
"Sam...aku mau pulang saja." Rea protes pada Sam yang sudah 15 menit hanya berdiam diri sambil menatap langit.
"Sebentar lagi, Re." kata Sam tanpa menengok ke arah Rea. Dia merangkul pundak Rea supaya Rea tidak kabur. "Coba lihat, langitnya bagus ya?"
Rea memutar otaknya berusaha memahami perkataan Sam. Langitnya bagus? Rea tidak melihat apapun kecuali awan gelap. Tidak ada bintang atau bulan yang muncul. Apakah Sam sedang mabuk? batin Rea.
Sam menelan ludahnya. Sejak tadi dia begitu gugup karena apa yang di minta olehnya tidak kunjung muncul juga. Sam diam-diam menekan nomer Alden. Pria itu seharusnya memberikan komando pada para pelayan, tapi sudah 15 menit, apa yang Sam tunggu tidak muncul juga.
Duar
Bunyi petasan yang cukup keras membuat Rea terkejut. Petasan itu langsung menghiasi langit malam ini. Dan Rea dapat melihat petasan itu membentuk sebuah hati bewarna pink.
"Sam.. ini apa?" tanya Rea yang takjub sekaligus bingung.
Sam mengeluarkan kotak cincinnya. Dia membuka itu tepat di depan Rea.
"Rea Renata, Will you marry me?" ucap Sam dengan keras.
Rea menutup kedua mulutnya. Dia tidak menyangka Sam akan memberikannya sebuah cincin. Mata Rea jelas sangat menginginkan cincin itu, tapi hatinya mengatakan untuk jangan mengambilnya. Ya, Rea diam tidak menjawab pertanyaan Sam karena pikiran dan hatinya sedang berperang saat ini.
Sam yang awalnya begitu senang, mulai cemas karena Rea tidak kunjung menjawab pertanyaannya.
Dia akan hancur jika seandainya Rea sampai menolaknya.
"Sam..." panggil Rea lirih. "Apa ini mimpi?"
"Tidak, Re. Aku sudah bilang tadi, kalau aku ingin jadi suami mu."
"Tapi.." Rea memandang Sam dengan pandangan nanar.
"Ada masalah, Re?" Sam meletakan cincin di sampingnya, lalu memegang kedua tangan Rea.
Rea menggeleng. Dia tidak tahu bagaimana bisa mengungkapkan perasaan nya pada Sam.
"Sam, aku hanya takut."
"Sayang, Dad dan Mom sudah setuju. Apa lagi yang membuat kamu takut?" Sam hampir putus asa karena Rea tampaknya tidak akan menerima lamaran nya.
"Aku takut.. kalau kalian akan malu karena aku hanya rakyat jelata." hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut Rea. Mungkin ini terkesan lebay, tapi Rea sangat takut untuk masuk dalam keluarga Sebastian. Rasa percaya dirinya tidak seperti dulu waktu pertama kali bertemu dengan Sam.
"Ya, tentu saja aku mau." ucap Rea yang tidak bisa berbohong.
"Aku akan menunggu sampai kamu siap dan tidak ragu lagi. Aku tidak akan paksa kamu. Bagaimana?" kali ini Sam memberikan solusi pada Rea.
"Apa kamu tidak keberatan? Bahkan jika itu akan butuh waktu yang lama?"
Sam mengangguk. Dia bisa menunggu momen berbaikan dengan Alden selama 13 tahun lebih. Jadi, dia tidak akan keberatan jika menunggu Rea untuk siap menikah.
"Tapi, tidak akan sampai 5 tahun kan?" tanya Sam sambil memicingkan mata sipitnya.
"Yah, tidak selama itu. Mungkin 10 tahun." canda Rea.
Sam terbengong mendengar jawaban dari Rea.
"Jadi ini bagaimana?" Rea menyodorkan tangan kirinya pada Sam.
Sam tersadar. Dia segera mengambil cincinnya, lalu memasangkan pada jari manis Rea sebelum wanita itu berubah pikiran.
Cincin yang Sam pilih sangat pas di jari Rea. Rea menatap tangannya dengan penuh haru. Tanpa di komando lagi, Rea memeluk Sam erat.
"Terimakasih karena mau menunggu, Sam." ucap Rea tersendat. Air matanya sudah mengalir deras dalam dekapan Sam.
"Terimakasih karena sudah menerima, Re." "Tadinya aku sudah bersiap untuk lompat ke kolam." kata Sam jujur. Sam tidak akan punya muka lagi, jika seandainya Rea menolak lamarannya.
"Sam, tapi kamu janji jangan kabur lagi ke America." Rea menyembul dari balik dada bidang Sam. Dia harus memastikan kalau Sam tidak akan kabur lagi. Rea tidak ingin menjalani hubungan LDR seperti dulu.
"Aku janji sayang.. kalaupun harus pergi, kita akan selalu pergi berdua." Sam mengusap air mata Rea.
Dia sudah sedikit lega sekarang karena Rea sudah menerima lamarannya, meskipun tanpa kepastian kapan mereka akan menikah.
"Sekarang, apa boleh aku mencium kamu, Re?"
"Sam, kamu mesum sekali." Rea mencubit pinggang Sam yang tengah menatapnya seperti serigala yang kelaparan.
"Seharusnya kamu itu di museumkan, karena terlalu kuno." Sam mengejek Rea yang benar-benar menjaga dirinya. Tapi, di satu sisi Sam senang karena itu tandanya Sam yang pertama akan menyentuh Rea.