Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 34



Keesokan harinya, Nasha mengikuti Galaksi kembali ke penthouse. Saat mereka akan berangkat ke kantor, Galaksi mendapatkan pesan dari Maya.


Setelah Galaksi bertemu dengan Maya untuk terakhirnya kalinya, wanita itu lenyap bagaikan di telan bumi dan sekarang dia memberinya pesan.


‘Jangan repot-repot menemukanku lagi. Untuk memastikan keselamatanku dan anakku. Kamu ingin menyingkirkanku, bermimpilah. aku berada di tempat yang tidak kamu ketahui. Dua bulan lagi, aku akan menemuimu.’


Galaksi menekan ponselnya dan menghantamnya ke meja. Maya terbuka untuk menentangnya. Galaksi sudah meminta bantuan Adrian untuk segera menemukan Maya sebelum wanita itu kembali membuat ulah yang membuat Nasha kembali goyah.


Meskipun Nasha sudah berjanji akan berdiri di sisinya namun Galaksi tahu bahwa itu hanya sementara jadi jika ia ingin Nasha ke sisinya selamanya, ia harus menyelesaikan urusannya dengan cepat.


...***...


“Apa yang kamu lakukan di sini? Apakah Nasha sudah masuk?” tanya Manda yang baru saja melihat salah satu karyawan keluar dari kantor Nasha.


“Beliau ada di dalam.”


Manda segera masuk, begitu Manda masuk ke ruangannya, Nasha yang tadinya tengah memeriksa dokumen di atas meja kerjanya itu langsung menoleh untuk melihat Manda.


“Lama tidak bertemu, ya.”


“Nasha, bagaimana kabarmu? Kenapa kamu beberapa hari tak masuk? Kamu sakit?” Manda bertanya dengan nada riang terselip nada khawatir.


"Manda." Nasha menatap Manda dengan raut serius.


“Hm.”


“I’m ok. Aku baik-baik saja.”


Manda mengembuskan napasnya perlahan seolah merasa lega. Ia langsung memeluk sahabatnya itu.


“Jika sesuatu terjadi, jangan sungkan-sungkan untuk menceritakannya padaku."


Nasha tidak menceritakan masalahnya pada Manda. Sehingga Manda tidak tahu apa yang terjadi padanya. Nasha memilih untuk tidak menceritakannya karena ia merasa masalah rumah tangganya adalah masalahnya sendiri


Malam harinya, Nasa dan Galaksi berbaring di ranjang setelah melakukan kegiatannya seperti mereka.


Nasha berjengit ketika pria itu meletakkan tangan di atas perutnya. Nasha mengerti sebelum pria itu bertanya. Ia menjulurkan tangan seolah ingin memeluk pria itu.


“Apakah kamu mencari Maya?” tanya Nasha.


“Bagaimana kamu tahu?” Galaksi terlihat terkejut.


“Dari Adrian. Jika kamu menemukannya apakah kamu akan melenyapkannya?”


Nasha mengangkat wajahnya yang tanpa ekspresi dan menunggu jawabannya. Namun setelah menunggu, Galaksi tak segera menjawab.


“Jangan mencarinya lagi karena aku memilih untuk tetap berdiri di sampingmu tidak peduli apa hasil akhirnya aku akan meyakinkan diriku untuk menerimanya.”


Karena kepercayaan Nasha yang telah diberikannya, Galaksi setuju dan berjanji untuk berhenti mencari Maya.


Selama beberapa hari terakhir, Nasha tidak bisa tidur dengan nyenyak. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan Maya dengan perut besarnya menghantamnya.


Meskipun begitu, ia berusaha keras untuk mempersiapkan mentalnya untuk menghadapinya bersama Galaksi.


Tanpa sadar, dua bulan berlalu dengan begitu cepat. Maya kembali menemui keluarga Januartha. Ia berdiri di ruang keluarga Januartha dengan angkuh dan sombong.


Nasha menatap perut Maya yang terlihat sedikit membesar tanpa sadar ia mengelus perutnya. Dulu ia di perutnya juga ada kehidupan.


Mata Galaksi menatapnya dengan tajam.


“Jadi kita akan melakukan tes.”


“Baiklah, siapa takut. Aku akan membuktikan bahwa bayi ini adalah anakmu.”


