Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 9



Galaksi berjalan mondar-mandir di kamarnya. Semakin Galaksi memikirkan apa yang terjadi saat reuni bersama Nasha semakin wajahnya masam.


Galaksi melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam dan Nasha belum kembali.


Galaksi mengeluarkan ponselnya dengan marah. Ia menelepon Nasha namun tidak ada jawaban dari seberang.


Galaksi langsung menaruh ponselnya dengan marah.


Ia menginginkan Nasha sekarang?


Apakah Galaksi benar-benar berkata seperti itu? Ya, galaksi menginginkan Nasha bukan karena ia merindukan wanita itu tapi ia ingin memarahi wanita itu.


Galaksi mengalihkan amarahnya dengan memeriksa berbagai bentuk laporan aneka bentuk sambil mengutuk Nasha.


Sikap Nasha saat berada di acara reuni hanya mendatangkan kesusahan bagi jiwa dan raga Galaksi.


Rasanya akan lebih baik jika ia melampiaskan kekesalannya pada orangnya yang membuatnya seperti ini.


Pintu kamarnya dibuka secara tiba-tiba. Galaksi tak perlu repot-repot menoleh. Ia melihat dari ekor matanya bahwa orang yang membuka pintu itu adalah Nasha.


“Kenapa kembali? Tidak menginap di rumah pria itu?” ucap Galaksi dingin.


Nasha mengambil napas dalam-dalam. Wanita itu tidak repot-repot untuk menjelaskan hubungannya dengan Juan.


Galaksi mencibir dan menarik tangan Nasha saat wanita itu hendak masuk ke ruangannya.


“Bisa jelaskan hubunganmu dengannya?”


“Tidak ada hubungan antar aku dan dirinya.”


“Lalu mengapa kamu mengikutinya?”


“Aku tidak mengikutinya. Aku dibawa pergi olehnya. Aku tidak sedang membuatmu malu dengan sengaja di acara reuni.”


“Apakah saya harus percaya?”


“Jika kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan itu padanya.”


“Saya hanya percaya dengan apa yang saya lihat.”


Nasha seperti mengeluarkan dengus tak percaya tapi ketika menatapnya lagi, ekspresi wanita itu tidak bisa ditebak.


“Apakah kamu cemburu?” terdengar nada mengejek dalam suara itu.


Galaksi berusaha menyangkalnya dan malah menyuruh Nasha untuk bercermin. Sementara Nasha berusaha menahan senyum melihat sisi Galaksi yang menurutnya lucu.


Nasha meliriknya dan memasuki ruang rahasia. Galaksi mengikutinya dari belakang karena merasa diabaikan oleh wanita itu.


“Bagaimana kamu masih bisa tidur di sini?”


“Jadi harus kah aku pergi dari tempat ini?” kata Nasha yang seolah mengeluh dengan tempat rahasia Galaksi yang mirip dengan penjara.


Galaksi mengangkat alisnya. “Kamu berani mengeluh dengan tempat ini?”


“Apakah aku harus merasa puas?”


Galaksi melihat sekeliling dengan acak lalu mengangguk. Setelah melihat reaksi Galaksi, Nasha menyuruhnya untuk bertukar tempat tidur. Namun Galaksi segera menolaknya.


“Kamu menolak tidur di sini lalu kenapa aku harus puas dengan tempat ini?”


“Kalau begitu sebaiknya kita tidur bersama.”


Nasha tersentak ketika Galaksi mendorongnya ke arah ranjang. Nasha belum sempat mengatur napas ketika Galaksi mulai membungkuk ke arahnya.


Kepanikan mulai terlihat di mata Nasha. Nasha semakin sulit mengatur napasnya. Nasha tersentak ketika jari-jari Galaksi menyusuri epidermisnya.


Kepanikan semakin mencekik ketika Galaksi merangkak ke atasnya. Benak Nasha berkabut, pusing oleh gelenyar yang diberikan Galaksi padanya.


Sekelebat masa lalu yang mengerikan mulai mengecutnya. Nasha berjuang untuk melepaskan cengkeraman Galaksi.


“Hentikan!”


Nasha belum bisa melepaskan memori itu, perasaan ngeri yang mengungkapkannya selama ini, rasa sakit tajam yang mengiris tidak hanya tubuh.


Nasha tiba-tiba menangis yang membuat Galaksi berhenti.


Ada getar ketakutan dalam suara Nasha yang membuat Galaksi terlihat kebingungan.


“Kamu tidak apa-apa?”


“Ke...keluar.”


.........


Apakah dia terlalu terburu-buru? Lantas apa yang merasukinya tadi. Mengapa ia lupa dan hilang kendali.


Galaksi mengubah posisi tidurnya, menarik lengan dan mengacak rambutnya kesal. Ia tidak pernah bertemu dengan wanita yang lebih membingungkan dari pada Nasha.


