
Pagi ini Rea datang dengan mata bengkak dan juga ada lingkaran hitam di sekitar matanya. Penampilan Rea itu sangat membuat teman-temannya khawatir. Seperti biasa, begitu datang, Rea memasukan tas nya ke loker. Dia mengikat rambutnya sambil bercermin.
“Makin jelek aja nih..” ucapnya pelan.
“Kenapa Re? Ada masalah?” Helen, sohib Rea yang lain menghampiri wanita itu.
“Biasalah,, Alden..”
“Gila sih, masih ada muka dia ketemu sama lo.”
“Aw,,” Rea menjerit saat Helen menepuk punggungnya.
“Kenapa lo?” Tanpa basa basi dia mengangkat kaos Rea. Ada bekas sebesar bola tenis yang menghitam. Dia juga melihat tangan Rea yg di perban. “Rea lo harus lapor polisi.”
“Lebay lo. Biarin aja sih.. Gue cuma jatuh aja.” Rea menepis tangan Helen yang masih memandang lukanya. Dia mengambil baju kerjanya dari loker dan langsung memakainya. Helen hanya diam saja melihat kebodohan temannya. Kalau Rea sudah bucin, dia akan melebihi makhluk alien. Percuma juga kalau dia kasih saran.
“Oh iya, ada pasien tuh di ruang 2. Ini tamu vip ya..”
“Siapa? Miss Kim?” Tanya Rea penasaran.
“Bukaan.. dia baru pertama sih.. Udah siap tuh,, cepetan..ntar dia ngomel lagi.”
Rea buru-buru pergi ke lab untuk mengambil treatment yang sudah disiapkan. Ruang 2 ada di pojok dan merupakan ruang terpisah. Tamu VIP tidak suka jika mereka di gabung menjadi satu bersama yang lainnya, jadi Valen menyiapkan beberapa ruang VIP untuk para pasien eksklusif nya.
Ketika masuk ke dalam, Rea hampir melemparkan benda-benda yang dia bawa di tangannya.
“Sam” teriaknya.
Sam sudah tidur di kasurnya dengan tenang sambil mendengarkan musik.
“Ngapain kamu di sini sih.” Protes Rea. Dia sedikit takut dengan pria itu. Bagaimana tidak, Sam bisa tau nomer ponsel Rea sekaligus alamat rumahnya.
“Perawatan lah,, apalagi..”
Rea duduk dengan ragu-ragu. Masalahnya adalah, kalau dia melakukan perawatan ke Sam, dia akan menatap wajahnya dari dekat. Ini sangat menakutkan, karena tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Sam tidak bergerak dan menunggu Rea dengan tenang. Rea melepaskan kacamata Sam, lalu terlihat jelas wajah Sam yang bersih dan tampan. Wajahnya terlalu bersih untuk melakukan perawatan. Rea mulai curiga kalau Sam ini bukan karyawan..
“Aku tau, ada banyak pertanyaan di kepala mu... sama,, aku juga.” Sam membuka matanya, dan menatap Rea.
Rea terkejut, dan segera memalingkan pandangannya. Dia mengambil toner dan kapas, dan mulai membersihkan wajah Sam.
“Tutup mata.” Perintahnya.
Mau tidak mau, Sam menutup matanya mengikuti arahan Rea.
“Oke, kita memang baru kenal, tapi kita bisa gunakan cara ini untuk saling mengenal. Gimana?” Tawarnya.
“Bukan suatu keharusan kan?” Balas Rea.
“Baiklah,, jadi aku bisa datang lagi kalau memang kamu ingin lebih lama berbagi rahasia.” Sam mengintip dengan satu matanya, dan berkedip genit.
Rea sungguh ingin menjambak rambut Sam. Untung dia menahan emosinya karena ingat bahwa Sam adalah tamu VIP.
“Oke.. pertama, kenapa kamu kok bisa jadi member Vip di sini, padahal kamu pegawai biasa?" Rea mulai memberikan pertanyaan pada Sam. Dia juga sedikit penasaran dengan Sam. Member VIP Klinik Beauty Skin ini terbilang cukup mahal karena hanya para pejabat dan artis yang mampu menjadi member. Jika Sam mampu, berarti dia bukan orang biasa.
“Hmmm,, Tadi daftar di resepsionis sih..” jawab Sam asal.
“Iya itu sih tau.. cuma...” Rea menghentikan ucapannya. Rea sudah melihat beberapa jenis orang yang melakukan perawatan di sini, dan Sam tidak mencerminkan seperti orang susah. “Kamu itu siapa?”
“Samuel Edward..seorang pegawai IT biasa. Memang kamu berharapnya aku itu siapa?”
“Ya kali aja kamu itu anak konglomerat yang menyamar jadi orang susah.” Jawab Rea asal.
“Apa?” Tali pita suara Rea hampir putus karena berteriak. Dia menatap Sam dengan wajah Shock. Sam membuka matanya sesaat, tapi kemudian menutup nya lagi sambil tertawa kecil.
