When I Fell In Love With A Doctor

When I Fell In Love With A Doctor
Membantu Sam



Sam menghentikan mobilnya di sebuah rumah mewah di kawasan elite di tengah kota. Pintu gerbang terbuka otomatis dan memperlihatkan bagian dalam rumah yang lebih tepat di sebut istana. Rumah itu bergaya Eropa sama seperti rumah Boy. Bedanya, rumah ini 2x lipat rumah Boy.


Halaman nya pun seluas lapangan bola.


Rea berdecak kagum karena rumah ini hanya bisa dia lihat dalam drama Korea.


Sam mengeluarkan P3K dari dalam dashboard, lalu mengajak Rea turun.


Mereka pergi ke samping rumah, tidak jauh dari mobil berhenti. Rea membantu memapah Sam dengan memegang lengannya. Kini, mereka berada di taman bunga yang indah dengan kolam atau lebih tepatnya danau yang jernih. Rea melihat sekelilingnya dengan perasaan kagum. Suasana di sini sangat damai dan sejuk. Rea bisa mendengar suara kicauan burunh dan juga dapat melihat ikan-ikan koi yang cantik.


"Sam, ini rumah kamu?" Tanya Rea heran.


"Lebih tepatnya rumah papa." kata Sam merendah. "Apa kamu suka?"


Rea mengangguk. Sulit rasanya menemukan pemandangan seperti ini di tengah kota. Sultan memang beda. Mereka bisa membuat sesuatu yang mustahil menjadi ada bahkan sesuai dengan keinginan mereka.


Sam duduk di sebuah bangku panjang bewarna putih yang langsung menghadap ke kolam.


"Papa bikin ini untuk tempat bermain ku." "Dulu aku sakit-sakitan. Aku selalu sendirian dan ga punya teman bermain. Alden selalu sibuk bermain sendiri dengan yang lain. Dad and Mom juga sering pergi keluar negeri." Sam memulai ceritanya.


"Sakit apa?" Rea menengok ke arah Sam.


"Sakit jantung. Jadi aku tidak bisa beraktifitas seperti yang lain."


Rea paham sekarang kenapa Sam sangat pintar. Dia pasti menghabiskan waktu untuk belajar di kamar. Tidak heran jika Sam bisa menjadi dokter spesialis bedah jantung di usia nya sekarang, itu pun sekaligus merangkap menjadi master IT. Prestasi Sam sungguh luar biasa.


Rea juga mulai paham kenapa Alden minder dan juga kenapa mereka berdua tampak seperti orang asing.


"Bagaimana kondisinya sekarang? Kamu masih sakit?"


"Sudah sembuh setelah transpalasi jantung."


Sam membuka kemejanya dengan perlahan. Rea dapat melihat dengan jelas memar-memar yang mulai menghitam di sekujur tubuh Sam.


"Sam.." Rea sampai meringis melihat luka Sam. Entah sekuat apa Alden memukulnya.


Sam membersihkan luka di wajahnya sendiri dengan kapas dan alkohol.


"Ini bukan yang pertama Re.. Alden pernah potong rem mobil ku.. Dan hasilnya aku menabrak tiang listrik." ucap Sam sinis. Dia sungguh beruntung, karena setiap kali Alden memukul atau mencoba menyingkirkannya, Sam masih bisa bernafas sampai sekarang.


"Kenapa Alden bisa begitu, Sam? tanya Rea penasaran.


"Re.. Kalau aku tau jawabannya, aku ga akan minta tolong kamu."


Rea tidak bicara lagi. Mereka memang bagai Tom and Jerry. Sekarang pikiran Rea sudah sangat terbuka. Dia paham kenapa Sam menginginkan Rea membantu nya. Alasannya sederhana. Itu karena mereka tidak pernah menyelesaikan masalahnya dan hanya pukul-pukulan saja. Mungkin sampai matipun Sam tidak akan pernah mendapatkan jawaban dari Alden. Atau sewaktu dia mendapatkan jawabannya, dia sudah terbaring koma di rumah sakit.


Rea merebut kapas yang di pegang Sam. Dia membantu Sam untuk mengobatinya. Ya, dokter juga manusia dan kalau sakit mereka pasti akan butuh bantuan seseorang.


