
Nasha perlahan membuka matanya, ia secara samar mencium aroma khas rumah sakit. Ia melihat perawat yang sedang memperbaiki laju jalan infus. Perawat itu mengatakan bahwa jika Nasha tidak segera dilarikan ke rumah sakit, itu bisa mengancam jiwanya. Perawat itu bersyukur Nasha bisa kembali pulih meskipun membutuhkan sedikit perawatan.
“Apakah kamu baik-baik saja?”
Nasha langsung menoleh ke kanan dan mendapatkan Ale di sana dengan raut syarat akan kekhawatiran. Pria itu mengucapkan kata permintaan maaf dan Nasha mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Di luar rumah sakit, seorang pria tengah berlari tergesa-gesa. Dari pakaiannya jelas sekali pria itu baru saja menghadiri rapat penting.
Pria itu langsung membatalkan rapatnya dan menjadwalkan ulang ketika ia mendapatkan kabar bahwa istrinya tengah berada di rumah sakit.
Begitu pria itu sampai di sebuah kamar rumah sakit, pria itu langsung membuka pintu dan menyebut nama Nasha. Begitu matanya bertemu pandang Nasha, ia langsung berlari dan memeluknya.
“Saya tidak tahu akan jadi panik berapa kali dalam sehari karenamu.”
Ale yang melihat adegan orang dewasa saling berpelukan langsung berdehem keras. Begitu Nasha menyadari bahwa di ruangan itu masih ada Ale, ia langsung melepaskan pelukannya dan mendorong Galaksi.
“Bagaimana keadaanmu? Apakah kamu merasa sakit? Tidak nyaman?”
“Aku sudah merasa jauh lebih baik.”
Galaksi yang masih tidak percaya langsung mengulurkan tangannya dan memeriksa wajah Nasha. Pria itu langsung menatap perawat yang baru saja masuk. Perawat itu langsung ketakutan ketika ditatap tajam oleh Galaksi.
“Maaf, kondisi Nyonya Nasha sudah membaik. Silakan ambil obat dan saya akan melepas infusnya. Nyonya Nasha diperbolehkan pulang."
Nasha mengatakan terima kasih dan perawat tersebut langsung melepas infus dan pergi.
“Maaf kan aku, semua terjadi karena kesalahanku. Aku tidak tahu bahwa Nasha mempunyai alergi. Aku memesan kue yang mengandung alergen untuk Nasha, maafkan aku.”
Galaksi tidak menjawab permintaan maaf Ale. Pria itu menatap Ale dengan angkuh dan marah.
Galaksi langsung membantu Nasha untuk berdiri. Galaksi siap siaga di samping Nasha. Dan ketika Ale melihat kepergian Nasha bersama suaminya, ia merasa kecewa.
Ale langsung melangkah cepat dan memegang bahu Nasha. Galaksi yang melihatnya terlihat menahan amarahnya.
“Singkirkan tanganmu,” ucap Galaksi sambil menepis tangan Ale.
“Maafkan aku, aku hanya memastikan kondisi Nasha benar-benar baik-baik saja.”
Galaksi mengantarkan Nasha ke vila, namun suasana dalam mobil begitu mencekam. Nasha melirik ke arah Galaksi yang sedari tadi hanya diam dan fokus menyetir.
Nasha sebenarnya ingin mengatakan sesuatu namun ia tapi ia tidak mengatakan apa-apa.
“Maaf, sebenarnya...”
“Jangan jelaskan.”
“Kamu tidak akan salah paham? Aku bersama Ale barusan?”
“Apa ada hubungan diantara kalian?"
"Tidak ada."
"Itu terdengar bagus.”
Ketika mereka sudah sampai di vila di dekat pantai, Nasha mendapatkan sebuah panggilan. Ketika ia melihat ponselnya, panggilan itu dari Ale. Nasha ragu-ragu untuk mengangkatnya.
“Siapa yang menelepon?” tanya Galaksi padahal pria itu sudah tahu siapa yang menelepon.
“Ale.”
“Angkat saja.”
Nasha mengangguk dan mengangkatnya. Ale bertanya mengenai keadaannya. Lalu pria itu tiba-tiba mengingatkan bahwa apa yang dikatakannya adalah tulus.
“Aku sangat menyukaimu.”
Nasha tidak langsung menyahuti karena Galaksi ada di sebelahnya. Wanita itu menatap Galaksi lalu mengalihkan pandangannya.
“Aku tahu.”
“Tidak hanya untuk diketahui tapi harus diingat.”
Nasha hendak menutup telepon namun Galaksi langsung mengambil ponsel Nasha.
“Kamu juga harus mengingat, bahwa Nasha adalah istri saya.”
Galaksi langsung menutup ponsel Nasha. Pria itu terlihat marah. Sedetik berikutnya kontak Ale langsung diblokir. Nasha yang melihatnya langsung terkejut.
“Kamu bilang kamu tidak akan salah paham,” ucap Nasha.
“Saya awalnya menahannya tapi tidak bisa. Apakah kamu suka kalimat dari pria itu? Kamu tidak boleh mengingat kalimat itu.”
“Apakah kamu mendengarnya?”
“Jaraknya sangat, bagaimana saya tidak mendengarnya? Aku tidak bisa begini. Pecat orang itu.”
“Aku tidak bisa memecatnya begitu saja.”
“Apakah kamu begitu tidak rela kehilangannya?”
Nasha yang tersulur rasa jengkel langsung membuka pintu mobilnya dan meninggalkan Galaksi.
Pria itu langsung menyusul Nasha. Ada banyak keluhan yang dilontarkan pria itu. Nasha juga mengeluh pada Galaksi. Mereka saling mengeluh tapi pada akhirnya mereka saling introspeksi diri..
