
Terdengar suara sirine dari mobil polisi diikuti suara helikopter dari bawah. Tian melihat ke arah Nasha dan pria itu terlihat sangat marah.
Galaksi sepertinya bertindak cepat padahal ia masih belum puas bermain-main dengan istrinya.
“Rupanya dia begitu mencintaimu. Dia sangat bergerak cepat.”
Tian langsung mengambil pistol yang ia sembunyikan dari balik sakunya.
“Sepertinya aku harus mengakhirinya.”
Nasha menggeleng dengan cepat. Namun sebuah pukulan terdengar keras terdengar.
Nasha melihat mata merah yang penuh murka di depannya. Itu adalah mata milik Galaksi. Pria itu memberikan bogeman keras untuk Tian. Pria itu juga mencekik dan mendorong Tian sampai ke ujung.
“Galaksi, jangan...”
Tubuh Nasha langsung lemas dan semuanya menjadi gelap. Satu-satunya kesadaran yang tersisa adalah ia mendengar suara teriakkan Galaksi padanya dan Galaksi berkata pada Tian. “Aku sudah memperingatkanmu tapi kamu tidak mendengarnya, berengsek!”
Ketika Nasha terbangun, ia mendapatinya dirinya berbaring di rumah sakit. Ia menatap langit-langit rumah sakit.
Ia memikirkannya kembali apa yang terjadi sebelumnya sebelum ia pingsan namun tidak peduli seberapa ia keras ia berusaha mengingatnya namun sama sekali tak terlintas di benaknya sama sekali.
Pintu bangsal di dorong terbuka, dan Galaksi masuk dan melihat Nasha sudah bangun. Ia langsung berjalan cepat dengan khawatir.
“Kamu sudah bangun? Apakah ada yang tidak nyaman?”
tanya Galaksi sambil membelai surai rambut Nasha.
Nasha menggelengkan kepalanya namun ia tidak bisa menyembunyikan rasa ketakutannya.
Galaksi langsung memeluk Nasha memberikan rasa aman dan nyaman.
“Kamu pasti sangat ketakutan. Maaf, aku tidak bisa menjagamu dengan benar.”
“Siapa dia?” tanya Nasha dengan suara bergetar.
“Saingan dalam dunia bisnis. Kamu tidak usah memikirkannya. Istirahatlah.”
Nasha langsung memeluk erat bahu Galaksi.
“Istirahatlah dan jangan pikirkan hal apa pun.”
Galaksi menyelimuti Nasha dan membenarkan sedikit letak posisinya. Ia mendaratkan sebuah kecupan singkat sebelum keluar dari bangsal.
Setelah dua hari di rawat di rumah sakit, akhirnya Nasha pulang ke rumah. Ibu mertuanya sangat mengutuk orang yang menculik menantunya dan untuk orang tua Nasha sendiri, ayahnya tidak tahu menahu kejadian mengerikan yang baru saja dialami putrinya karena memang Galaksi menyembunyikan fakta itu.
Ibu mertuanya merawat Nasha dengan baik. Hingga Galaksi membuat Nasha sedikit membulatkan matanya.
“Nasha, waktunya sudah terlambat. Ayo pergi.”
Nasha melihat Galaksi membawa kopernya.
“Di mana?”
“Inggris.”
Nasha langsung terkejut setelah semua yang baru saja terjadi padanya, Galaksi mendorongnya untuk pergi.
“Haruskah kamu membiarkannya pergi. Ia baru saja mengalami hal yang mengerikan,” ucap Amara.
“Bu, maka dari itu. Apakah ibu ingin kejadian itu terulang lagi?”
Amara langsung terdiam dan menatap Nasha dengan kasihan.
Nasha mengikuti Galaksi ke bandara tanpa bisa menolak. Sepanjang perjalanan menuju ke bandara, wanita itu banyak diam tanpa kata. Itu adalah bentuk protes dari Nasha.
Nasha duduk di ruang tunggu bandara sementara Galaksi pergi entah ke mana. Nasha menunduk dan melihat ujung sepatunya. Ia tidak tahu apa yang ia pikirkan. Ia seakan linglung.
Setelah beberapa saat, Galaksi kembali dan membawa sekotak minuman sari kacang hijau serta roti.
“Makan roti dan minum ini,” ucap Galaksi dengan lembut.
“Aku tidak mau.”
“Makan ini, aku tidak mau anak-anakku kurus nantinya.”
Nasha lantas mengambilnya dan makan roti yang sudah dibukakan Galaksi dengan perasaan jengkel.
Pemberitahuan terdengar di aula dan Nasha sudah tidak bisa menelan rotinya.
“Pesawatnya akan lepas landas sebaiknya cepat bergegas.”
Mereka berdua berjalan beriringan namun sedetik kemudian ia memeluk Galaksi.
“Aku tidak mau pergi. Tolong jangan menyuruhku untuk pergi.”
