Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 47



Nasha dan berakhir pada bibirnya.


Saat ia hendak ingin menciumnya, tiba-tiba ponsel Nasha berdering. Wanita itu langsung menoleh ke arah ponselnya.


Dan Edward kecewa karena gagal menjalankan misinya.


“Siapa yang meneleponmu di malam hari?” tanya Edward.


Entah Nasha tidak mendengar pertanyaan Edward atau memang wanita itu memilih untuk diam, yang jelas Nasha langsung pergi menjauhi Edward untuk mengangkat panggilan dari Galaksi.


“Aku pergi ke kantormu tapi sekretarismu mengatakan kamu cuti, padahal aku melihatmu pergi ke kantor pagi ini. Ada apa? Apakah kamu sakit?”


“Tidak, Edward datang.”


“Kamu tidak akan kembali ke rumah malam ini?”


“Ya. Ini sudah malam, aku ingin segera istirahat.”


Lalu Nasha segera mematikan panggilannya. Ia berbalik ke ruang tamu dan menemukan Edward sudah bersiap-siap akan pergi.


“Kamu ingin pergi sekarang?” tanya Nasha.


“Ya, apakah kamu menahanku?”


“Tidak!”


“Padahal aku berharap kamu menahanku. Baiklah kalau begitu, aku pergi. Segera tidur, besok aku akan mengajakmu lagi.”


“Ke mana?”


“Itu rahasia.”


Keesokan paginya, Edward datang ke apartemen Nasha untuk menjemputnya. Ketika di tengah perjalanan, Nasha begitu penasaran dengan tempat yang akan mereka tuju.


“Ke mana kita akan pergi?”


“Pergi ke pantai melihat laut.”


“Melihat laut?”


“Ya, aku menyewa kapal pesiar.”


“Wah, aku akan mabuk laut di sana.”


“Tidak akan, ada aku di sana.”


Di tempat lain, Galaksi mengamati laporan yang baru saja ia terima dari Adrian namun fokusnya buka ke laporan itu.


Dari tadi malam hingga sekarang suasana hatinya tidak menyenangkan hanya karena ia tahu bahwa Nasha telah menemani Edward.


Dengan keras, ia melemparkan laporan itu ke meja. Galaksi menyapu rambutnya tanpa bicara lalu bergumam menggoyangkan kakinya dengan menjengkelkan.


“Bukankah dia tinggal bersamaku mulai sekarang, lalu mengapa dia sekarang bersama Edward? Apa yang akan mereka lakukan bersama? Pria dan wanita...”


Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka lakukan? Entah sudah berapa kali ia bergumam seperti bergerak otomatis keluar dari mulutnya.


Semakin ia memikirkannya semakin hati Galaksi kalang kabut. Galaksi terus memikirkannya dan hatinya mulai gerah.


Sepertinya ia tidak kuat menahan perasaannya lagi. Berkali-kali ia bangkit berdiri lalu duduk kembali.


“Argh! Nasha! Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?”


Pada akhirnya Galaksi bangkit dan mengambil kunci mobilnya.


Kembali ke Nasha dan Edward. Mereka saat ini sudah berada di tengah-tengah laut. Nasha melihat laut yang begitu biru. Ia memandang langit yang begitu cerah lalu memandang burung-burung yang saling berkejaran.


“Pemandangan yang sangat cantik,” ucap Nasha.


“Ya, sangat cantik.”


Nasha langsung berbalik saat mendengar suara Edward. Ia melihat Edward memegang seikat bunga. Nasha tertegun untuk sementara.


“Terima lamaranku, Nasha.”


Nasha melihat bunga itu lalu melihat Edwar. Ia ingin menolaknya tapi ia sendiri tidak ingin menyakiti hati pria itu.


“Itu...”


“Kamu masih memikirkannya?”


“Ya.”


“Kamu menolakku dengan kejam.”


“Aku memintamu untuk menunggu.”


Nasha hanya menggigit bibir bawahnya dan ia tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah malam menjelang, rupanya Edward harus kembali. Setelah mengantarkan Edward ke bandara, Nasha kembali ke rumah mertuanya.


Ibu mertuanya senang bahwa Nasha kembali. Ia mengajak Nasha untuk makan malam di luar.


Mereka kembali tepat jam sembilan malam. Nasha melihat mobil Galaksi sudah terparkir di garasi.