Keesokan paginya, Nasha selalu menghindari Galaksi. Ia berangkat pagi dan menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


Dalam perjalanan Galaksi ke perusahaan. Galaksi sedikit melirik kotak hadiah berwarna merah muda di kursi penumpang.


Itu adalah hadiah untuk Nasha. Awalnya ia berniat untuk memberinya saat makan malam namun ia terlalu malu karena Galaksi belum pernah memberikan hadiah selain untuk ibu dan adiknya.


Saat lampu merah menyala, Galaksi berpikir selama beberapa detik. Ia membuka jendela dan ingin membuang hadiah itu. Namun saat tangannya terangkat ke udara, tiba-tiba ia melemparkannya kembali ke kursi penumpang dan melanjutkan perjalanannya.


Saat malam mulai menjelang. Nasha tidak berniat segera kembali ke rumah. Ia meraih secangkir kopi dari mesin kopi.


Tangan kanannya memegang cangkir dan menyesap kopi dengan ringan sementara tangan kirinya memegang layar ponsel.


Nasha langsung mendongak saat pintunya dibuka dari luar.


Entah bagaimana bisa, Nasha berakhir makan malam bersama Juan. Saat Nasha mengedarkan pandangannya dan bertemu pandang dengan mata Galaksi yang berdiri tak jauh dari tempat duduknya.


Nasha ingin mengatakan sesuatu namun lidahnya seakan kelu.


Galaksi berdiri diam selama beberapa detik. Kondisi ini membuat Nasha gelisah karena Galaksi adalah pria dengan temperamen dan bukan tipe orang yang menerima kebohongan dalam bentuk apa pun.


Galaksi duduk tepat di belakangnya tanpa mengucapkan sesuatu namun tentu saja tatapan tajamnya tidak bisa disembunyikannya.


Kembali ke rumah, Nasha menunggu Galaksi kembali. Namun Galaksi pulang terlambat. Setelah menunggu selama setengah jam, Nasha mendengar suara pintu dibuka.


Nasha membuka pintu rahasianya dan meliriknya sekilas. Galaksi berbaring di ranjang dan terdiam. Nasha berjuang sejenak dan memutuskan untuk mengambil inisiatif untuk menjelaskan kepadanya.


“Galaksi.”


“Jika kamu ingin menjelaskannya, sudah terlambat.”


Nasha berdiri di depan Galaksi seperti murid yang sedang dihukum.


Setelah berpikir beberapa detik, Nasha berbalik dan kakinya tanpa sengaja menabrak kotak berwarna merah muda.


Nasha mengambilnya dan membukanya. Rupanya itu adalah sebuah kalung yang sangat cantik. Nasha melirik Galaksi yang masih mengabaikannya. Pikirannya berkelana. Apakah kalung itu untuknya? Pikir Nasha.


Nasha langsung memakainya dan berkata, “Apakah kalung ini untukku?"


Galaksi langsung menatap Nasha lalu menatap kalung yang sudah bertengger indah di leher mulus Nasha. Matanya berkedip dan dia tertegun. Galaksi menatapnya dengan dingin.


Galaksi langsung bangun dari ranjangnya.


“Siapa yang mengizinkanmu memakainya?”


“Apakah ini bukan untukku?”


“Mengapa kamu pikir itu kalung untukmu?"


"Jika ini bukan untukku lalu untuk siapa?"


Galaksi menjawab dengan dingin. “Terserah saya memberikannya pada siapa, yang jelas itu bukan untukmu.”


“Lepaskan itu sekarang!”


“Tidak mau.”


Galaksi meraih kalung itu dan melemparkannya keluar jendela. Nasha begitu terkejut dan marah.


Nasha menatap tajam ke arah Galaksi dan pergi ke ruangannya menutupnya dengan kasar.


Malam harinya Nasha mendengar suara ribut di kamar Galaksi. Nasha keluar dan melihat Galaksi terjatuh di lantai. Ia buru-buru melihatnya dan aroma alkohol kuat tercium dari sana.


Nasha menggelengkan kepalanya. Sosok Galaksi rupanya jauh dengan apa yang ia bayangkan.


Nasha ingin membantu Galaksi untuk berbaring di ranjang alih-alih di lantai. Namun Galaksi menolaknya. Meskipun Galaksi menolaknya, Nasha tetap gigih untuk membantu pria itu bangun.


Saat membawa Galaksi untuk berbaring ke ranjang. Nasha terjatuh di atas Galaksi.


“Menjauh dariku.”


“Aku hanya ingin membantu.”


“Membantu? Menipu suaminya dan berkencan dengan pria lain?”


“Aku sudah menjelaskannya padamu.”


“Nasha.”