When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Akhirnya Sah



Hari pernikahan


Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu Sam dan Rea datang juga. Setelah menunggu hampir 1 tahun 'lagi', karena insiden Alden dan Valen, serta kondisi buruk Ben-Lidia, Sam resmi menggelar pernikahan nya dengan Rea. Penantian panjang Sam terbayar ketika melihat Rea menggunakan gaun pengantin berjalan menghampirinya.


Rea tampak gugup, tapi Sam mencoba menggenggam erat tangan Rea untuk menenangkan wanitanya.


Prosesi mengucap janji dan juga tanda tangan tidak membutuhkan waktu yang lama. Semua berjalan lancar sesuai dengan rencana. Kini, Sam resmi menjadi suami Rea.


"Sam.. jaga Rea dengan baik." pesan Ben saat Sam memeluknya.


"Rea, kamu harus sabar dengan Sam." Ben juga tidak lupa berpesan pada menantunya. "Dad yakin kamu bisa mengurus Sam dengan baik."


"Dad.." Rea menangis sesenggukan dalam pelukan Ben.


"Sayang, kamu jangan menangis. Dad benar. Kamu yang terbaik untuk Sam." hibur Lidia. Tapi ucapan Lidia justru membuat air mata Rea, mengalir semakin deras.


Orang tua Sam sangat baik pada Rea dan lebih seperti sahabat dibandingkan mertua. Rea bersyukur karena Ben dan Lidia masih bisa menyaksikan pernikahan mereka.


"Ayo Re, kita pergi ke hotel." "Dad dan mom pasti juga lelah." ajak Sam.


Ya, Sam tidak menginginkan acara pernikahan yang besar. Dia tidak ingin membuat hidupnya lebih rumit lagi dan juga membuat ayahnya yang sekarang duduk di kursi roda jadi kelelahan dan tambah drop. Jadi, acara pernikahan mereka hanya berlangsung selama 4 jam saja.


Sam bernafas lega ketika mereka sudah sampai di dalam mobil dan hanya berdua saja dengan sopir yang mengantar mereka.


"Akhirnya, aku bisa memiliki mu, Rea Renata." ucap Sam yang begitu bahagia.


Sam menghadapkan wajah Rea ke arahnya. Dia sudah menunggu lama sekali untuk mendapatkan Rea sepenuhnya.


"Sabar sampai ke hotel, Sam." ingat Rea.


"Anggap saja saya tidak ada, Tuan." Sopir yang mengerti maksud Sam harus mengatakan itu supaya tidak merusak mood pasangan yang baru menikah di belakangnya.


*


*


*


Sam meletakkan Rea di ranjang dengan lembut. Selama perjalanan, Sam lagi-lagi harus menunggu karena Rea malu dengan sopir yang pasti akan melihat mereka.


Kini Sam sudah berdua saja dengan Rea. Rea mengalungkan tangannya pada leher Sam. Dia sangat mengerti apa yang Sam inginkan sejak tadi.


Sam tidak membuang waktu lagi. Dia mencium bibir Rea sembari melepaskan jas dan kemeja miliknya. Rea akhirnya juga bisa merasakan first kiss bersama dengan Sam yang notabene kini menjadi suaminya. Ucapan Sam benar, Sam membuat jantungnya berdetak lebih cepat, tapi dia juga punya obat penawar yang bisa membuat Rea merasa bahagia.


"Boleh kah?" tanya Sam yang kini sudah bertelanjang dada.


Rea mengangguk. "Kamu bisa memiliki aku sekarang."


Sebuah pernikahan yang terhormat mungkin terdengar kuno saat ini. Tapi, karena Rea memegang teguh hal itu, sekarang dia bisa bahagia. Begitu juga dengan Sam. Dia bahagia kerena menjadi yang pertama untuk Rea.


*


*


*


Kegiatan mereka terhenti karena dering telepon yang berbunyi berulang kali. Sam memandang ponselnya dengan wajah kesal. Dia hampir saja membanting ponselnya ketika melihat siapa yang menelepon dan menggangu malam pertama mereka, jika Rea tidak menahannya.


"Sayang, pasti itu sangat urgen." kata Rea dengan suara parau.


Ya, kegiatan itu membuat Rea menjadi lelah dan akhirnya sakit tenggorokan.


"Aku sudah bilang kalau aku itu cuti. Come on Re, kita belum selesai." Sam masih enggan menerima telepon itu. Dia sudah dapat memastikan jika pasti itu adalah panggilan supaya Sam segera datang ke rumah sakit.


"Sam.. aku butuh istirahat. Lagipula aku tidak ke mana-mana."


"Ya, kamu tidak ke mana-mana.. tapi pikiran ku yang ke mana-mana." Sam mengusap wajahnya dengan kasar. Dia mengalah dan akhirnya mengangkat telepon itu juga.


"Dokter, ada pasien urgen yang butuh operasi saat ini juga." kata perawat di ujung sana.


"Baiklah, Saya segera ke sana."


Rea tersenyum. Dia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Sementara Sam bangun dan segera berpakaian dengan cepat.


"Hati-hati sayang.."


"Aku akan segera kembali." Sam mengecup bibir Rea. Dia sebenarnya tidak rela meninggalkan Rea, tapi tugas nya sebagai dokter memang mengharuskan Sam siap untuk menangani pasien kapanpun.


Rea menghela nafas panjang. Dia sudah memilih Sam dan dia harus menerima segala resiko nya ketika menikah dengan seorang dokter.