When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Memperkenalkan Rea



Valen memijat kepalanya dengan satu tangan. Jam baru menunjukan pukul 8 pagi, tapi dia harus berada di ruangannya. Bukan untuk kerja,tapi dia datang ke klinik karena mendapatkan laporan dari karyawannya bahwa program Beauty Skin eror.


Valen pikir karyawannya hanya mengerjainya, tapi nyata nya dia pun juga tidak bisa membuka program klinik miliknya ini. Tentu saja ini suatu hal yang serius karena semua data pasien dan juga resep2 obat ada di dalamnya.


“Pa,, papa ga ada kenalan gitu orang yang bisa benerin ini?” Valen mengadu pada Pak Bram.


“Papa ga ada kenalan.. coba kamu tanya sama temen kamu.” Saran Bram.


Valen hanya bisa mendengus kesal. Dia sudah menghubungi lebih dari 5 orang, tapi hasilnya nihil.


“Eh, kenapa ga minta tolong sama Sam?” Pak Bram teringat akan Sam ketika dia mencari daftar kontak di ponselnya.


“Memang dia bisa?” Tanya Valen ragu.


“Dia karyawan terbaik di tempatnya bekerja.”


“Tapi....” Ucapan Valen terhenti, mengingat kemarin dia meninggalkan Sam berdua Rea.


“Kamu ketemu sama Sam kemarin kan?” Tanya Bram curiga.


Suka tidak suka, Valen menjabarkan rencananya pada Bram untuk terlepas dari perjodohan ini. Kemarin, dia hanya ceritakan ini pada Ester, jadi Bram belum tau apa rencana Valen. Valen ingin Sam suka pada Rea dan akhirnya pria itu tidak mengincar Valen lagi.


Bram hanya menghela nafas panjang. Anaknya begitu cerdik, tapi caranya sungguh aneh. Jika seperti ini, Bram yakin Sam mungkin tidak bisa membantu Valen. Dia pasti sakit hati dengan perlakuan Valen.


"Ya sudah, kamu telepon dia. Papa juga akan cari teknisi yang lain." saran Bram.


“Oke, Valen telepon Sam.”


***


Tidak sampai 30menit, Sam datang dengan sepeda motor maticnya. Dia hanya menggunakan jaket hodie warna putih dan celana jeans biru tua. Penampilan Sam terlihat sangat santai.


Seorang karyawan berambut pendek menghampiri Sam, lalu mengajaknya ke ruangan Valen.


Valen terlihat sedang mondar mandir sambil menggigit kuku jarinya menunggu Sam datang. Dia tidak menyangka Sam mau datang ketika dia cerita masalahnya.


“Kenapa?” Tanya Sam to the point.


“Gak tau, ga bisa di akses.”


Sam melirik ke arah Valen yang benar-benar terlihat cemas.


“Duduk lah,, ini ga akan beres kalau kamu mondar-mandir..” kali ini Sam duduk di kursi kebesaran Valen. Dia memulai pekerjaan yang tentu sangat mudah untuknya. Sam hanya memerlukan waktu 5 menit dan...


“Beres.” Ucap Sam sambil menatap Valen dalam.


“Serius?” Valen segera bangun dan berjalan ke dekat Sam. Dia melihat komputernya, mengecek semua datanya dan memang semua sudah kembali seperti semula. Valen begitu senang sampai dia tidak sadar bahwa Sam masih duduk di kursi dan kini jarak mereka begitu dekat.


“Apa?” Valen begitu salah tingkah. Dia segera menjauh dan kini duduk di kursi yang biasa untuk duduk pasiennya. Meskipun Sam terlihat culun, tapi nada suara Sam sangat percaya diri. Sejak pertama kali bertemu, Sam terlihat bukan orang yang lemah.


“Maksudnya gimana rasanya ini sudah beres?”


“Ooh,, makasi ya Sam.. kalau ga ada kamu ga tau deh gimana..”


Sam tersenyum tipis. “No problem..aku sudah menambahkan keamanan ekstra supaya tidak bisa diretas lagi.”


“Berapa biaya nya? Biar aku transfer..”


Sam membenarkan posisi duduknya. Dia masih menatap Valen dengan pandangan yang tidak dapat ditebak. Valen yang biasanya percaya diri, kini bahkan tidak bisa memandang lawan bicaranya.


“Kemarin bukan urusan urgen kan? Kenapa kamu tinggalin karyawan kamu di sana?”


“Itu karena....” Valen mencoba menemukan kata-kata yang tepat. “Perjodohan yang kamu bilang.. aku ga setuju..” Valen memilih berkata jujur.


Sam tidak menjawab.


“Sorry,, aku tidak tertarik dengan pernikahan, tapi memang aku mau kenalin kamu ke Rea. Dia gadis yang baik,, dan baru putus sama pacarnya.” Jelas Valen dengan semangat. Ada perasaan lega karena dia sudah bisa mengatakan untuk tidak mau menerima perjodohan ini.


“Harusnya kamu bilang sejak awal.” Ucap Sam dengan tenang. Dia mengambil ponselnya dan bersiap untuk pergi.


“Thank you Sam sudah menolong papa waktu itu.” Kata Valen sebelum Sam pergi.


“Semua orang juga akan melakukan hal yang sama. Thanks juga karena sudah mengenalkan Rea.” Balas Sam tanpa menengok ke arah Valen.


Dia menarik handle pintu ruangan Valen dan..


'BRUK' Sam ditabrak seseorang dengan cukup keras. Dia sampe terhuyung sampai posisi menabrak tembok.


"Rea?"


Rea mengusap jidatnya yang sakit. Dia menengok pada orang di depannya.


"Sam, sedang apa di sini?"


"Ada kerjaan.. Kamu baru datang?" Sam memandang penampilan Rea. Kali ini penampilan nya lebih acak-acakan. Rambutnya tidak di sisir, dan wajahnya pucat karena tidak menggunakan make up. Seperti nya Rea sedang terburu-buru.


"Iya, sorry, aku di panggil Bu Valen."


Rea menyisir rambutnya dengan tangan dan sedikit merapikan seragamnya, lalu dia menarik handle pintu ruangan Valen.


Sam menggelengkan kepala melihat tingkah wanita yang kini sudah menghilang ke dalam ruangan itu. Bagaimana bisa gadis macam Rea bekerja di klinik kecantikan? Penampilannya saja berantakan. Seulas senyuman tipis muncul sudut bibir Sam. Valen sudah menolaknya, dan tidak salah untuk mengenal Rea lebih jauh.