
Sam berjalan gontai menuju ke sebuah rumah yang gelap di ujung gang. Rumah itu tidak besar, tapi terlihat asri karena ada tanaman di halaman.
Sudah sejak lama Sam sangat ingin menemui adik nya itu. Dia bisa dengan mudah menemukan tempat atau persembunyian Alden, tapi dia sengaja untuk tidak menemuinya karena pasti berujung pertengkaran.
Sam mengetuk pintunya tidak sabar. Satu menit tidak ada yang keluar.. dia kembali mengetuk pintu sambil memanggil nama Alden dengan keras.
‘Ceklek’ Alden membuka pintu dengan setengah sadar.
Sam langsung mendorong Alden dan menyeruak masuk ke dalam. Tindakan Sam yang agresif itu segera membuat Alden langsung tersadar.
“Ngapain lo ke sini.” Bentaknya.
Sam melihat sekeliling. Rumah ini begitu berantakan dan pengap. Temboknya pun sudah mengelupas. Sekilas Sam hanya tersenyum miris.
“Kita selesai kan masalah kita malam ini juga.” Tantang Sam.
“Sorry, gue udah putus hubungan sama keluarga Sebastian.”
“Alden Sebastian!” Bentak Sam lagi. Dia tidak peduli kalau tetangga akan mendatangi rumah mereka.
Buk. Sebuah pukulan mendarat di pipi Sam yang belum sepenuhnya sembuh. Alden mencengkram kerah baju Sam, lalu dia melemparkan Sam dengan mudah ke meja. Tindakan Alden itu sukses membuat meja kaca yang tertimpa Sam pecah dan hancur berantakan.
“Udah cuma seperti ini aja? Kamu ga pernah bisa diajak bicara baik-baik.” kata Sam sinis.
Sam mencoba berdiri, tapi Alden menyeret Sam dan membuat pecahan kaca tadi merobek celana Sam dan menembus sampai ke kulitnya.
Sam hanya tertawa dan itu membuat Alden semakin kesal.
“Kamu boleh ga suka aku, tapi Dad mau kamu pulang.”
Sam berdiri. Dia mulai merasakan perih di kakinya, dan memang darah segar sudah mengalir membasahi celana jeans terang yang dia pakai.
“Sampai kapanpun aku tidak akan kembali ke sana dan tinggal bersama orang licik seperti kalian.”
“Apa maksud kamu Den?”
“Tanya saja sama Tuan Ben yang terhormat.”
Alden akan kembali menghajar Sam,tapi Sam menahannya. Sam bukannya tidak bisa membalas Alden, dia hanya tidak mau meladeni tingkah Alden.
“Dad sudah susah payah besarin kamu,, tolong dewasa sedikit.” Sam meghempaskan tangan Alden, lalu membuka dompet nya dan melemparkan sebuah kartu ATM ke kursi. Dia tidak akan menyeret Alden keluar sekarang karena dia harus mengobati lukanya terlebih dulu.
*
*
*
Alden melihat sekeliling kostnya. Kost nya tidak besar. Hanya ada satu kamar tidur, dapur kecil dan juga kamar mandi. Temboknya pun sudah mulai menguning dan mengelupas. Entah sudah berapa tahun dia tinggal di sini. Alden sampai tidak ingat lagi. Yang dia ingat hanya lah alasan dia tidak mau kembali lagi ke keluarga Sebastian. Keluarga Sebastian adalah keluarga kaya raya di kota ini. Mereka menjalankan beberapa bisnis salah satunya yang terbesar adalah rumah sakit. Mereka juga punya beberapa rumah sakit di luar negeri
Sayangnya, Alden hanya anak angkat. Mereka punya satu anak lagi, Samuel Edward Sebastian.
Sam berbeda 180 derajat dari Alden. Dia anak pintar, good boy, dan bisa melakukan segalanya yang dia suka.
“Alden, keluar lo. Atau gue lapor polisi.” Seseorang mengetuk pintu dengan kasar.
Alden tau siapa yang datang, dan dia sangat malas meladeni orang itu.
Duk duk duk.
Suara pintu diketuk semakin keras. Dia akhirnya tidak punya pilihan lain selain membuka kan pintu.
“Lo apain Sam, hah?”
“Astaga,,, dia udah kepala 3, masih aja ngadu?” Ejeknya.
“Kaki Sam di jahit, pasti lo kan?”
Alden melepaskan tangan Boy dengan kasar. Dia tidak suka disentuh oleh orang seperti Boy.
“Dia ga mungkin mati,santai aja lah...”
“Lo memang sinting..” Boy tampak putus asa. Kalau tidak ingat Sam masih di rumah sakit, dia pasti akan hajar Alden. Boy memutuskan pergi untuk menemui Sam di rumah sakit.
Alden hanya tersenyum sinis. Teman kakaknya memang 11:12.. sama-sama aneh dan juga tidak rasional padahal mereka orang yang pintar.
Alden mengambil atm yang di lemparkan Sam. Seperti biasa, dia harus menerjemahkan sendiri apa maksud Sam dengan memberikannya ATM.
“Apa ada hubungan apa sama Rea?” Tiba-tiba Alden teringat Rea.
Sam sempat datang dan menolong Rea. Mereka tampak sudah saling kenal. Apakah Rea menceritakan jika dia selalu minta uang dari Rea selama ini?
Alden mengambil ponselnya, lalu menekan angka 1 yang akan langsung terhubung pada Rea.
“Halo..Rea..” sapa Alden ramah dengan suara khas nya.
“Kenapa lagi?”
“Galak amat.. aku mau minta maaf soal kemarin.."
“Hmmm..”
“Aku janji akan ganti semua yang aku pinjam dari kamu..”
“Uang dari mana? Kamu jangan macem-macem ya...”
Alden terdiam sesaat. Rea mungkin tidak tau identitas aslinya. Rea memang tidak terlalu cantik, tapi dia sangat polos dan tulus. Dia tidak pernah memandang Alden miskin atau kaya. Dulu memang awal mereka pacaran, Alden masih punya uang sisa di ATM pribadinya dan juga dia menjual barang branded yang sempat dia bawa. Sekarang semua sudah habis dia jual.
“Bisa kita ketemu? Ada sesuatu yang mau aku ceritakan..”
Hening sesaat. Alden hanya menunggu jawaban Rea yang 99% pasti menolak.
“Di telepon aja..”
“Panjang Re.. atau oke, nanti aku ceritain kalau kamu sudah siap. Sekarang aku ganti dulu uang kamu..sekali lagi aku minta maaf ya atas sikap kasar yg kemarin..”
Tut tut.. telepon terputus. Reaksi yang wajar ketika seorang perempuan sedang kesal, marah, jengkel, dongkol.
Alden menarik nafas panjang. Dia kembali memandang ATM dengan nomer pin di belakangnya. Akhirnya setelah sekian lama, Alden bisa mendapatkan ATM lagi yang entah ada berapa isinya. Hal yg dia sangat inginkan dari dulu. Sejak pergi dari rumah Sebastian, Alden kehilangan semua fasilitasnya.
ATM dari Sam ini bagaikan angin segar untuk Alden.
*
*
*
Senyum Alden terkembang ketika dia mengecek saldo di ATM centre. Ternyata Sam memberikan jumlah yang cukup banyak untuknya. Dengan uang di ATM nya, Alden bisa membeli sebuah mobil dan rumah. Ya, saldo ATM di tangan nya itu berjumlah 5M. Hal yang pertama Alden akan lakukan adalah mengganti uang Rea. Dia besok akan menemui mantan nya itu dan mengembalikan uangnya.