
Sam sudah melakukan pemasangan ring dengan baik. Kondisi Ben juga sedikit ada peningkatan. Ini operasi yang cukup sulit, mengingat Ben adalah ayahnya dan juga Sam sangat kelelahan. Dia belum beristirahat sama sekali begitu menginjakkan kaki di Indonesia.
"Makasih, Sam." Lidia memeluk Sam yang baru saja keluar dari kamar operasi.
"Mom, istirahatlah dulu di rumah. Aku akan minta Alden untuk antar mom pulang."
"Ayo, mom.. kita pulang." ajak Alden yang sejak tadi juga menunggu Ben menjalani operasi.
"Kabari jika ada sesuatu, Sam." akhirnya Lidia menurut untuk pulang. Dia juga belum pulang dan beristirahat sejak kemarin.
"Aku akan kembali ke sini setelah mengantar, Mom." kata Alden pada Sam.
Komunikasi mereka sudah semakin baik sekarang. Sam bahkan melihat perubahan drastis dari Alden. Alden jauh lebih perhatian dan tidak ada sorot mata kebencian lagi ketika melihat Sam.
Kini Sam kembali ke ruangan Rea. Rea sedang asyik menonton film spongeboob ketika Sam datang menemuinya.
"Apakah operasinya berjalan lancar, Sam?" tanya Rea yang langsung mematikan televisinya.
"Ya.. kita tinggal menunggu Dad sadar." "Kenapa kamu pulih begitu cepat?" Sam duduk di samping ranjang Rea. Baru beberapa jam saja, Rea sudah terlihat seperti orang normal yang tidak mengalami cedera.
"Ini berkat bantuan dari Dokter Samuel Sebastian." puji Rea.
Sam tersenyum. Dia menyesal karena telah meninggalkan wanita ini begitu lama ke America.
"Kalau begitu, sekarang aku minta bayarannya." Sam naik ke ranjang dan membuat Rea otomatis bergeser.
"Sam, ini sempit." protes Rea.
Tapi Sam tidak mendengarkan. Dia sudah nyaman dengan posisi tidurnya, dan dia juga mengambil bantal milik Rea.
"Aku lelah sekali. Cepat bacakan aku dongeng supaya aku bisa tidur."
Rea tidak protes karena dia memang melihat Sam yang tampak pucat dan lelah. Rea berpikir sejenak untuk menceritakan Sam sebuah dongeng.
"Pada suatu hari, Hiduplah seorang gadis miskin yang kebetulan bertemu dengan pangeran tampan. Pangeran itu mendekati gadis miskin, membuatnya jatuh cinta, lalu dia pergi begitu saja dan tidak pernah kembali. Gadis miskin itu jadi bertanya-tanya, apakah pangeran itu mencintainya juga?"
"Hey, jangan ceritakan kisah mu sendiri. Dan jangan bertanya-tanya karena aku mencintai gadis miskin itu." ucap Sam dengan mata yang sudah terpejam.
"Ya sudah.. aku gak pandai bercerita. Bagaimana kalau aku nyanyi saja?" tawar Rea.
"Tidak usah. Peluk saja." Sam meraih tangan Rea, dan melingkarkan pada pinggang nya.
Rasa hangat dan nyaman segara menjalar ke tubuh Sam. Dia jauh lebih rileks dan akhirnya bisa tertidur pulas.
Rea mengamati Sam yang tengah tertidur. Sam terlihat sedikit kurus dan tidak terawat. Dia pasti juga mengalami hal yang sulit selama di America.
Entah berapa lama Rea masih memandangi Sam. Dia tidak pernah bosan jika menatap wajah Sam yang tampan tanpa kacamata.
"Re.. " suara Alden menguap di udara karena dia menemukan Rea dan Sam sedang berbaring bersama.
Rea memberi kode supaya Alden tidak banyak bicara.
"Aku cuma mau kasih tau kalau Dad sudah sadar." bisik Alden.
"Tapi, Sam masih tidur. Bagaimana?"
Alden duduk di sebelah ranjang Rea dan memperhatikan Sam. Dia juga menunggu Sam yang tengah tertidur di samping Rea.
15 menit.. 30 menit.. 1 jam.. Sam tidak kunjung bangun juga.
"Aku bisa mati berdiri menunggu dia bangun, Re." bisik Alden.
"Kamu mau apa, Den?"
"Sayang, ayo kita bangun.."
Sam sedikit bergerak. "Hmm.. sebentar lagi.." igau Sam.
"Kalau kamu ga mau bangun juga, aku akan cium kamu." kata Alden lagi.
Sam benar-benar memajukan bibirnya, membuat Alden tertawa cekikan.
Rea melempar botol air mineral yang tinggal separuh ke arah Alden, karena tingkah absurd nya. Tapi cara Alden itu sukses membangunkan Sam. Sam terkejut karena mendapati Rea dan Alden sedang mengamatinya.
"Kamu mesum sekali." komplain Rea.
"Dokter, tolong jangan tidur bersama dengan pasien." Sela Alden yang gerah melihat mantan dan kakaknya bermesraan di depan mata Alden.
Sam bangun dari ranjang. Tidur bersama Rea cukup untuk memulihkan tenaganya.
"Kamu sudah antar mom?"
"Ya, tapi Dad sudah sadar sekarang."
"Are you serious?" tanya Sam tidak percaya. Dia melangkah untuk keluar, tapi baru satu langkah, dia berbalik dan mencium pipi Rea.
"Aku pergi lagi, sayang." Sam juga menarik tangan Alden karena dia tidak ingin meninggalkan Alden-Rea berdua.
Rea tersipu sendiri karena Sam sekarang lebih berani dan juga lebih mesra.
*
*
*
Mereka berdua pergi ke ruangan VVIP. Hidup Sam di rumah sakit ini sudah seperti setrikaan yang bolak balik menengok Ben dan Rea bergantian. Di dalam, Ben terlihat sudah sadar dan dia sedang melamun menunggu Sam. Perawat sudah bilang jika Sam yang mengoperasi Ben, dan sekarang dia sedang menengok Rea.
"Dad.." Sam berdiri di samping Ben dengan penuh penyesalan.
"Sam.. kamu kembali.." Mata Ben sudah berkaca-kaca melihat putranya berada di dekatnya. Ben memegang tangan Sam.
"Ya Dad, Sam ada di sini."
"Ada yang perlu dad jelaskan."
"Nanti saja, Dad.. kita tidak perlu membicarakan itu, karena Sam dan Alden baik-baik saja." Sam menarik Alden mendekat.
Melihat kedua anaknya bisa berdekatan dan akur, Ben merasa sedikit tenang.Ben meraih tangan Alden juga dengan tangan satunya yang masih di infus.
"Dad sangat senang melihat kalian berdua."
"Dad tidak perlu khawatir.. Alden akan kembali ke rumah dan bantu Sam mengurus rumah sakit." jelas Sam sambil merangkul Alden.
Alden menengok. "Kapan aku bilang seperti itu, Sam?"
"Sudah lah,, aku tidak sanggup kalau bekerja sendiri."
"Sudah-sudah.. Dad memang akan pensiun dan akan wariskan semua harta Dad pada kalian sebelum Dad meninggal."
"Dad.." ucap Sam dan Alden bersamaan.
Ben tersenyum kecil karena melihat keluarganya kini sudah lengkap dan kembali bersama. Semoga dia bisa menghabiskan sisa waktunya bersama keluarganya seperti ini.