
Rea baru saja keluar dari klinik. Dia tidak melihat mobil atau motor Sam yang biasa menjemputnya. Baru 3 hari Sam menjadi dokter, Sam langsung sibuk dengan pekerjaannya.
"Sayang.. Aku masih ada pasien. Aku suruh Boy jemput kamu ya?"
Rea sedikit kecewa dengan jawaban Sam saat dia meneleponnya. Dia pacaran dengan Sam, dan bukan Boy. Sam selalu saja menyuruh Boy mengantar jemput, membuat orang-orang jadi heran dan memandang Rea negatif.
"Ga usah Sam.. Aku pulang bareng Gadis saja."
"Besok aku libur, kita jalan-jalan."
"Oke"
Rea menghela nafas panjang. Sebenarnya Gadis sudah pulang, dan itu artinya Rea harus pulang sendiri.Rea memesan ojek online. Tapi dia tidak langsung pulang ke rumahnya. Dia ingin menengok Alden. Pria itu sepertinya sakit dan jiwa sosial Rea membawa dia menuju rumah Alden.
Rumah Alden tampak sepi. Tapi ada mobil di depan rumahnya. Rea dapat memastikan jika Alden pasti ada di dalam.
"Den..." Panggil Rea sambil mengetuk pintu.
Tidak lama pintu terbuka. Alden berdiri di depan pintu dan tampak acak-acakan dengan kaos oblong yang kedodoran.
"Ngapain kamu di sini?"
"Kamu sakit, Den." Rea berjinjit memegang dahi Alden, dan memang betul badannya panas.
Alden memandang Rea dengan penuh tanda tanya. Setelah berpikir cepat, Alden akhirnya mengijinkan Rea masuk. Alden langsung duduk di sofa karena badannya tidak enak.
"Sudah minum obat?" Tanya Rea panik.
"Nanti akan sembuh sendiri Re.."
"Tidur saja di sini.. Aku ke dapur sebentar."
Rea mengambil bantal kursi, lalu mengganjal kepala Alden dengan bantal itu. Setelah Alden lebih rileks, Rea pergi ke dapur untuk merebus air panas. Rea cukup familiar dengan rumah Alden. Sudah beberapa kali Rea pergi ke sini untuk melakukan hal yang sama, yaitu merawat Alden yang sakit.
Rea membuka kotak obat yang berdebu. Dan ketika di buka, Rea hanya menemukan betadine Dan promag.Alden memang miris sekali. Dia tidak pernah terurus. Karena tidak ada obat, Rea akhirnya mengambil baskom dan es batu untuk mengompres Alden.
"Mom... Mom.." Alden mengigau.
Rea yang mendengar itu segera kembali ke ruang tamu. Dia lalu mengompres Alden dengan air dingin yang di bawanya.
"Jangan pergi mom.."
"Den..tenang Den.." Ucap Rea sambil mengamati Alden dari kursi samping.
"Seharusnya dia yang mati, bukan mom." Keluhnya.
"Siapa Den?"
"Aku sangat benci Sam."
Apa ini ada hubungan dengan Mom Alden? Seharusnya Sam yang mati bukan mom nya? Apa maksudnya?
'Brak'
Rea terkejut ketika seseorang membuka pintu. Baskom di tangannya sampai terlepas, karena dia melihat Sam sudah berdiri di depan pintu dengan pandangan yang membunuh.
"Sam" Rea tidak bisa berkata-kata ketika Sam menariknya berdiri. Sam menatap Alden yang sedang menggigil.
"Kenapa kamu di sini?" Tanya Sam dengan nada tinggi.
"Alden sakit." Jawab Rea ketakutan.
"Valen?" Rea menatap sosok Valen yang muncul di belakang Sam. Apakah mereka datang bersama?
"Ayo pulang." Sam menarik tangan Rea untuk pergi.
"Tapi.." ucap Rea sambil menahan tangan Sam.
"Rea Renata.. Tolong kita pergi sekarang." pinta Sam tanpa menurunkan nadanya. Dia sungguh sangat marah karena Rea membohonginya, terlebih dia berdua dengan Alden. Sam pikir, Valen datang ke rumah sakit untuk sekedar membual, tapi ternyata Rea yang berbohong.
Flashback on
Sam memandang wanita di depannya. Para perawat hanya bisa menunduk karena mereka tidak bisa menghalangi wanita itu masuk.