"Sia-sia aku merawat wajah ini." Omel Rea.


Sam tertawa sambil meringis kesakitan. "Re, bisa gak sih jangan ngelawak."


"Sam.. aku ga tau kenapa aku harus terlibat seperti ini." Rea mengoleskan salep untuk luka di wajah Sam.


"Tapi, kamu udah bilang pada Alden kalau aku ini pacar kamu."


"Jadi?"


"Aku akan bantu kalian Sam."


"Are you sure?" Sam menatap Rea senang.


"Iya.. " "Balik badan" Rea membalikan tubuh Sam. Dia tidak ingin Sam melihat wajahnya sudah semerah tomat sekarang.


Rea mulai mengoleskan salep di punggung Sam.


Dia menceritakan pada Sam apa yang Alden katakan tadi sebelum Sam datang.


"Jadi dia bilang kalau Dad tidak menyayanginya?" tanya Sam pada akhir cerita Rea. Sam bingung dengan apa yang diucapkan Alden. Seingat Sam, Ben selalu memenuhi apa yang diinginkan oleh Alden. Sebaliknya, dia lah yang selalu mengalah. Sam bahkan tidak membalas Alden karena Ben melarang keras Sam melakukan itu.


"Dia juga bilang kalau kamu mengambil satu-satunya yang berharga dalam hidupnya." "Apa itu, Sam?"


"Berharga?" Sam mengerutkan dahinya. Dia tidak tau apa yang berharga dalam hidup Alden.


Ini jadi PR untuk Sam, karena dia tidak tau banyak tentang kehidupan adiknya. Mereka berpisah saat Sam berumur 17 tahun dan Alden 15 tahun. Sejak saat itu mereka benar-benar putus komunikasi. Ben harus mengungsikan Sam ke America sekaligus menyekolahkan dia di sana, karena perbuatan Alden pada Sam semakin hari semakin menjadi-jadi.


"Gak mungkin itu aku, kan?" canda Rea.


Sam kembali tertawa. Dia kembali memutar badannya untuk menghadap Rea.


Rea sedikit menunduk, karena dia tidak kuat melihat dada bidang Sam yang berjarak hanya beberapa centi meter dengannya.


"Re.. Seminggu lagi ada acara pernikahan teman ku. Kamu bisa temani aku?" Sam mengalihkan topik pembicaraan.


"Ya,, tapi sepertinya aku tidak pantas untuk datang ke acara orang kaya." Rea membereskan perlengkapan yang baru saja dipakai oleh Sam.


"Kenapa tidak pantas?"


"Karena aku hanya karyawan biasa, dan tidak cantik." Ucap Rea lirih.


'Rea Renata.. Apa kamu tidak sadar kalau kamu itu bisa memikat dua orang dari keluarga Sebastian sekaligus?' batin Sam.


"Karena kamu sudah bantu aku, sekarang aku juga akan bantu kamu untuk jadi Cinderella." Sam meneliti wajah Rea. Dia sebenarnya wanita yang manis, di usia nya yang jauh lebih tua 3 tahun dari Sam, wajah Rea termasuk baby face. Sam yakin kalau Rea menggunakan gaun mahal dan make up yang pas, dia akan menjadi seperti seorang putri.


"Aku tidak mau jadi Cinderella." tolak Rea."Cinderella hanya akan bahagia sampai jam 12 saja."


Lagi-lagi Sam tertawa mendengar ucapan Rea. Wanita ini membuatnya lupa dengan masalah tentang Alden.


"Sam, berhentilah tertawa. Aku ini bukan pelawak." komplain Rea. Dia meninju lengan Sam seperti biasanya, tapi Sam berteriak kesakitan.


"Sorry, aku lupa Sam." Rea hendak mengelus lengan Sam, tapi Sam menangkap tangan Lea. Pandangan mereka bertemu untuk sesaat.


Saat itu Rea merasakan jantungnya berdetak 2x lagi lebih cepat. Dia buru-buru menarik tangannya dari Sam sebelum jatuh pingsan.


'Sadar Re.. ini cuma akting.. dia tidak benar-benar menyukaimu. Jadi jangan baper.' ucap Rea pada dirinya sendiri.