
Alden berjalan mondar mandir di depan ruang ICU. Otak nya tidak dapat bekerja dengan baik karena dokter belum juga keluar dari dalam. Lidia sejak tadi tidak berhenti menangis bersama salah seorang asistennya.
Tidak lama, Boy berlari datang menghampiri Alden.
"Bagaimana keadaan Rea dan Om Ben?" tanya Boy setengah berteriak. Dia sangat terkejut karena Sam menelepon jika Rea dan Ben kecelakaan.
"Belum tahu."
Dokter keluar dari ruang ICU membuat percakapan mereka terhenti. Raut wajah dokter itu tidak terlalu baik.
"Tuan Ben terkena serangan jantung. Kami sudah mengoperasinya, tapi keadaannya masih belum baik."
"Bagaimana dengan Rea?" tanya Alden.
"Rea juga sama. Masih kritis.Tangan kirinya patah."
Alden terduduk lemas. Dia tidak bisa membayangkan kehilangan 2 orang sekaligus seperti ini. Lidia menangis meraung-raung karena ucapan dokter tadi. Alden langsung memeluk Lidia untuk menenangkannya.
"Apa Sam sudah tau?"
"Dia sedang perjalanan ke sini."
*
*
*
Sam sampai sehari setelah kecelakaan itu. Dia langsung masuk ke tempat Ben di rawat. Ruang ICU itu kosong, hanya ada Ben yang terbaring lemah dengan alat detak jantung yang masih belum stabil.
"Dad.. Sam datang.." ucap Sam lemah. Dia memegang tangan Ben yang dingin. "Sam kembali, Dad.."
Tanpa disadari, air mata Sam meluncur keluar. Dia sangat sedih melihat ayahnya tidak berdaya dengan beberapa luka di tubuhnya yang masih terlihat jelas.
"Sam minta maaf, Dad. Tolong cepatlah sadar."
"Sam, Dad harus di pasang ring. Apakah kamu mau mengoperasi dia?" tanya seorang dokter yang bertugas menjaga Ben.
"Apakah bisa di lakukan sekarang?" Sam menghapus air matanya. Dia menarik nafas panjang. "Baiklah, siapkan operasinya.. aku harus menengok satu pasien lagi."
Sam keluar masih dengan menggunakan scrub suits nya, menuju ke tempat ruang di mana Rea di rawat. Kondisi Rea sudah mulai membaik, tapi dia belum sadar juga. Tangan Rea di gips, dan Sam dapat melihat luka jahitan di pelipis Rea.
Sam mendekat, dan langsung memegang tangan Rea. Dia mencium tangan Rea, lalu meletakkan pada pipinya.
"Re, aku disini." bisik Sam. "Aku minta maaf, aku tidak memikirkan perasaan mu." "Aku mohon, sadarlah.. ada yang belum sempat aku katakan sama kamu, Re.." ucap Sam sedih.
"Sam.."panggil seseorang dari belakang.
Alden masuk bersama dengan Boy. Sam melepaskan tangan Rea, lalu dia memeluk Alden sambil menangis. Hari ini Sam sangat emosional. Dia begitu sedih karena harus mengoperasi Ben dan melihat Rea belum sadar.
"Sabar, Sam.. semua akan baik-baik saja. Rea pasti akan segera sadar karena kamu ada di sini." hibur Alden.
"Alden benar, Sam." Boy menepuk pundak Sam pelan.
Sam melepaskan Alden, lalu kembali pada Rea. Dia membenarkan rambut Rea, dan mengusapnya dengan lembut. Sam perlu melakukan operasi Ben sekarang dan untuk sementara dia harus meninggalkan Rea.
"Re, I love you. Aku pergi sebentar." Sam mencium kening Rea.
Tangan Rea bergerak. Dia membuka matanya perlahan.
"Syukurlah Re.." Sam memeluk Rea sambil menangis. Dia merasa lega karena Rea bisa sadar.