Air mata jatuh dan Galaksi merasakan dadanya basah. Tangan pria itu lalu terulur untuk memeluk Nasha.
“Aku tidak tahu akan terjadi seperti ini. Mari kita pergi bersama.”
Nasha langsung terbelalak. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Galaksi namun detik berikutnya ia melihat Galaksi memegang dua tiket di tangannya.
“Aku akan menemanimu di sana untuk beberapa hari sampai kamu bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di sana.”
Mereka sampai di apartemen Galaksi dan langsung beristirahat.
“Kamu sepertinya begitu mengenal tempat ini?”
“Tentu saja, aku datang ke sini untuk menghabiskan waktu ketika aku kuliah.”
“Dengan Maya?”
“Tentu saja tidak!”
“Oh.”
Pagi berikutnya, Galaksi menemani Nasha untuk pergi ke kota terkenal di sana. Galaksi seakan menjadi tourguide bagi Nasha. Ketika wanita itu penasaran dengan sesuatu, Galaksi dengan sigap menjelaskannya.
Nasha seakan seperti anak kecil dengan segala keingintahuannya. Ia sepertinya menikmati perjalanannya karena sepanjang perjalanan Nasha selalu berceloteh.
Mereka pergi ke Cotswolds adalah rangkaian perbukitan yang berlokasi di sebelah barat daya dan tengah Inggris, membentang selebar 25 mil (40 km) dan sepanjang 90 mil (145 km). Kawasan ini telah ditunjuk sebagai kawasan dengan keindahan alam yang menakjubkan. Jaraknya yang tidak terlalu jauh dari London menjadikan salah satu tempat yang harus mereka kunjungi.
“Aku dengar Beberapa tokoh terkenal dunia seperti J.K Rowling, Kate Moss dan Hugh Grant dikabarkan memiliki rumah di Cotswolds,” ucap Nasha.
“Ya, apakah kamu ingin memiliki rumah di sini?” tanya Galaksi.
“Tidak! Aku lebih suka tinggal di tempat kelahiranku.”
Galaksi lantas melihat Nasha. Wanita itu rupanya sedang melihat sebuah sepeda yang terparkir di halaman rumah penduduk lokal.
Galaksi lantas mengerti apa yang diinginkan oleh wanita itu.
“Kamu ingin berkeliling dengan sepeda itu?”
“Apa boleh?”
Galaksi tidak menjawab namun pria itu segera pergi ke halaman rumah itu dan mengetuk pintu meminta izin pemilik untuk meminjam sepeda.
Nasha tersenyum saat melihat Galaksi membawa sepeda itu.
“Ingin berkeliling?”
Nasha langsung menaiki jok belakang dan berpegangan erat pada pinggang Galaksi.
“Pegangan yang erat,” ucap Galaksi.
Mereka mengelilingi jalanan yang di samping kanan dan kiri penuh dengan rumah asli penduduk lokal.
Mereka juga berkeliling ke sebuah hamparan rumput yang hijau. Angin dengan lembut menyapa mereka.
“Ini jauh dari pemandangan kota.”
“Apakah kamu suka?”
“Ya, terasa damai.”
Mereka lantas berhenti di sebuah toko roti. Galaksi memesan roti bagelan dan juga yogurt rasa stroberi.
“Ini tidak terasa asam malah manis.”
Galaksi langsung mengulurkan tangan untuk mengusap ujung bibir Nasha yang berlepotan dengan Yougurt.
Nasha senang dan meraih lengan Galaksi.
“Aku ingin mendaki gunung.”
“Tunggu sampai anak kita lahir.”
“Aku ingin bermain ski.”
“Tunggu sampai anak kita lahir.”
“Aku ingin memiliki pacar warga sini.”
“Tunggu sampai anak kita... apa? Apa yang kamu katakan?”
“Aku tidak mengatakan apa-apa, tidak mengatakan apa-apa.”
Nasha hanya menggoda Galaksi.
Galaksi hanya tinggal di Inggri selama tiga hari dan langsung menerima panggilan dari Adrian yang mendesaknya untuk pulang karena perusahaannya membutuhkannya.
Setelah menutup telepon, Galaksi melihat Nasha yang berada di balkon. Galaksi langsung menyusulnya dan memeluknya dari belakang.
“Nasha, aku akan kembali besok.”
Tubuh Nasha langsung kaku. “Kenapa begitu cepat sekali?”
“Ya, ada hal yang mendesak di perusahaan jadi aku harus menanganinya.”
“Galaksi, kamu tahu. Sebelum aku menikah denganmu, aku juga adalah putri dari seorang pengusaha. Haruskah aku kembali juga untuk mengurus perusahaanku?”
Galaksi tidak bicara ia hanya menatap wajah Nasha dari samping. Sementara Nasha ia tetap melihat ke depan tanpa repot-repot berbalik untuk dapat melihat ekspresi wajah Galaksi.
“Jika kamu harus kembali. Kembalilah!”