
Kehamilan Rea menjadi kabar yang membahagiakan untuk Ben dan Lidia. Mereka sangat menjaga menantu kesayangan mereka itu, sampai menyuruh Rea tidak mengerjakan apapun. Mereka juga memenuhi segala keinginan Rea, meskipun itu tidak masuk akal dan sulit dimengerti. Kemarin Rea minta untuk makan rujak yang mangganya dikupas oleh Sam. Masalahnya, Sam sedang mengoperasi orang. Sopir harus membawa mangga dan pisau ke rumah sakit, lalu setelah di kupas dia kembali ke rumah.
Hari ini Sam sudah tidak mau menuruti Rea dengan permintaannya yang tidak masuk akal.
"Sam, Kamu tidak sayang pada anak mu?" Ben menatap Sam yang sedang menikmati sarapannya.
"Sam, sangat sayang dia Dad.. Itu tidak perlu di ragukan." jawab Sam penuh keyakinan.
"Tapi dia ga mau menuruti permintaan Rea, Dad." ucap Rea sedih.
'Haduh,, drama Korea lagi..' batin Sam. Jika Sam macam-macam, Rea akan mengadu pada Ben dan Lidia.
"Sam,, ayo lah.." pinta Lidia yang kasihan pada Rea.
"Mom, kalau permintaannya masuk akal, Sam akan lakukan. Tapi ini.." Sam menghela nafas kasar. Permintaan Rea kali ini terlalu berat.
"Sam.." rengek Rea.
"Oke, oke.. setel musicnya." Sam berdiri di depan Rea, Lidia dan Ben.
Ya, Rea minta Sam untuk menari chicken dance.
Sam membuang urat malu nya, lalu mulai menari mengepak-ngepak kan tangannya seperti ayam.
Rea langsung tertawa terbahak-bahak melihat seorang dokter bedah yang jenius menari menggoyangkan tangan dan pantatnya. Dia tidak lupa mengambil ponsel untuk mengabadikan momen langka ini.
"Sudah belum? Aku mau berangkat." keluh Sam.
"Satu kali lagi." pinta Rea dan kembali memutar lagu dari awal.
"Kalau sekali lagi kamu minta ini, aku akan minta jatah nanti malam." ancam Sam.
"Sam.." omel Ben.
"Wah, sekarang anak Daddy sudah berganti nama menjadi Rea."
Rea tidak dapat menahan air matanya lagi karena Sam yang tampak menggemaskan saat kesal.
*
*
*
Perubahan mood Rea selama kehamilan ini sungguh tidak dapat di prediksi. Selain mengerjai Sam, Rea selalu saja menempel pada Sam tiap kali melihatnya. Sam pergi ke dapur, Rea minta di gendong dan ikut. Sam pergi bertemu Boy, Rea ikut. Sekarang, Sam pergi bekerja, Rea juga ikut. Tentunya setelah minta ijin dari Ben.
"Suster, mana pasien berikutnya?" tanya Sam pada perawat yang sejak tadi menahan tawanya.
"Ya, tidak apa-apa. Dia temanku." Sam melihat jika pasien berikutnya adalah Boy.
Suster pergi, dan tidak lama Boy membuka pintu ruang praktek Sam. Boy yang melihat kemesraan mereka hampir saja keluar lagi, jika Sam tidak memberinya kode untuk duduk.
"Wah, Alden part 2." ejek Boy.
"Jangan menghina ku Boy, memangnya kamu tidak pernah seperti ini?" "Sayang, satu sendok lagi.. aaa..." Sam bicara dengan Boy dan Rea bergantian.
"Hahaha.. Marsha hanya bisa mesra di atas ranjang saja."
"Apakah dia tidak nyidam aneh-aneh?" tanya Sam penasaran. Boy mendengar jika Marsha juga sedang hamil."
"Tidak ada. Aku saja heran.. Dia justru berubah jadi singa africa." jawab Boy dengan wajah yang lesu.
"Semoga anak kita bisa lahir sama-sama." celetuk Rea. Pasti akan sangat menyenangkan jika Sam dan sohibnya itu bisa mempunyai anak di hari yang sama.
"Jangan bicara seperti itu, Re. Kamu tau, terakhir Sam bicara, semua nya jadi kenyataan. Aku terkena scandal dengan Marsha dan harus menikah dengan wanita itu." Boy kembali mengingat percakapan mereka beberapa tahun yang lalu.
"Kalian nikmati saja,, namanya orang nyidam ya aneh-aneh.." sela Rea.
"Ya, dan kamu paling aneh." Sam menjitak kepala Rea pelan.
"Sayang, aku sudah selesai.. sekarang aku minta cium." Rea mengalungkan tangannya pada leher Sam.
Jika permintaan seperti ini, Sam tentu akan dengan senang hati menuruti Rea. Dia mencium Rea tanpa ragu-ragu di depan Boy.
"Kenapa Marsha tidak romantis seperti ini?" kata Boy lirih. "Hey, aku mau periksa, bukan lihat kalian seperti ini."
"Kamu tidur lah di dalam..Baby kita ingin tidur siang." Sam mencium perut Rea yang sudah mulai menonjol.
"Oke, Boy aku tidur siang dulu." Rea bangun dan berjalan ke ruang istirahat Sam.
Akhirnya Sam bisa bernafas lega. Benar kata Reno dan Juna. Jika punya anak, pasti menguras pikiran dan tenaga. Boy pun merasakan hal yang sama. Mereka hanya bisa berharap semoga fase nyidam ini segera berakhir.
"Bagaimana keadaan Valen-Alden?" Tiba-tiba Boy teringat akan duo bucin yang sekarang entah ada di mana.
"Mereka sudah menikah dan punya anak. Tapi, Dad belum memaafkan Alden." ucap Sam sedih.
"Sorry.. kalau gue singgung itu, Sam."
Sam mengangguk pelan. Dia sudah pasrah dengan Alden. Alden sudah dewasa dan bisa mengurus kehidupannya sendiri. Sam juga ingin berfokus pada Rea dan anaknya.
"Saaaaam.." teriak Rea dari kamar.
"Boy, ini sungguh melelahkan." keluh Sam. Belum ada 5 menit bernafas lega, sekarang Rea sudah memanggilnya lagi.