“Dad punya beberapa rumah sakit. Aku juga baru saja kembali dari America dan menyelesaikan sekolah di sana dengan gelar Dokter bedah.” Jelas Sam enteng.
Rea menutup mulutnya. Sejak awal memang Sam tidak terlihat seperti orang susah. Mungkin efek kacamatanya yang membuat orang mengira Sam orang culun. Di tambah lagi, kemarin Sam kasih antibiotik yang hanya bisa di dapat dengan resep dokter. Perban yg dipakaikan Sam juga sangat rapi.
“Sorry.. harusnya bapak kasih tau lebih awal..”
“Bapak? Bisa ga sih.. ngomong nya jangan kaku gitu. Panggil Sam kek.. mas, bang, koko..” Sam menyebutkan jenis-jenis panggilan yang umum di negara ini. "Lagipula, usia lebih muda dari kamu, Re." ucap nya santai.
"Iya, maaf Sam." kata Rea ragu-ragu.
“Oh iya, ini rahasia.. jangan kasih tau yang lain.. kalau ....semua cerita ini...bohong.” ucap Sam sambil tersenyum kecil.
Rea cuma mencibir. Tapi dalam hati dia tersenyum lega karena ternyata itu tidak benar. Akan sangat menakutkan jika apa yang dikatakan Sam itu benar. Pemilik beberapa rumah sakit? Dokter Bedah? Ternyata Sam bisa melucu juga.
Kali ini Rea mulai melakukan ritual untuk mengangkat komedo. Dia menyalakan lampu dan meneliti wajah Sam. Seharusnya Sam memang tidak perlu melakukan perawatan. Rea rasa komedo pun minder pada Sam.
"Terus, apa hubungan kamu dengan Valen?” tanya Rea lagi.
“Aku pernah tolong Papa Valen. Dan sekarang aku minta imbalan supaya bisa menikah sama Valen. Kemarin sebenarnya aku mau bahas tentang perjodohan ini.” Jawab Sam Jujur.
Rea sempat terhenti sebentar, lalu melanjutkan lagi. Dia hanya membalas dengan kata oh.. pantas saja Valen kabur kemarin. Dan semua pertanyaan akhirnya bisa terjawab satu persatu. Rea sudah mendapat garis besarnya. Tapi, yang dia heran sekarang, kenapa Valen menolak Sam? Sam tampan, juga pintar, dan wangi.
“Apa lagi?” Tantang Sam. Rea memandang luka di pangkal bibir Sam. Ini pasti karena pukulan Alden kemarin. Dia mengusap lembut lukanya. Tapi, tetap saja Sam merasakan perih.
“Kamu kenal Alden?”
“Waktu habis. Sudah lebih dari 2 pertanyaan.”
Rea terkejut mendengar suara Sam yang dia rasa bisa menembus sampai keluar.
'Gimana sih katanya suruh tanya lagi,,' omel Rea dalam hati.
Rea kembali fokus dengan wajah Sam. Bau parfum Sam yang sama dengan kemarin mulai membuat Rea nyaman untuk berdekatan dengan pria itu.
“Sorry soal kemarin,, terima kasih juga...” kata Rea pelan.
“Kamu masih sakit?” tanya Sam tanpa membuka matanya.
“Ya,, tapi besok juga sembuh..”
Rea menyelesaikan nya dengan cepat. Dia tidak tahan kalau melihat wajah Sam terlalu dekat. Dia bangkit dari bangkunya dan meracikan masker untuk Sam.
“Sekarang giliran aku yang tanya dong?” Sam menengok ke arah Rea.
Rea hanya meliriknya sebentar lalu berfokus pada kerjaannya tanpa menjawab Sam.
“Ganteng mana aku sama Alden?”
Pertanyaan pertama Sam sukses membuat Rea menengok. Dia salah menebak. Ternyata pria ini tidak seperti pertama kali dia temui. Kelihatannya Sam cukup pendiam, tapi kenapa sekarang dia cerewet sekali.
“Alden dong..” jawab Rea singkat. Alden juga tidak kalah keren dari Sam. Dia punya postur tubuh bagus, wajah maskulin dan juga modis. Tapi, semua itu hancur dalam satu kata, “mantan”.
"Berarti aku harus lebih sering perawatan disini.”
“Astaga Sam,,, muka kamu udh mulus, bersih,, apa lagi yg perlu di rawat?” Protes Rea. Sebenarnya dia tidak mau Sam terus menerus muncul. Rea mempercepat kerjaannya lagi. Dia segera memberikan masker ke wajah Sam supaya Sam tidak bersuara lagi.
Cara Rea berhasil karena rupanya Sam diam. Lebih tepatnya dia tertidur. Rea bernafas lega. Dia memberanikan diri untuk memijit kepala Sam dengan pelan sambil menunggu masker kering.
“Anggap ini bonus karena kemarin kamu sudah menolong aku."