
Nasha bersiap untuk tidur namun, tiba-tiba ayahnya menelepon. Nasha menatap layar tersebut sebelum ia mengangkatnya. Ayahnya seperti kurang kerjaan karena mempertanyakan keadaan Galaksi.
Dan mempertanyakan proyek besar. Proyek besar yang dimaksud oleh ayahnya adalah segera memberinya cucu.
Nasha langsung menghela napas sesaat ia menutup telepon ayahnya.
Nasha langsung bangkit dan membuka pintunya secara perlahan. Nasha langsung mengulurkan kepalanya untuk melihat situasi di dalam kamar Galaksi.
Mata Nasha menangkap Galaksi sudah terpejam di ranjangnya. Dengan perlahan ia mengendap-endap untuk mendatangi Galaksi.
Setelah di sampingnya, ia melambaikan-lambaikan tangan di depan wajah Galaksi.
“Dia sudah tidur,” ucap Nasha. “Ini gara-gara ayah.”
Nasha secara perlahan masuk ke selimut Galaksi dan tidur di rajangnya. Lantas ia mengambil beberapa foto untuk dikirim pada ayahnya.
Setelah mengambil beberapa foto mereka, Nasha berencana untuk segera pergi. Sebelum Galaksi terbangun dan perang dunia akan terjadi jika mata pria itu terbuka.
Namun tiba-tiba Nasha mendapatkan pesan dari Manda dan ia seolah tenggelam dalam obrolan yang mengasyikkan tanpa batas.
...♡♡♡...
Saat matahari mulai merangkak naik, dengan perlahan Nasha terbangun dengan beban yang tidak biasa di atas tubuhnya.
Mata Nasha langsung membulat sempurna. Ia ingin segera bangun ketika ia menggerakkan tubuhnya, Nasha merasakan tonjolan keras yang mendesak di belakangnya.
Wajah Nasha langsung terbakar. Nasha langsung mengangkat lengan Galaksi yang melingkar di pinggangnya. Setelah bebas dari kungkungan Galaksi.
Nasha pun bergegas bangkit dan memasuki ruangannya.
“Ya ampun apa tadi.”
Seumur hidupnya, Nasha tidak pernah merasa semalu itu. Pipi Nasha langsung memerah.
Galaksi terbangun dan merasa ada sesuatu yang mendesak. Matanya melihat ke bawah dan pria itu langsung mendesis kesal.
Ketika Nasha keluar dari ruangan rahasianya, ia mendapati Galaksi sudah siap dengan setelan jasnya.
Nasha menelan salivanya sebelum keluar dari kamar Galaksi dan menutup pintu kamar dengan keras.
“Ada apa dengan wanita itu?”
Nasha turun ke lantai bawah dan mendapati ibunya ada di sana.
“Nasha, sarapan dulu.”
“Bu, pagi ini aku ada rapat. Aku akan berangkat sekarang.”
“Sarapan itu penting. Sarapan sebentar, oke.” Bujuk Amara.
Pada akhirnya Nasha ikut sarapan.
“Setelah sarapan. Kalian akan berangkat bersama.”
“Kenapa?” tanya Galaksi.
“Karena kalian suami-istri Galaksi.”
“Bu, kantor Galaksi dan kantorku berbeda arah.”
“Itu tidak masalah. Galaksi akan mengantarkanmu, itulah gunanya suami.”
Galaksi dan Nasha tidak ingin berdebat dengan ibunya. Pada akhirnya Galaksi mengantarkan Nasha ke kantor.
Sesampai di kantornya seperti biasa, Nasha disambut oleh karyawannya yang tak sengaja berpapasan dengannya.
Ketika Nasha berbalik dan melihat Manda yang menatap balik ke arah Nasha dengan ekspresi iri yang tidak repot-repot dia sembunyikan.
Nasha langsung mendengus dan mengabaikan lirikan penasaran Manda.
...♡♡...
“Nasha.”
Nasha menoleh lemah dan menatap Ale Alfero Zildjianov, rekan kerjanya dengan masam. Rapat berjalan lebih lama dari biasanya karena proyek mega besar yang membutuhkan perhatian lebih.
Ale melemparkan senyum terbaiknya. “Sudah waktunya makan siang.”
“Jadi?”
“Ayo makan siang bersama.”
Nasha menyukai menu di restoran itu dan perutnya yang lapar sama sekali tidak merasa risi dengan keberadaan dengan siapa pun yang saat ini duduk di hadapannya.
Nasha sangat lahap dengan makanannya sehingga tidak sadar bahwa ia makan dengan berlepotan.
Tangan Ale langsung mengusap sudut bibir Nasha dan Nasha langsung membeku di tempat. Wanita itu lantas menghindar dan mengusap sudut bibirnya sendiri dengan canggung.
