Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 55



Nasha langsung memasuki ruang kerja Galaksi begitu pria itu meneriaki namanya.


“Ada apa?”


Nasha terkesiap keras ketika Galaksi menariknya. Ia belum sempat menarik napas ketika wajah Galaksi membayang di depannya.


“Ini,” parau Galaksi.


Kedua mata Nasha melebar saat Galaksi menekankan bibirnya, berikut dengan tubuhnya dan mencium rakus Nasha.


Nasha kemudian membalasnya dan merentangkan tangan memeluk punggung suaminya dan hanya berhenti tangan Galaksi mulai bergerak untuk mengangkat blus yang dikenakannya.


“Gala...xi..”


“Ini akan cepat.”


“Tidak.” Nasha kembali meluncurkan protesnya sambil mencoba menahan tangan pria itu.


Galaksi melekatkan pandangannya dan menatap Nasha dengan minat.


“Aku ingin menikmati masa kehamilanmu sebelum kamu pergi.”


“Pergi? Aku tidak berniat pergi ke mana-mana,” ucap Nasha.


“Nasha, setelah ini aku akan mengirimmu ke luar negeri.”


“Pergi ke luar negeri? Apa maksudmu?” tanya Nasha dengan bingung.


“Ya, aku ingin memberikan lingkungan yang nyaman dan tempat terbaik adalah ke Inggris.”


“Tidak bisakah aku hanya tinggal di sini?”


“Suasana baru dan baik akan berdampak baik bagi si kembar.”


“Aku masih hamil enam bulan dan kamu membiarkan aku pergi ke luar negeri. Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?”


“Tidak ada hanya kondisi di sana memang jauh lebih baik.”


“Tapi aku suka di sini. Aku tidak ingin meninggalkanmu. Apakah kamu ingin mengusirku?”


Galaksi memegang pundak Nasha dan meyakinkan wanita itu. “Nasha, aku hanya ingin memberikan lingkungan yang nyaman untukmu.”


“Apanya yang nyaman? Apanya yang baik? Tanpa kamu itu semua tidak berlaku bagiku,” gerutu Nasha.


“Aku akan sering menemuimu. Faktanya ada alasan lain bagiku untuk mengirimu ke luar negeri. Aku tidak ingin kamu terluka. Sekarang banyak musuh yang sedang menancapkan gigi taringnya pada perusahaan. Aku takut mereka mengancamku lewat dirimu. Aku tidak ingin kamu terluka.”


“Jika itu menyangkut perusahaan, aku bisa membantumu. Ayah juga akan membantu.”


Galaksi menggeleng. “Tidak sesederhana itu. Aku tidak ingin melibatkanmu karena aku ingin melindungimu.”


Tubuh Nasha langsung bergetar, di pelupuk matanya sudah ada bendungan air yang siap mengalir.


“Haruskah kamu mengirimku ke luar negeri.”


“Hanya sebentar, aku akan menjemputmu saat semua sudah membaik.”


Galaksi mencium dahi Nasha dengan penuh ketulusan.


Ternyata apa yang dibilang Galaksi beberapa hari yang lalu memang benar adanya. Nasha akan pergi ke luar negeri dan Galaksi sudah menyiapkan tiket keberangkatannya.


Galaksi juga memberikan beberapa foto rumah yang akan ditinggali Nasha di sana. Memang sangat indah, rumah besar di bawah langit biru dan juga rumah itu banyak kaca besar yang tentunya dengan pemandangan luar biasa.


Malamnya, Nasha menemani Galaksi ke acara pernikahan koleganya. Pernikahan itu diadakan di sebuah vila mewah.


Nasha berdandan dengan cantik, auranya terpancar sempurna. Ia tersenyum tatkala banyak orang yang menyapanya.


“Aku akan ke kamar mandi sebentar,” ucap Nasha.


Galaksi mengangguk, “Ya.”


Beberapa menit di kamar mandi, Nasha kembali namun ia tidak menemukan sosok Galaksi di tempatnya.


Matanya berkeliaran untuk menangkap sosok Galaksi namun yang ia dapat adalah sosok yang menjengkelkan.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Nasha.


Nasha mendengus dan berbalik untuk mencari Galaksi. Namun pria itu tidak ada. Pada akhirnya ia makan perjamuan. Saat makan perjamuan Nasha masih belum mendapati Galaksi. Di telepon pun ponselnya mati.


Nasha menanyakan Galaksi pada orang lain dan akhirnya ia menanyakan pada pelayan di sana. Pelayan di sana mengatakan bahwa Galaksi pergi ke halaman belakang dengan seorang wanita, dan wanita itu adalah Maya.


