Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 14



Galaksi langsung meletakkan penanya ketika melihat Nasha masuk ke dalam ruangannya. Pria itu langsung menyuruh Nasha untuk berjalan ke arahnya. Lantas pria itu mengulurkan tangannya dan menepuk pahanya, menyuruh Nasha untuk di sana.


Nasha tersenyum kaku dan berjalan dengan langkah yang berat.


“Aku sudah menandatanganinya. Terima kasih.”


“Bagaimana kamu akan membalas saya?”


Nasha mengernyit. “Makan malam.”


Galaksi langsung tersenyum namun senyum itu sangat misterius. Tatapannya seakan membakarnya. Jelas sekali Galaksi mendeskripsikan makan malam bukanlah makan malam biasa.


“Saya ingin makan sekarang.”


“Tidak, aku masih kenyang.”


Pintu kantor diketuk dan langsung terbuka. Nasha langsung terlonjak dan langsung berdiri. Tatapan matanya berkeliaran dimana-mana.


“Presdir, tamu dari Amerika sudah datang.”


“Aku akan pergi sekarang.”


Nasha langsung keluar dari kantor Galaksi dengan wajah merah dan lehernya sudah ada bekas gigitan dari Galaksi.


Malamnya Nasha dan Galaksi pergi makan malam. Setelah makan malam, Galaksi pergi ke ruang kerjanya. Melihat Galaksi yang terlihat sibuk, Nasha membawakan secangkir kopi.


Nasha mengetuk pintu dan tersenyum. “Aku membawakanmu kopi."


"Datang dan cium saya.”


Nasha meletakkan kopi di meja dan mencium pipi Galaksi. Keduanya saling memandang dan tersenyum. Nasha mengulurkan tangan untuk memeluk pundak Galaksi.


“Apakah kamu masih lama?”


“Ya, mungkin saya akan tidur larut. Jadi tidurlah lebih dulu.”


Nasha mengangguk dan berbalik untuk pergi. Ketika ia berada di ambang pintu, Galaksi tiba-tiba memanggilnya.


Nasha menoleh dan menatap Galaksi. Menatap mata Nasha yang bening, Galaksi langsung menelan salivanya sendiri.


“Tidak. Selamat malam.”


Nasha mandi dan setelah mandi ia pergi ke ruang rahasianya yang sudah dijadikan ruang baca. Ia membuka laci, ada amplop di sana. Setelah melihat amplop itu, Nasha buru-buru menutup laci tersebut.


Keesokannya Nasha bekerja seperti biasa. Manda duduk menghadap pada sebuah meja bundar, tempat di mana Nasha dan para staf selesai melakukan rapat.


Nasha tengah melihat laporannya kembali.


“Aku sangat lapar.”


“Kenapa kamu tidak makan saja? Ini sudah waktunya jam makan siang.”


Manda mendorong tubuhnya untuk bangkit dari duduknya, menghampiri Nasha. “Kalau begitu ayo kita makan siang bersama.” Manda kini sudah berdiri di sisi Nasha dan menutup berkasnya.


Kebetulan Nasha juga sudah merakan lapar. Ditambah akhir-akhir ini nafsu makannya meningkat.


Di tempat lain, Galaksi berdiri di depan jendela yang menampilkan pemandangan kota yang sibuk berlalu lalang kendaraan dan juga gedung-gedung yang ada di bawahnya.


Ponselnya ia dekatkan di telinganya untuk memanggil Nasha.


“Kamu dimana?”


“Makan siang dengan Manda.”


“Kenapa harus dengan Manda? Harusnya kamu makan siang sama saya.”


“Aku tidak bisa menolak ajakan Manda.”


“Kapan kembali?” tanya Galaksi.


“Seperti biasa.”


“Nanti saya jemput.”


“Oke.”


Nasha lantas menutup ponselnya. Ia kembali melanjutkan makan siangnya namun di tengah ia mengunyah makanan pernyataan Manda membuat Nasha tersedak. Bagaimana tidak, wanita itu tiba-tiba meminta izin untuk berhenti dari pekerjaannya.


“Mengapa? Apakah aku terlalu keras padamu?”


“Tidak, ibuku memintaku untuk kembali negara asal.”


“Lalu bagaimana dengan Ale Alvero Zildjianov?”


“Apa yang harus kukatakan, aku tidak ada hubungannya dengannya.”


“Hei, aku tahu kamu menyukainya.”


Manda terdiam rupanya perasaannya sudah dideteksi oleh Nasha.


“Apa kamu ingin aku membantumu?”


“Hei apa yang kamu katakan!” Manda mencoba untuk membantah.


Nasha tersenyum melihat Manda yang salah tingkah. Ia mengalihkan pandangannya keluar jendela.


“Aku harus pergi sekarang! Kamu jangan pernah berhenti, aku tidak menyetujuinya.”


Nasha mengambil tas dan bergegas keluar. Ia melihat sosok yang tampak tak asing saat melihat ke jendela. Saat ia berlari ke sosok itu. Tiba-tiba orang itu berada dalam kerumunan. Nasha mengejarnya dengan napas yang memburu.


“Hei apakah kamu Daniel?”


