
Layaknya peluru, Manda langsung pergi meninggalkan kamarnya. Sementara Ale masih tertegun di kamarnya. Sejurus Ale kemudian langsung menyusul Manda guna untuk menghentikan wanita itu.
Ale langsung meraih tangan Manda dan memegang tengkuknya. Otak Ale sangat kacau, ia tidak tahu mengapa ia ingin mencium Manda.
Ciuman itu perlahan memanas dan berakhir di ranjang.
Di bawah langit yang sama dan di tempat yang berbeda. Galaksi duduk di ruang kerja sambil melihat foto Nasha yang diletakkan di meja.
Senyum menawan yang tampak dalam fotonya membuatnya rindu berat. Pria itu menatap matanya. Punggungnya ia sandarkan ke kursi. Ia terlihat lelah dan pikirannya sangat kacau. Pada akhirnya ia berdiri dan keluar dari penthouse untuk menjernihkan pikirannya.
Sementara Maya berteriak dengan histeris. Kehidupan yang ia bayangkan jauh dengan bayangannya selama ini. Ia benar-benar tersiksa.
Ia ingin tinggal bersama Galaksi namun pria itu bahkan tidak meninggalkan penthousenya. Alhasil yang dilakukan wanita itu adalah membujuk ibu Galaksi agar memberitahu kode penthouse Galaksi. Tentu saja itu tidak mudah, Maya bahkan mengancam akan bunuh diri.
“Apakah kamu akan membunuh anakmu?”
“Anakmu tidak peduli denganku, lalu untuk apa aku hidup.”
Maya berteriak dengan histeris dan membanting apa saja yang ada dalam jangkauannya. Maya merasa bahwa ia sudah stres. Ia tidak bisa mengendalikan emosinya.
Amara terkejut dan merasa takut. Maya layaknya orang yang sudah kehilangan akalnya. Pada akhirnya ia memberitahukan kode pas Word penthousenya.
Malam itu juga, Maya pergi ke penthouse Galaksi. Penthouse itu tampak sepi. Maya langsung pergi ke kamar utama di sana dan ia tidak melihat Galaksi di sana.
Maya menelisik setiap sudut di sana dan menemukan barang-barang Nasha masih ada di sana. Maya langsung membuka lemari dan ia terkejut masih melihat baju yang tertata rapi di sana.
Ia langsung mengambil baju-baju tersebut dengan marah. Ia juga mengambil foto Nasha. Barang-barang yang berkaitan dengan Nasha langsung dibuang. Ia juga mengambil korek api dari dapur.
Maya langsung menyalakan korek tersebut dan dibuangnya di tumpukkan baju Nasha. Nyala api langsung berkobar. Perlahan tapi pasti, nyala api mulai membakar baju-baju Nasha. Melihat nyala api, Maya menunjukkan senyum licik.
Pada malam kedua, Galaksi baru saja pulang. Saat melihat penthousenya ia memicingkan matanya karena ada yang berubah dari penthousenya.
Ia melihat kamarnya tidak ada foto Nasha di nakas. Ia lantas pergi ruang kerjanya dan menemukan sosok yang benar-benar membuatnya muak. Siapa lagi kalau bukan Maya.
“Bagaimana bisa kamu masuk ke sini?” tanya Galaksi dengan dingin.
“Kenapa? Memang seharusnya aku tinggal di sini.”
“Apakah kamu yang membuang barang-barang Nasha?”
Maya dengan tenang menjawab. “Apakah barang itu penting bagimu?”
Wajah Galaksi benar-benar marah. Pria itu langsung menarik Maya dari kursinya dengan kasar. Mata Galaksi seakan memantulkan cahaya dingin. Seolah seperti pedang yang menghunus jantung seseorang.
“Aku sudah membakarnya. Dia sudah pergi, apa gunanya barangnya masih disimpan.”
Galaksi langsung mengulurkan tangannya. Ingin menampar wanita itu. Namun tangannya hanya berhenti di tengah angin.
Ia langsung menjatuhkan tangannya kembali. Napasnya memburu, perlahan ia mengatur napasnya.
“Kamu ingin menamparku. Ayo tampar! Sekalian kamu pukul perutku agar kamu puas,” ucap Maya.
Galaksi langsung menggebrak mejanya dan melenggang pergi.
Setelah melihat Galaksi, Maya langsung lemas. Ia mengatur napasnya. Perlahan air matanya jatuh. Ia menangis di sana.