Nasha langsung naik ke lantai dua untuk melihat Galaksi. Ia melihat ruang kerja Galaksi yang tidak tertutup rapat dan langsung mendatanginya.


“Kamu sudah kembali. Apakah kamu sudah makan malam?”


Galaksi menatap Nasha dengan wajah masam.


“Apakah kamu masih peduli denganku?”


Melihat ekspresi wajah Galaksi yang tidak senang, Nasha sedikit tertegun.


“Hei, ada apa denganmu?”


“Pada saat yang sama kamu peduli padanya. Kamu menghabiskan waktumu dengannya, sekarang kamu peduli padaku?”


Nasha tiba-tiba menyadari dan akhirnya mengerti. Galaksi marah padanya karena menemani Edward selama dua hari.


“Aku hanya menjadi tour guidenya selama dua hari.”


“Aku ingat kamu menerima lamaran menjadi pacarnya di hadapanku,” sindir Galaksi.


“Itu karena dirimu,” gumam Nasha.


“Aku belum pernah melihat seorang wanita sepertimu.”


“Apa katamu? Sudah berapa lama kamu mengenalku.


Ternyata kamu mengenal aku sebagai orang seperti itu?”


“Lalu apa? Kenapa kamu tidak menolak saat ia melamarmu di kapal pesiar?”


“Apa? Bagaimana kamu bisa tahu?”


“Kamu tidak menolaknya karena kamu menyukainya kan?”


“Aku tidak mengatakan bahwa kamu mantan suamiku dan jika aku menolaknya saat ini, menurutmu apa yang dia lakukan? Dia akan membatalkan kerja sama denganmu.”


“Aku tidak peduli dengan kerugian yang aku dapatkan. Kamu lebih baik memberitahunya atau kamu pindah dari rumahku, tidak ada pilihan ketiga.”


Galaksi sebenarnya cemburu dengan Nasha yang bersama Edward.


“Kamu tidak peduli dengan kerugiannya? Setidaknya kamu harus menghargai hasil dari buah pekerjaanmu dengan timmu. Pikirkan mereka yang sudah bekerja keras sampai kerja lembur.”


“Aku tidak peduli! Jadi jangan pedulikan aku! Menurutku itu hanya alasan agar kamu bisa berduaan dengannya. Jika kita tidak bersama, setidaknya ada cadangan Edward.”


“Kenapa kamu bisa berpikir seperti itu? Aku akan benar-benar meninggalkanmu setelah kamu sembuh. Dasar berengsek!”


Nasha langsung membalikkan tubuhnya dan bergegas keluar menuju ke kamarnya. Ia melemparkan tas selempangnya dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang.


Galaksi yang melihat kepergian Nasha hanya bisa membeku dan langsung berlari menemukan Nasha. Ia tidak ingin jika Nasha meninggalkannya lagi.


Galaksi segera membuka pintu kamarnya dan merasa bersyukur melihat Nasha yang berbaring di sana.


Nasha mungkin terserat terlalu jauh dalam pikirannya sehingga tidak merasakan kehadiran Galaksi. Ketika pria itu meraihnya, sudah terlambat bagi Nasha untuk berpura-pura tidur. Siluet gelap itu menjulang di atasnya saat Galaksi bergerak untuk menutupi tubuhnya.


“Maafkan aku.”


Nasha belum menemukan suaranya ketika Galaksi merunduk hingga ia merasakan bibir pria itu di pelipisnya, menggumamkan kata-kata sebelum mengubur wajahnya di sisi leher Nasha.


“Aku cemburu. Aku cemburu dengannya yang mengambil waktumu. Aku tidak ingin perhatianmu dibagi dengan orang lain.”


...♡♡...


Nasha menatap laptop untuk waktu yang lama dan membuka halaman internet. Sebuah kursor kecil berkedip di kotak pencarian berwarna kuning.


Setelah ragu-ragu untuk beberapa saat, Nasha akhirnya menaruh jemarinya di atas papan ketika dan mengetik beberapa kata kotak pencarian.


Tidak sampai satu detik, bermacam-macam informasi muncul di layar. Namun, Nasha seperti biasa melewati beberapa halaman dengan ekspresi yang tidak berubah.


Nasha langsung mendongak begitu pintunya dibuka. Ia melihat Lea yang berjalan ke arahnya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?”


“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu setelah itu aku akan pergi.”


“Apa yang ingin kamu katakan?”