...♡♡♡...
“Ya ya ya! Tentu aku ingat.” Nasha sibuk membubuhi lembaran demi lembaran dengan tanda tangannya. “Tadi malam aku sudah melihat sebagian laporannya.”
Nasha menyerahkan semua laporan itu ke Manda. “Rapat dimulai dua jam lagi kan, aku akan lembur sepertinya.” Nasha langsung memegang kepalanya.
“Nasha,” ucap Manda memasang wajah prihatin.
“Aku sudah lelah jadi sebaiknya kamu membantuku tanpa akhir.”
Manda mengangguk dan keluar dari ruang Nasha. Sepeninggal Manda, ponsel Nasha berdering. itu adalah panggilan dari Ale. Ia mengabaikannya dan melanjutkan pekerjaannya.
Ia tenggelam dalam pekerjaannya sehingga ia tidak menyadari bahwa sudah jam sembilan malam lewat.
Nasha baru saja sadar ketika ia sudah menyelesaikan pekerjaannya. Ia terlihat memegang ponselnya dan ingin menelepon seseorang namun rupanya daya baterai ponselnya habis.
Nasha mendesah dan segera mengambil tasnya dan berniat pulang.
Galaksi baru saja sampai di depan perusahaan Nasha. Menatap Nasha yang berdiri di hadapannya dengan wajah kelelahan dan mata menahan kantuk. Ia langsung menyelimuti tubuh mungil Nasha dengan jaket yang ia pakai.
“Kenapa tidak mengangkat panggilan saya?”
“Ponselku mati.”
Galaksi mengangguk dan mengajak Nasha segera masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan Galaksi selalu menghentikan mobilnya di sebuah kedai. Berharap Nasha akan makan malam tapi sepertinya Nasha tidak punya selera makan. Ia terus menolak ajakan Galaksi untuk makan malam. Wanita itu hanya ingin mandi dan tidur nyenyak di ranjangnya.
Nasha langsung pergi ke kamar mandi setelah sampai ke vilanya sementara Galaksi sibuk berada di dapur untuk membuat teh dan camilan untuk Nasha.
Ketika selesai mandi, Nasha mendapati bahwa ponsel Galaksi terus menerus berdering. Nasha hendak mengangkat panggilan tersebut karena Nasha ingin segera mengakhiri nada yang berisik itu. Tapi belum sempat ia mengambil ponsel Galaksi. Pintu kamarnya terbuka dan menampilkan Galaksi di sana sambil memegang nampan.
“Aku membuatkanmu teh hangat dan mengambilkan beberapa camilan,” ucap Galaksi.
Nasha mengangguk. “Ponselmu sedari tadi bunyi.”
Galaksi meletakkan nampannya di atas nakas lalu mengambil ponselnya.
“Halo.”
“Galaksi, ini aku. Bisakah kamu datang dan membawaku ke rumah sakit? Aku sekarang demam.”
Galaksi melihat ke arah Nasha yang sedang menyesap tehnya. “Bukankah ada Daniel.”
Ketika ia mendengar nama Daniel, Nasha langsung meletakkan cangkirnya. Ia bisa dengan mudah menebak siapa peneleponnya.
“Dia pergi melakukan sesuatu. Aku tidak punya siapa pun untuk dihubungi.”
Galaksi berpikir selama beberapa detik sebelum mengiyakan dan menutup panggilannya.
Galaksi mengalihkan pandangannya untuk menatap Nasha. Jelas sekali ada kemarahannya di sana. Galaksi berusaha untuk menenangkannya.
“Jangan marah. Maya sedang sakit dan ia tidak bisa pergi ke rumah sakit. Dia memintaku untuk mengantarkannya."
"Apakah dia benar-benar sakit?”
Galaksi mengangguk. “Suaranya terdengar lemah. Apakah kamu ingin pergi bersamaku?”
“Aku tidak akan pergi. Bagaimana bisa aku melihatmu dengannya. Dia mengatakan akan merebutmu dariku jadi rupanya ia sudah mulai mengatur strategi.”
“Nasha.”
“Haruskah kamu pergi?”
“Ya, aku akan segera kembali.”
Galaksi membungkuk dan mencium dahi Nasha. “Jangan memikirkan hal aneh. Aku akan segera kembali.”
Galaksi akhirnya pergi. Nasha melihat kepergiannya. Kamar itu menjadi hening, vila itu menjadi kosong. Nasha langsung membaringkan diri di ranjangnya namun pikirannya berkelana kemana-mana.
Galaksi pergi ke alamat yang diberikan Maya padanya. Wanita itu rupanya tinggal di sebuah rumah susun. Pintunya terbuka setengah. Galaksi mulai masuk dan mencari Maya karena ruangan itu gelap tanpa ada cahaya lampu.
“Galaksi, aku di sini.”
Suara itu datang dari sisi sofa. Galaksi bertanya dimana lampunya dan Maya mengarahkannya. Lampu tiba-tiba menyala dan Galaksi dapat melihat bahwa Maya tengah meringkuk di sofa.
Galaksi menyentuh dahinya dan benar bahwa Maya tengah demam. Dengan sigap ia membawa Maya ke rumah sakit.
Setelah mendapatkan suntikan dan mendapatkan cairan infus. Demam Maya berangsur turun.
“Bagaimana? Masih demam?”
Maya menggeleng pelan. Karena demamnya sudah mulai turun, Galaksi ingin pamit dan pulang karena Nasya sudah menunggunya. Namun Maya sepertinya tidak mengizinkannya.
“Galaksi, jangan pergi...”