Keesokan harinya, Galaksi ditelepon oleh ibunya. Ibunya memintanya untuk menemani Maya kontrol di poli kandungan.
Galaksi sebenarnya tidak mau menemani wanita namun ia dipaksa oleh ibunya. Pada akhirnya ia memutuskan untuk menemani wanita itu.
Sepanjang jalan menuju ke rumah sakit, senyum merekah tak pernah lepas dari wajahnya. Ia sesekali melihat wajah Galaksi. Ini adalah hal yang paling membuatnya bahagia.
Setelah masuk ke lobi rumah sakit. Maya baru saja teringat, bagaimana jika Galaksi ikut masuk ke poli. Ia mencari solusi agar pria itu tidak ikut masuk ke poli.
Setelah nama Maya di panggil, wanita itu langsung berdiri dan melihat ke arah Galaksi. Pria itu tampak acuh tak acuh. Seakan tak tertarik dengan kontrol hari ini.
Maya bisa bernapas lega dan wanita itu cepat-cepat masuk ke poli di kandungan. Maya langsung menyapa dokter kandungan.
Dokter itu mengangguk. Setelah menunggu selama lima belas menit, Galaksi dipanggil oleh perawat di sana.
Pria itu duduk di samping Maya.
“Semuanya baik-baik saja. Tidak ada masalah. Namun saya menyarankan agar Ibu Maya tidak stres maka peran anda sangat penting sebagai suami.”
Galaksi langsung memandang Maya dengan dingin.
Setelah menebus obat, mereka keluar dari rumah sakit. Galaksi mengambil mobilnya di parkir sementara Maya menunggunya di depan lobi.
Wanita sedang sibuk memberikan pesan pada ibu Galaksi sehingga tidak memperhatikan sekitarnya.
Seorang anak kecil sedang bermain bersama saudaranya tanpa sengaja menabrak Maya sehingga wanita itu terjatuh.
Maya langsung memarahi anak tersebut dan tindakan itu tidak luput dari pandangan Galaksi yang kebetulan sudah ada di sana.
Ia melirik perut Maya dan merasa curiga. Ia menyipitkan matanya.
Setelah mengantar Maya ke rumah orang tuanya, Galaksi kembali ke rumah sakit.
Ia bahkan menelepon Adrian untuk menyelidiki dokter yang menangani Maya. Setelah laporan latar belakang dokter itu didapat Galaksi. Ia sedikit terkejut karena dokter itu adalah teman sekolah Maya dulu. Tak hanya itu ia juga mempunyai skandal yang tak banyak orang tahu.
Galaksi terlihat sangat dingin. Ia segera menemui dokter tersebut saat jadwal polinya sudah selesai. Terlihat dokter tersebut sedikit terkejut.
“Apa aku mengenalmu?” tanya dokter kandungan tersebut yang tak lain bernama Mina.
“Seharusnya begitu,” ucap Galaksi dengan dingin.
Mina merasakan aura yang sangat dingin pada diri Galaksi. Ia menelan salivanya dengan susah payah.
Mereka berakhir di sebuah kafe yang menyediakan ruang privat. Tanpa menunggu lama, Galaksi membeberkan semua skandal yang dilakukan oleh Mina termasuk menggelapkan dana rumah sakit. Sontak saja itu membuat Mina terkejut dan takut.
“Kamu pasti salah orang.”
Galaksi menyeringai lalu dengan angkuh melemparkan hasil yang dikumpulkan oleh Adrian mengenai wanita itu.
“Kamu ingin mengelaknya?”
Tangan Mina langsung gemetar ketakutan.
“Apa yang kamu inginkan?”
“Kamu pasti sudah tahu.”
Mina beberapa kali mengerjapkan matanya. Ia berpikir dengan keras.
“Itu...itu...aku hanya dibayar olehnya. Aku disuruh membuat surat kehamilan palsu.”
“Jadi dia benar-benar tidak hamil?”
“Ya.”
“Aku perlu bukti.”
Maya langsung mendongak dan lagi-lagi menelan salivanya dengan susah payah.
Sepanjang perjalanan ke rumah, Galaksi merutuki kebodohannya. Kenapa tidak sejak saat dulu, ia menyelidiki Maya dan juga Mina. Memiliki anak dengan pria yang diberi obat tidur? Itu mustahil.
Galaksi langsung membanting setir mobil ke pinggir jalan dan langsung menelepon seseorang.
“Apa kamu sudah menemukannya?”
“Kakak, aku belum menemukan kak Nasha.”