When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Fakta mengenai Alden



"Besok, aku jemput kamu jam 9 pagi. Kita kencan." ucap Sam sebelum Rea turun dari mobil.


"Oke, Sam.. makasi ya.." Rea menarik handle pintu, tapi Sam menahannya.


"Tunggu Re.." Dengan satu gerakan, Sam menarik tangan Rea supaya Rea mendekat. Lalu dia kembali memeluk wanita itu.


"Sam, kenapa jadi kayak teletubies gini sih.." protes Rea. Tapi pria itu tampak tidak peduli. Dia tetap memeluk Rea sambil mengusap punggung Rea.


"Aku sayang kamu, Re." bisik Sam.


Setelah mengatakan itu, Sam melepaskan Rea.


Rea menutupi pipinya dengan kedua tangan, lalu buru-buru keluar dari mobil Sam sebelum pria itu mendapati wajahnya memerah.


Sam tersenyum senang. Pria itu menunggu sampai Rea masuk ke dalam rumah, baru dia pergi.


"Halo, mom. Dad ada di rumah atau dia masih di rumah sakit?" "Oke, ada sesuatu yang ingin Sam tanya." Sam memutuskan teleponnya.


Dia segera menjalankan mobil menuju rumah sakit untuk menemui Ben. Ya, malam ini Sam akan kembali membujuk Ben untuk menceritakan tentang Alden. Dia harus membereskan persoalannya dengan Alden supaya Rea juga tenang.


Sesampainya di rumah sakit, Sam menuju ruangan Ben. Dia dapat dengan mudah membuka ruangan ayahnya itu karena Sam mempunyai seluruh akses rumah sakit ini.


"Dad..Sam ingin bi.." Sam menghentikan ucapannya saat menyadari ruangan Ben kosong.


Sam duduk di kursi Ben, untuk menelepon asistennya.


"Dokter Ben sedang menemui Dokter Lukas."


'Dad sangat sibuk sekali.' batin Sam. Dia beranjak pergi, tapi tidak sengaja Sam menyenggol dokumen Ben di meja sehingga map-map itu jatuh.


Sam berjongkok untuk merapikan map-map yang sudah berserakan di bawah. Ben pasti buru-buru sampai tidak merapikan dokumen ini. Tidak biasanya Ben meninggalkan pekerjaan di meja.


Sam merapikan dengan cepat. Dia ingin pergi untuk menemui Ben sesegera mungkin.


Langkah Sam kembali terhenti ketika melihat sebuah foto yang muncul di bawah meja. Foto itu pasti tertinggal waktu Sam membereskan dokumen.


'Ini masuk mana ya?' Sam membolak balik foto lawas itu karena bingung dia harus memasukannya ke mana.


Foto seorang wanita tanpa senyum dengan rambut sebahu. Wanita itu masih muda dan wajahnya tampak familiar. Sam mengamati dengan cermat, sambil mengingat di mana dia pernah melihatnya.


"Sam.. kamu di sini?" suara Ben mengejutkan Sam.


Sam buru-buru melipat dan menyimpan foto di tangannya ke dalam saku celana.


"Ya, aku mencari Dad."


"Ada apa? Apakah ada masalah?" Ben menepuk pundak Sam, lalu dia duduk di kursi kebesarannya.


"No. Sam cuma mau kasih tau, kalau Alden sakit." Sam mengurungkan niat untuk bertanya soal Alden karena Ben kelihatan sedang lelah dan percuma juga Sam bertanya jika Ben tidak mau menjawab.


"Ya, Dad sudah tahu. Bagaimana pekerjaan mu?" tanya Ben mengalihkan pembicaraan.


"Lancar.. Sam besok libur karena ingin mengajak Rea pergi."


Ben mengangguk. Dia menatap dokumen di meja yang sedikit berantakan.


"Oke, Dad.. Sam pulang dulu." Dia berpamitan pada Ben. Ben hanya membalas putranya dengan memberi sebuah senyuman.


*


*


*


"Apa kabar, om." Sam menyeruak masuk ke ruangan Dokter Lukas.


Dokter itu melepaskan kacamatanya dan langsung memeluk Sam dengan senang. Ini adalah pertemuan pertamanya dengan Sam setelah sekian lama Sam pergi ke America.