Mereka saling menatap untuk sejenak. Ale dengan senyum kecil di wajah dan tatapan menantang. Sementara Nasha dengan sikap salah tingkahnya.
Ketika hari sudah malam, Galaksi sudah sampai di rumah. Pria itu memasuki ruang tamu dengan wajah lelah. Ibunya yang duduk di sofa di ruang tamu langsung menyipit dan berdiri mempertanyakan keberadaan Nasha. Karena Galaksi datang sendirian.
Galaksi menjawab dengan tidak tahu dan masa bodoh, duduk di sofa dan memberi tahu pelayan. “Air.”
“Kamu tidak tahu?
Ibunya sangat marah. Galaksi menyesap airnya dan terlalu malas untuk menanggapi ceramah dari ibunya.
Ibunya dengan cepat langsung bergegas untuk menelepon keluarga Gustama. Setelah panggilannya dijawab, ekspresi ibunya berubah sangat drastis.
Nasha tidak berada di rumah keluarganya. Ibunya kembali dengan cepat menelepon kantor Nasha dan lagi-lagi perubahan ekspresi ibunya membuat Galaksi menebak bahwa wanita itu juga tidak ada di kantornya.
“Dia tidak ada di rumahnya bahkan kantornya. Pergi, temukan dia dan bahwa menantu ibu kembali!”
“Bu dia sudah besar. Dia akan kembali dengan sendirinya. Apakah aku harus mencarinya?”
Galaksi mendengus dan bangkit untuk kembali. Kemarahan ibunya semakin menjadi. Ibunya menyuruh Galaksi untuk meneleponnya dan mempertanyakan dimana dia sekarang karena ibunya akan menyuruh seseorang untuk menjemputnya.
Begitu Galaksi sampai di kamarnya ia bergumam tidak percaya. Bahwa ibunya begitu khawatir dengan seorang wanita yang baru saja seminggu memasuki rumahnya.
Ia menoleh ke rak bukunya dan merasa bodoh. Ia segera berganti pakaian dan beristirahat.
Semakin kuat keinginan Galaksi untuk tidak memikirkan Nasha semakin kuat pula Nasha berada di pikirannya.
Ia membuka matanya dengan tertekan. Ia melihat jam dinding yang bertengger di tembok. Rupanya hari semakin gelap dan wanita itu masih belum kembali.
Pada akhirnya ia keluar dari kamarnya dan turun seraya memegang kunci mobilnya.
Ibunya yang sedari tadi panik di bawah bertanya saat melihat Galaksi. Namun Galaksi tidak berbicara dan terus berjalan lurus ke luar pintu.
“Kemana kamu akan pergi? Apakah kamu akan mencari istrimu?”
Galaksi mengendarai mobilnya membelah jalanan untuk menemukan Nasha, namun sayangnya ia tidak bisa menemukan Nasha dimana-mana.
Galaksi benar-benar jengkel. Di saat ia menepikan mobilnya. Ia merasakan bahwa ia sedikit konyol karena mengkhawatirkan seorang wanita.
“Apa yang aku lakukan? Kenapa aku berusaha menemukan seorang wanita yang bahkan tidak ingin pulang bersamaku?”
Galaksi berpikir ratusan kali dengan apa yang ia baru saja lakukan. Masa bodoh dengan Nasha. Pria itu menghidupkan kembali mesin mobilnya dan kembali ke vila.
Ketika sampai di vila, suasana vila itu sedikit tenang. Ibunya sudah tidak ada di ruang tengah. Ia hanya menemukan adiknya yang sedang menikmati acara televisi di sana.
Ketika Galaksi hendak bertanya, ibunya datang dengan secangkir teh di tangannya sambil tersenyum.
Alis Galaksi sedikit mengernyit melihat perubahan ibunya yang ajaib.
“Apakah dia sudah kembali?” tebak Galaksi.
Amara tersenyum sebelum menjawab, “Ya, dia sudah kembali.”
Galaksi tidak bisa berkata-kata. Ia seperti merasa seperti orang bodoh dan merasa sedikit marah.
“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”
Galaksi bergegas untuk menuju kamarnya. Bukankah mereka semua tahu bahwa Galaksi mencarinya tapi saat dia sudah kembali ke vila tidak ada yang memberitahukannya.
“Saya pikir kamu tidak akan pulang!”
Nasha langsung terjungkat saat pintu dibuka secara kasar dan suara Galaksi memenuhi ruangannya.
“Aku hanya pulang terlambat bukannya pergi dari rumah.”
“Setidaknya beritahu orang rumah jika kamu pulang terlambat. Semua orang mengkhawatirkanmu.”
Nasha tidak menjawab namun garis pandangnya langsung tertuju pada mata elang yang menatapnya.
“Apakah kamu mengkhawatirkan aku?”
Galaksi tidak menjawab, ia berbalik keluar dari ruang rahasia dan menutup pintu dengan kasar.