Nasha meraih pundak orang itu dengan terengah-engah. Pria itu tampak terkejut dan hendak pergi namun kalimat Nasha membuat tubuhnya membeku.


"Aku adalah istri Galaksi Januartha.”


Saat ini mereka berdua sudah berada di dalam sebuah kafe. Mereka memesan kopi. Mereka berdua saling bertukar pandang tanpa ada orang yang ingin memulai pembicaraan.


Nasha mengambil napas, “Aku melihat foto kalian di laci suamiku.”


“Apakah kamu tahu apa yang terjadi di antara kita?”


“Ya, jika kamu kembali. Apakah dia juga kembali?”


Meskipun Nasha sudah menyiapkan mental, mendengar jawaban menyakitkan ini. Hati Nasha tetap merasakan tidak nyaman. pengaruh wanita itu amatlah besar dalam hati suaminya.


“Bisakah kamu memberitahuku tujuan kepulangan kalian?” tanya Nasha.


Daniel menghela napas. “Seharusnya kamu memikirkan kebahagiaanmu dengannya. Dia adalah wanita masa lalunya tidak akan kembali, jadi jangan khawatir.”


“Bagaimana bisa aku tidak khawatir? Wanita yang dicintai suamiku sudah kembali.”


“Tenang saja. Galaksi adalah pria yang bertanggung jawab, dia tidak akan mudah meninggalkanmu.”


“Apakah Galaksi tahu bahwa kamu dan dia kembali?”


“Tidak. Tidak ada yang tahu.”


Nasha duduk sendirian di kafe dengan waktu yang lama. Tiba-tiba ia merasa bingung. Daniel meninggalkan nomor ponselnya padanya dan kemudian sosok itu pergi.


Nasha tetap bertahan di kafe tersebut hingga malam menjemput. Jika bukan karena panggilan Galaksi yang kesekian kalinya mungkin Nasha masih bertahan duduk di sana sampai akhir.


Sampai di rumahnya, Nasha berdiri di balkon. Udara dingin menembus epidermisnya. Ia menatap lurus sambil memikirkan sesuatu. Melihat suasana hati yang tak biasa. Galaksi langsing melingkari pinggang rampingnya dari belakang.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Ayo kita liburan.”


“Baiklah, apakah ada kota yang ingin kamu kunjungi?”


“Ya, aku ingin pergi ke Jepang.”


Nasha terlihat menelan ludah dengan leher yang dijenjangkan. Ada gerakan menggelitik di sana. Galaksi berjanji akhir minggu ini ia akan pergi liburan.


Entah mengapa waktu terasa singkat, dan sudah hari Sabtu. Galaksi menetapkan perjalanan ke Jepang hari Sabtu ini. Namun pria itu, menyuruh Nasha untuk berangkat ke bandara terlebih dahulu karena Galaksi akan pergi ke perusahaannya terlebih dahulu untuk mengurus beberapa berkas.


Nasha tidak mempermasalahkannya, wanita itu pergi ke bandara terlebih dahulu. Setelah menunggu selama dua puluh menit, Galaksi masih belum datang juga. Padahal pesawat mereka akan berangkat sebentar lagi.


Nasha mendapatkan panggilan dari Galaksi, pria itu mengatakan membatalkan perjalanan mereka dengan alasan yang tidak diketahui Nasha. Pria itu lantas menutup teleponnya.


Nasha benar-benar kecewa dan marah karena Galaksi membatalkan perjalanan mereka secara sepihak. Padahal ia sudah mempersiapkan perjalanan ini jauh-jauh hari.


Sekitar sepuluh menit kemudian, Adrian datang untuk menjemputnya.


Saat sudah berada di dalam mobil, kepala Nasha ia sandarkan ke pintu jendela mobil. Tampak jelas sekali raut kekecewaannya.


“Dimana dia sekarang?” tanya Nasha.


“Dia pergi dan melakukan sesuatu.”


“Melakukan apa?”


“Aku tidak tahu.”


Mata Nasha langsung menyipit. Nasha tahu bahwa Adrian saat ini sedang berbohong padanya. Tidak mungkin bahwa Adrian tidak tahu apa yang sedang dikerjakan Galaksi saat ini. Nasha terus mendesak Adrian bahkan ia mengancam pria itu. Pada akhirnya Adrian mengalah dan memberitahukan kejadian pagi ini.


“Dalam perjalanan ke perusahaan dia melihat Maya. Dia masih mencarinya sampai sekarang.”


Hati Nasha terasa sakit tapi ia tidak mengatakan apa-apa. Nasha meremas roknya guna untuk menguatkan hatinya.


Beraninya ia menghianatinya. Nasha bahkan sempat berpikir untuk mempertahankan pernikahan yang sejak awal tak lebih dari sandiwara. Nasha mengerjap kasar untuk mencegah dirinya menangis. Ia tidak akan menangis untuk Galaksi.


Kalau memang kehidupan pernikahan mereka tidak lagi cocok untuknya maka Nasha tidak perlu repot-repot mempertahankannya.


“Putar balik.”


“Apa?”


“Aku bilang putar balik. Aku akan pergi ke Jepang dengan atau tanpa Galaksi.”


“Tapi dia menyuruhku untuk membawamu pulang.”