Ya, Dokter itu adalah teman akrab dari Ben. Sam ingat, dulu Dokter Lukas sering pergi ke rumah mereka setiap akhir pekan. Dia juga rutin mengunjungi Sam di kamarnya untuk sekedar menanyakan kabar dan memberikan Sam semangat.


"Om juga begitu hebat karena masih betah menjadi dokter." canda Sam.


Dokter Lukas tertawa. Dia mengajak Sam untuk duduk. Banyak hal yang ingin Dokter Lukas tanyakan pada Sam.


"Tadi, Om bertemu dengan Alden." Dokter itu memulai pembicaraan.


"Ya, Sam tahu."


"Lalu, apakah kamu ke sini untuk tanya keadaan Alden?"


Sam menggeleng. Dia mengeluarkan foto yang tadi diambil dari ruangan Ben. Dia memberikan foto itu pada Dokter Lukas.


Raut wajah Dokter Lukas langsung seketika berubah. Dia menatap Sam dengan tidak percaya.


"Sam, bagaimana bisa kamu.."


Tebakan Sam benar. Dia yakin ada sesuatu dari foto itu karena Sam tidak asing dengan wajahnya.


"Jadi, dia siapa om?"


"Om tidak akan jawab, karena itu data pasien."


"Om Lukas, Sam mohon.. keluarga Sebastian sedang tidak baik-baik saja sekarang. Alden kabur dari rumah dan karena kami bertengkar setiap saat." desak Sam dengan wajah memelas.


Om Lukas tampak berpikir. Dia tadi sempat bertanya dalam hati kenapa Alden berada di rumah sempit seperti itu. Tapi karena Valen sepertinya juga ingin tahu tentang hidup Alden, Om Lukas mencari jalan aman untuk cepat pergi dari sana.


Sekarang giliran Sam yang bertanya. Sebenarnya Lukas tidak mau banyak ikut campur dengan urusan keluarga temannya ini, karena dia hanya tahu sebagian cerita mereka, khususnya ketika Sam dan Alden masih kecil. Dan, Ben yang baru saja bertemu dengannya tadi tidak bercerita tentang Sam dan Alden.


"Om,,Apakah Om mau tolong Sam?"


Om Lukas menghela nafas panjang. "Baiklah, om akan cerita.."


*


*


*


Sam melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia berulang kali berteriak sendiri seperti orang gila.


Percakapan dengan Lukas tadi sudah membuka semua misteri kenapa Alden membencinya.


"Dia itu Mira.. Pendonor jantung kamu. Dia hamil di luar nikah dan memiliki satu anak yang hampir saja dia gugurkan. Kehidupannya sangat susah dan dia meminta Ben untuk mengurus anaknya. Karena Ben kasihan, dia mengijinkan Mira untuk menjadi pembantu di rumah mu sambil mengurus anaknya. Tapi dengan syarat, dia tidak boleh memberi tahu anaknya jika dia itu ibunya. Jika anaknya tahu, maka Ben akan mengusir mereka berdua."


"Anak itu Alden?" tebak Sam dengan suara tercekat.


"Ya. Itu Alden. Mira juga berniat untuk menyembunyikan ini dari Alden, karena dia sakit kanker. Dan waktu melakukan check up, jantungnya pas dengan jantung kamu."


Pantas saja Sam merasa pernah melihat wanita itu. Dan mata Mira memang sama seperti Alden.


Sam pergi ke arah luar kota, tepatnya ke sebuah villa milik keluarga Sebastian. Dia harus melampiaskan semua amarah dan rasa kesalnya karena tidak dapat menerima hal ini.


Beberapa kali Sam hampir saja menabrak mobil dan pengendara motor lain. Dia sudah tidak bisa mengendalikan dirinya lagi.


Begitu sampai, Sam segera masuk kamarnya dan mengamuk di sana. Dia menyapu semua barang di meja, melempar bingkai figura foto keluarga Sebastian dan terakhir, dia memukul kaca lemari.


Darah segar mengalir dari sela-sela jarinya.


"Kamu sangat menyedihkan, Samuel Sebastian." ucapnya pada diri sendiri.


Sam terduduk lemah, seolah semua tulangnya hilang. Selama ini dia berpikir adalah korban dari Alden yang tempramen, tapi sebaliknya, Alden lah korbannya.