"Maaf, Dok. Dia memaksa masuk."
Sam mengangguk pelan. Dia memberikan kode supaya perawat itu keluar. Kini mereka hanya berdua. Sam melepas kacamatanya sambil menatap Valen dengan penuh tanda tanya. Wanita yang dulu menghindar dari Sam itu, sekarang malah mengejarnya.
"Kamu gak jemput Rea?"
"Itu sepertinya bukan urusan kamu, Val."
"Tapi, kalau Rea masih suka Alden, apakah itu bukan termasuk urusan kamu?" Lapor Valen sambil tersenyum licik.
"Apa maksud mu?"
"Ya, pacar mu itu sekarang pergi ke rumah Alden."
Sam membuka ponselnya, masih dengan rasa tidak percaya. Untung Sam sudah memasang GPS di ponsel Rea, jadi tidak sulit baginya untuk mengecek posisi Rea sekarang. Seketika Sam berdiri dari kursinya. Dia mengambil dompet dan kunci mobil, lalu bergegas pergi.
Valen yang di tinggal sendiri segera berlari mengejar Sam yang sudah pasti ingin menemui Alden.
Jarak yang harusnya memakan waktu 30 menit dapat di tempuh hanya dalam waktu 20 menit saja.
Sam membuka pintu yang tidak terkunci itu dengan kasar. Ternyata betul, Rea ada di sana bersama Alden. Dia melihat dengan mata kepala sendiri Rea berada di rumah Alden berdua saja. Emosi Sam tentu saja memuncak karena Rea berbohong.
Flashback off
*
*
*
Setelah di mobil, mereka hanya diam. Sam berusaha untuk menurunkan emosinya, sedangkan Rea sedang bertanya-tanya sendiri apa maksud Alden tadi.
"Kamu tau, waktu malam itu di pesta, Alden mau bawa kamu?" Suara Sam memecah keheningan.
"Dad sudah cerita."
"Lalu kamu ke sana sendiri? Ke mana Gadis?"
Rea tidak berani menjawab kalau dia bohong.
"Rea.. Aku gak bisa jaga kamu 24 jam. Tolong kamu jangan mencari bahaya."
"Alden gak bahaya Sam. Dia lagi sakit. Kamu gak lihat dia seperti itu?" Rea mulai kesal. Dia heran kenapa Sam begitu takut dirinya bertemu dengan Alden. Apa Sam tidak memiliki rasa kasihan sedikitpun pada adiknya? Atau Sam takut Rea kembali pada Alden?
"Kamu cemburu sama Alden?" tanya Rea kemudian.
"Cih." "Aku cuma takut dia lakukan sesuatu yang nekat sama kamu, Re." Sam memandang lurus ke depan. Dia yakin 1000% kalau Alden punya niat jahat pada Rea.
"Terus, kenapa kamu dateng sama Valen?" Rea balik bertanya.
Pertanyaan Rea membuat Sam otomatis menengok ke arahnya. "Kamu cemburu?" Goda Sam.
Rea tidak bergeming. Sudah pasti jawabannya Ya. Valen begitu cantik. Awalnya juga Sam menginginkan Valen, bukan dirinya. Apalah dirinya yang hanya seperti debu.
"Beda Re.. Alden itu mantan kamu.. Valen itu cuma orang asing." Jelas Sam sambil memandang Rea.
"Hmmm.."
"Sayang,, aku minta maaf.." Sam memeluk Rea dari kursinya. Sam akan selalu ingat perkataan Boy yang bilang kalau wanita tidak pernah salah. Percuma memperpanjang masalah ini dengan Rea. Yang terpenting sekarang adalah Rea aman dan tidak kenapa-napa.
"Kamu masi suka sama Alden?" Tanya Sam hati-hati.
"Aku hanya ingin kalian itu baikan.. kasihan Alden selalu sendirian, Sam." Rea mempererat pelukannya supaya Sam tidak marah.
"Aku janji akan selesaikan ini secepatnya."
"Sam, coba cubit pipiku." Rea menyembul dari balik dada bidang Sam.
Sam yang bingung mengikuti kemauan Rea.
Rea berteriak kesakitan.
"Ternyata memang ga mimpi."
"Apanya?" Tanya Sam bingung.
"Enggak apa-apa." Rea kembali memeluk Sam karena pelukan Sam benar-benar membuatnya nyaman.