When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Kecelakaan



Satu tahun kemudian


Rea menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada yang berubah dalam kehidupannya. Sam tetap tidak mau kembali ke Indonesia dan Rea tidak mau memaksa Sam lagi.


Hubungan Rea dan Alden pun semakin membaik. Meskipun Rea sudah tidak ada perasaan pada Alden, tapi mereka bisa bersahabat dan saling curhat.


Boy juga kerap datang ke klinik untuk mengecek Rea dan memberikan laporan pada Sam tentang keadaan Rea. Seperti pagi ini, Boy datang dengan membawa kopi untuk seluruh karyawan.


"Pagi, Gadis cantik.." sapa Boy ramah.


"Tidak perlu merayu, Boy." jawab Rea jutek.


"Maksud aku, Gadis yang ini." Boy beralih memandang Gadis yang sedang tersipu malu.


"Cih, dasar playboy tengik."


Rea memilih untuk masuk daripada mengurusi Boy. Tapi Boy segera menahan tangan Rea untuk tetap berada di situ.


"Dis, tolong kamu bagikan ini ya.. aku ingin bicara dulu dengan Rea."


Gadis mengangguk meskipun dalam hati dia kepo karena ingin tau apa yang dibicarakan Boy dengan Rea.


Setelah memastikan Gadis pergi, Boy baru bisa membuka mulutnya.


"Aku dengar Valen pergi ke America?" tanya Boy setengah berbisik.


"Ya,, dari satu bulan yang lalu."


"Apakah ini bukan kebetulan? Dia sedang mengejar Sam?"


"Entah lah. Kalau iya pun, kenapa?" Rea balik bertanya.


"Kalian memang pasangan gila."


Rea terdiam dengan ekspresi datar. Boy memang benar. Dari semua pria yang pernah berpacaran dengan Rea, Sam lah yang paling sulit di pahami. Rea tidak tahu jika jatuh cinta dengan Dokter Samuel akan serumit ini.


"Boy, aku sudah mencoba segala cara, bahkan sampai berpura-pura sakit. Tapi dia tidak peka juga." kata Rea putus asa.


"Lo jangan nyerah dong.. Gitu aja nyerah."


"Siapa bilang?" "Lo kan bisa lacak Sam..nanti lo kasih laporan ke gue."


Boy menghela nafas panjang. Dia harus bersabar untuk menjadi perantara antara Sam dan Rea. Boy hanya berdoa semoga mereka cepat sadar akan perasaan masing-masing, jadi dia juga bisa berfokus pada hidupnya sendiri.


Telepon Rea berdering. Om Ben calling..


Rea menatap ponselnya cukup lama sampai akhirnya dia menekan tombol hijau.


"Halo, Rea.. apakah nanti malam kamu sibuk?"


"Emm.. enggak om. Gimana om?"


"Om ingin ajak kamu makan malam di rumah."


"Oh.. iya om.. nanti Rea ke rumah." jawab Rea dengan santai. Dia pikir Ben menelepon karena ada sesuatu yang penting. Kalau cuma makan malam di rumah, keluarga Sam memang kerap mengajaknya.


"Tidak usah,, nanti Om jemput kamu. Sekalian jalan pulang."


"Oke, baik Terima kasih Om.."


"Ada masalah?" tanya Boy yang penasaran.


Boy mengangguk pelan. Dia akan memberitahu Sam tentang hal ini. Hal sekecil apapun harus Boy laporkan supaya Samuel bisa tenang di America.


*


*


*


Tin.. tin..


Suara klakson mobil jaguar hitam itu mengejutkan Rea yang sedang melamun. Ben membuka kaca mobilnya, lalu tersenyum pads gadis yang tampak lelah itu.


"Ayo, naik nona."


Rea cukup heran karena Ben menyetir sendiri. Biasanya Ben menggunakan sopir ke manapun.


"Apa kabar, Om?" tanya Rea ramah. Sudah cukup lama sejak terakhir mereka bertemu. Dia melihat ayah Sam itu semakin tua dan jauh lebih kurus. "Kenapa nyetir sendiri om?"


"Sopir om sedang cuti."


Ben mulai menjalankan mobilnya. Rea merasa sedikit canggung berdua saja dengan Ben. Memang orang tua Sam sangat baik, tapi Rea harus sedikit menjaga sikapnya di depan Ben.


"Bagaimana dengan Sam? Komunikasi kalian lancar?"


"Ya, seperti itu lah om, anak om itu aneh sekali.." Rea keceplosan dan dia segera menutup mulut dengan tangannya. Baru saja beberapa detik Rea bertekad jaga image, dia sudah bicara hal buruk tentang Sam.


Ben tertawa mendengar tanggapan Rea yang putus asa.


"Bagaimana kalau kita berempat saja yang ke America?" kata Ben sambil menengok pada Rea.


"Rea ga punya uang, om."


"Rea.. kita pakai pesawat pribadi. kamu cukup bawa pakaian saja."


"Om, punya pesawat?" teriak Rea heboh. Dia tidak tahu jika Ben sekaya itu.


Ben mengangguk. Sama seperti Sam, Ben sangat menyukai kepolosan Rea. Dia wanita yang lucu dan sederhana.


"Om keren banget.." puji Rea.


Ben tidak, menjawab karena tiba-tiba Ben merasakan dadanya sakit. Dia berusaha tetap tenang, dan bersiap menepi, tapi sakitnya tidak tertahankan lagi.


Rea yang melihat perubahan Ben langsung panik, karena mobil berjalan tidak stabil.


"Om, om kenapa om?"


Ben sudah tidak bisa memegang stirnya dan mobil dari arah berlawanan yang melaju cepat menabrak mobil mereka.


'BRAK'


Orang-orang berlarian menolong mobil yang sudah rusak parah itu. Seorang pria mengambil ponsel Rea dan menekan tombol darurat untuk menghubungi keluarganya.


"Halo, Re, ada apa?"


"Halo, maaf, saya menelepon anda karena pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan. Apakah anda bisa ke sini sekarang?"


"Kecelakaan apa?"


"Dia kecelakaan mobil bersama seorang pria. Sekarang kondisinya tidak terlalu baik."