"Kamu siapa?" tanya Rea dengan suara lemah.
Sam melepaskan Rea. Dia memandang Rea dengan heran. Apakah kisah cintanya akan berakhir seperti di sinetron? Apakah Rea hilang ingatan?
"Dokter, permisi sebentar." perawat datang, dan dia menggeser Sam yang masih terus menatap Rea. Begitu juga dengan Rea. Dia masih menatap Sam dengan raut wajah yang kebingungan.
Boy menahan Sam supaya dia tidak mengganggu perawat dan dokter. Tidak lama, dokter selesai melakukan pemeriksaan.
"Bagaimana, dok? Apa dia lupa ingatan?" tanya Sam panik.
"Dia baik. Memang ada luka di kepalanya, tapi kita perlu melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Coba kalian bicara dulu. Kalau memang dia lupa ingatan, kita akan lihat apakah itu pengaruh obat bius atau memang dia amnesia." jelas Dokter itu pada Sam, Alden dan Boy.
Setelah dokter itu pergi, Alden, Boy dan Sam menghampiri Rea. Rea menatap satu persatu 3 pria yang berdiri di depannya.
"Re, kamu ingat siapa aku?" tanya Boy lebih dulu.
Rea mengangguk lemah. "Boy.. aku kenapa?"
"Kamu kecelakaan, Re." sahut Alden.
"Alden, bagaimana om Ben?" tanya Rea lagi.
Ini membuat Sam tambah bingung. Rea mengingat semuanya, tapi kenapa Rea tidak mengingat pacarnya sendiri?
"Dad hanya perlu menjalani operasi pemasangan ring sekali lagi, dan Sam yang akan mengoperasinya." jelas Alden sambil menoleh pada Sam.
Rea pun menoleh pada pria tinggi yang tampan itu. Wajahnya tampak lelah dan matanya berkantung hitam.
"Kamu tidak ingat aku sayang?" Sam melangkah maju, dan meraih tangan Rea lagi.
"Tidak.." Rea melengos ketika Sam semakin mendekat kepadanya.
Alden menyenggol tangan Boy dan memberikan kode supaya mereka keluar dari ruangan. Boy yang tidak mengerti maksud Alden hanya berdiam diri dan masih menonton adegan sinetron di depannya. Karena tidak peka juga, akhirnya Alden terpaksa menyeret Boy untuk keluar dari kamar Rea.
"Re, aku minta maaf.. Aku sungguh tidak ingin ini terjadi. Aku janji akan melakukan apapun yang kamu mau, Re.." Sam mulai putus asa dengan keadaan yang terjadi sekarang. "Apa kamu tidak ingat sama sekali pada pacar mu yang tampan ini?"
Rea tertawa kecil. Dia menengok kembali pada Sam dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kamu harus tepati janjimu, Sam."
Sam membulatkan matanya. Dia tidak percaya jika Rea hanya mempermainkannya saja. Dia tidak lupa ingatan. Sam memeluk tubuh Rea pelan.
"Makasih Re. Aku benar-benar takut sekali kamu melupakan ku."
Rea menangis di pelukan Sam. Ketika membuka mata tadi, Rea jelas ingat pada Sam. Tapi dia sengaja mengerjainya karena Rea kesal pada Sam yang tidak mau kembali ke Indonesia.
"I miss you Samuel Sebastian." ucap Rea di sela tangisannya.
"Miss you more, Rea Renata." sekali lagi Sam mengecup dahi Rea. "Aku tidak akan pergi lagi, Re."
Rea mengangguk. "Sekarang, kamu tolong Om Ben..Aku tidak ingin mendengar kabar buruk."
"Pasti aku akan melakukan yang terbaik." Sam melepaskan Rea. "Kamu istirahat dulu.. aku akan kembali 4 jam lagi." Sam menghapus sisa air mata Rea dengan tangannya. Dia merasa sedikit lega, karena Rea sudah sadar. Sekarang Sam harus menolong ayahnya yang masih belum pulih.