalan ke depan dengan berwibawa. Saat ini Sam tidak menggunakan kacamatanya, sehingga membuat dokter-dokter muda dan para suster yang melihatnya kembali bersemangat, karena melihat pria tampan di depan mereka.


"Perkenalkan saya Samuel. Saya akan bergabung dengan rumah sakit ini, dan mohon bantuan dari kalian semua." "Meskipun saya anak pemilik rumah sakit ini, saya harap kalian tidak canggung dan juga memperlakukan saya secara profesional layaknya rekan kerja." Ucap Sam dengan tegas.


Sam sama seperti Ben. Dia punya aura pemimpin yang tegas, penuh wibawa dan juga tenang. Dia pasti akan menjadi pengganti yang cocok untuk menjadi pemilik rumah sakit ini.


Terdengar tepuk tangan dari seluruh ruangan.


Sam membungkuk, lalu kembali berjalan ke tempat duduknya. Dia bisa melihat beberapa orang di sana membicarakannya.


"Welcome Sam.. terima kasih.." Ben memeluk Sam senang, di susul dengan Lidia di belakangnya. Harapan mereka hanya pada Sam karena Alden tidak mungkin mau mengelola rumah sakit ini.


Berbeda dengan reaksi Ben dan Lidia, Rea justru merasa kesal setelah pengumuman ini. Dia menyadari kebodohannya karena meminta Sam untuk menjadi dokter sesuai permintaan Ben.


Kalau kerja dengan Boy, Sam hanya diam di rumah atau di cafe sambil menatap komputer. Tapi kalau di sini, Sam akan bertemu dengan dokter, perawat, bahkan pasien yang cantik.


"Selamat Sam.. akhirnya gue punya temen berantem di sini." Seroang dokter muda dengan rambut di kuncir kuda menghampiri Sam. Rea terkejut karena melihat Ericka berada di sini. Wanita itu adalah wanita seksi yang Rea temui di kondangan Sandra.


"Bukankah kamu lebih senang jika Reno yang jadi dokter di sini?" Sindir Sam.


Ericka tidak menanggapi dan lebih tertarik dengan sosok gadis di sebelah Sam. "Halo, saya Ericka.. dokter psikiatri di sini." Ericka mengulurkan tangan sambil tersenyum.


”Rea, pacar Sam." Balas Rea dengan percaya diri.


Boy yang menyaksikan interaksi ketiganya hanya melongo ketika Rea memperkenalkan diri sebagai pacar Sam. Rea rupanya sudah mulai menunjukan kepemilikan.


"Hebat sekali kamu bisa bujuk Sam." Puji Ericka. Dia menonjok lengan Sam pelan. "Pria ini susah sekali di mengerti."


'Pantas saja Sam langsung mau ketika aku minta dia menuruti Ben.' Batin Rea.


"Sayang, as you wish.. dan jangan protes kalau aku makin sibuk." Ucap Sam pada Rea di depan orang tua nya, Ericka dan juga Boy.


"Ya.. ya.. lakukan saja sesuka mu.." jawab Rea kesal.


"Oke anak-anak. Om harus kembali kerja. Kalian juga kembali ke ruangan kalian." Ben mengundurkan diri dari situ.


"Boy, antar Rea kembali ke klinik." Perintah Sam.


"Gue?" Boy menunjuk dirinya sendiri. Sekarang, Boy mengerti kenapa Sam mengajaknya ke sini.


"Kamu gak perlu khawatir sayang, karena mereka sudah tau kalau aku punya pacar." Bisik Sam pada Rea.


Sam memeluk Rea sesaat sambil mengacak acak rambutnya.


"Udah belom?" Potong Boy yang sudah lelah melihat duo bucin yang sedang mesra-mesraan.


"Boy.. kamu harus cari pacar." Saran Rea sambil berlalu dari Boy.


"Astaga.." Boy ingin meremas Rea. Baru beberapa hari bersama Sam saja sifat mereka sudah mirip. Dia tidak tau apa jadinya jika mereka berdua menikah.


Sementara perbuatan Sam membuat beberapa wanita yang sudah mengincarnya mundur teratur. Hanya Ericka yang masih berada di situ.


"Ternyata kamu normal juga ya Sam." Ejek Ericka.


"Sorry, yang ga normal itu, Juna." Sam berjalan menuju ruangan yang sudah disiapkan Dad nya. Ericka mengikuti Sam dan berjalan di sampingnya.


"Juna punya pacar. Marsha kan?"


"Apa mereka terlihat seperti orang pacaran?"


Ericka membenarkan. Juna tidak pernah dekat dengan siapapun dan hidupnya begitu datar tidak ada yang menarik. Marsha pun seperti pacaran dengan dirinya sendiri karena mereka sangat jarang terlihat bersama.


"Gimana dengan kamu, Er?" Tanya Sam kemudian.


Dia membuka pintu ruangannya. Di meja sudah ada nametag nama Samuel beserta gelarnya.


Ruangan itu berbeda dengan yang lain. Lebih besar, luas, bahkan ada kamar untuk tempat istirahat Sam.


"Wah, Om Ben memang curang." Protes Ericka melihat kesenjangan sosial ruangan mereka.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Er.."


"Gimana apanya Sam?"


"Reno sepertinya sudah punya pacar. Kamu juga carilah pacar yang ganteng seperti aku."


"Lebih baik aku jomblo deh daripada sama kamu." Ericka tertawa geli. Tapi sebenarnya dia sangat sedih dengan ucapan Sam. Reno sudah punya pacar dan ini memang mengganggu pikirannya.


"Kenapa kalian suka sekali bermain dengan gadis biasa? Apa om Ben gak protes?" Ericka duduk di sofa untuk pasien.


"No.. Dia sangat mendukung aku dan Rea. Kami bisa saja menikah besok, kalau Rea mau." Sam tertawa puas.


"Cih.. Sombong sekali.. Gimana Alden?" Tanya Ericka. Dia lupa menanyakan sosok adik Sam.


"Masi sama. Biarlah. Aku pusing mengurusnya."


Sam menggunakan jaket prakteknya. Sudah lama sekali dia tidak menggunakan ini. Terakhir Sam menggunakan ini ketika mengoperasi seseorang bernama Ana Wilson. Itupun secara ilegal.