Nasha langsung pergi ke halaman belakang. Begitu ia sampai di sana, ia melihat Galaksi dan Maya.


Kemarahan besar muncul di dadanya. Emosinya dua kali lipat saat mereka saling bertemu di belakangnya.


“Apa yang kalian lakukan?”


Galaksi berbalik. Matanya langsung membulat. Ia sekilas melirik Maya. “Tidak ada.”


Nasha sangat marah, ia ingin menjambak rambut Maya, menamparnya dan mencakarnya tapi ia malas melakukan untuk itu semua. Tangannya tidak ingin kotor.


Nasha langsung berbalik pergi dan disusul oleh Galaksi.


Ketika mereka pulang, Nasha merajuk. Ia segera pergi ke kamarnya dan menutup pintu dengan kasar.


“Kamu salah paham.”


Galaksi berucap di belakangnya ingin menjelaskan. “Aku hanya memintanya untuk mengetahui sesuatu. Jangan berpikir yang tidak-tidak.”


“Memang kamu tahu apa yang sedang aku pikirkan.”


“Nasha.”


“Nasha, aku berani bersumpah tidak ada hubungan apa-apa aku dengannya. Ini murni hanya masalah pekerjaan.”


“Apa itu?”


“Itu terkait masalah perusahaan.”


“Bagaimana bisa kamu melibatkannya? Apakah aku adalah orang bodoh? Apakah kamu ingin mengirimku ke Inggris karena wanita itu? Kamu masih belum bisa melupakan cinta pertamamu?”


“Nasha! Aku katakan padamu, tidak ada hubungan apa pun di antara aku dan dia. Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang membuatku marah?” Galaksi berteriak dengan keras.


“Kamu marah? Lalu apakah aku tidak boleh marah!” teriak Nasha. Ia benar-benar marah ketika memikirkan rahasia di antara Galaksi dan Maya.


Malam itu keduanya mengalami perang dingin sampai tiga malam. Tidak peduli dengan apa yang dilakukan Galaksi untuk membujuknya, Nasha terus mengabaikannya.


Perang dingin yang sudah membuat kedua darah mereka atau lebih tepatnya hanya darah Galaksi saja mengering itu terus berlanjut hingga suatu hari Nasha pindah untuk tidur di kamar sebelah. Sederhananya mereka sekarang memiliki kamar tidur masing-masing.


Kelihatannya Nasha sangat terkejut dan kesal dengan kejadian di hari itu, sehingga ia sama sekali tidak punya keinginan untuk berbaikan dengan Galaksi.


Nasha menghindari perbincangan dengan Galaksi dan hanya menjawab setiap kali pria itu bertanya kepadanya tentang kehamilannya.


Saat sedang menonton tv pun Nasha langsung beranjak pergi ke kamarnya begitu Galaksi datang.


Galaksi menanti-nanti saat-saat Nasha menyapanya terlebih dulu terus menanti hingga ia mulai kesal. Ini sudah sangat berlebihan. Bagaimana pun juga Nasha merajuk terlalu lama.


Nasha yang baru saja selesai minum susu kehamilannya. Garis pandangnya menemukan sosok Maya yang sedang berkunjung dan sialnya Galaksi mengajaknya naik ke lantai dua.


Nasha langsung menaruh gelas yang tandas dengan kuat sehingga menimbulkan bunyi tak yang kencang. Ia ingin melihat apa yang dilakukan oleh mereka berdua jadi ia mengikuti mereka.


Namun baru saja ia ingin juga masuk ke ruang kerja, Galaksi langsung mengusirnya.


“Nasha, kamu keluar dulu. Aku punya beberapa masalah yang ingin aku bicarakan dengannya.”


Nasha melihat wajah Maya yang mengejek. Ia berbalik dengan marah dan menutup pintu dengan keras.


Kembali ke lantai bawah, ia menunggu Maya keluar dari ruang kerja Galaksi dengan cemas. Dengan samar menunggu beberapa menit seperti menunggu satu abad, pada akhirnya ia mendengar suara ketukan sepatu hak tinggi.


“Nyonya Galaksi, aku pergi dulu.”


Maya tersenyum menyindir dan membuat Nasha tidak nyaman.


Nasha langsung pergi ke ruang kerja dan langsung melemparkan pertanyaan.


“Apa yang kamu inginkan sekarang? Apakah kamu terlibat hubungan dengan Maya lagi?”


Galaksi yang awalnya menutup mata dan merenung langsung bangkit begitu Nasha tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang menurutnya konyol.