Mata berdiri tegak dan memimpin di pintu ruang tamu. Nasha menatap punggung Maya yang begitu percaya diri. Tiba-tiba nyalinya menjadi ciut.


“Apakah kalian tidak pergi?” Amara bertanya pada Nasha dan Galaksi.


“Aku tidak akan pergi.”


Penolakan putranya membuat Amara menghela napasnya. “Bagaimana kamu bisa mengidentifikasi jika kamu tidak ikut pergi?”


Galaksi langsung memandangi Nasha.


“Pergilah.”


“Ayo kita pergi bersama.”


“Aku tidak akan pergi, aku akan di sini bersama Bintang.”


Untuk memastikan tes Dna. Dengan cara pengambilan sampel dari cairan ketuban (cairan yang mengelilingi janin selama kehamilan) dan hasilnya akan keluar dua sampai empat minggu.


Selama itu, hati Nasha teras was-was. Nasha mulai percaya bahwa anak yang dikandung oleh Maya adalah anak dari Galaksi.


Pada hari ke empat, tepatnya pada siang hari. Hasil tes DNA sudah keluar. Semua anggota keluarga Januartha kembali berkumpul.


Yang pertama melihat adalah orang tua Galaksi lalu Galaksi. Melihat ekspresi Galaksi, Nasha sudah bisa menebak hasilnya tanpa harus melihat hasilnya.


Pria itu berteriak dengan marah, “Aku pingsan pada malam itu! Bagaimana kamu bisa mengandung anakku?”


“Apakah aku perlu mengatakannya secara detail, bagaimana kita melakukannya?” Maya memandang ke arah Nasha.


Galaksi langsung melepaskan tubuh Maya dengan kasar.


“Aku tidak akan membiarkanmu mendapatkan apa yang kamu inginkan.”


Galaksi meliriknya dengan jijik dan memutuskan untuk pergi. Pria itu langsung memegang tangan Nasha dan membawanya pergi.


Tiga orang mulai memulai negosiasi dengan Maya.


“Kami sudah mengatakan sebelumnya, jika anak itu memang mempunyai darah Januartha. Kami akan bertanggung jawab. Kami akan merawat anak itu,” acap Amara.


Mendengarnya, Maya langsung mencibirnya. “Aku akan memberikan anak ini, tapi dengan satu syarat.”


“Apa syaratnya?”


“Izinkan aku menikahi Galaksi.”


Setelah mendengar Maya berucap seperti itu dengan wajah marah, Bintang mengernyit seolah ingin menampar wanita yang di depannya itu.


Bintang menatap wajah ibunya dengan raut wajah khawatir. Orang tuanya akan menyetujui syarat yang akan diajukan Maya.


“Anakku tidak mempunyai perasaan padamu. Dia tidak akan bisa membuatmu lebih baik,” ucap ayah Galaksi.


“Jangan khawatir. Aku yakin seiring berjalannya waktu ketika anak ini lahir, dia akan menerimaku secara perlahan.”


Maya tersenyum dengan angkuh lalu wanita itu pergi. Maya menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap kedua orang tua Galaksi. Menatap ekspresi mereka, Maya sangat lah puas.


Dulu, Jeka Januartha memaksanya untuk pergi sekarang ia kembali dengan anak keturunan Januartha.


...♡♡♡...


Galaksi dan Nasha tiba di penthousenya. Galaksi sebenarnya ingin melangkah lebih dekat lagi pada Nasha tapi kakinya terasa berat untuk melangkah.


Galaksi tak bisa melangkahkan kakinya karena raut wajah Nasha terlihat dingin, tidak tersenyum padanya dan bahkan terlihat tidak nyaman berdekatan dengannya.


“Nasha.”


Galaksi memanggil nama Nasha. Ketika wanita itu berbalik dan memandang Galaksi, ponsel Nasha tiba-tiba berdering.


“Sebentar.”


Nasha mengeluarkan ponsel dari tasnya dan menerima panggilan itu dengan menjauh dari Galaksi.


Galaksi sangat ingin menahannya, sangat ingin berlari mengejarnya dan segera memeluknya. Pria itu kini butuh sandarannya begitu pula dengan Nasha.


Malamnya, Galaksi merasakan bahwa Nasha terus menghindarinya.


“Nasha.”


“Hm,” jawab singkat Nasha.


“Tidak ada.”


Nasha mengangguk lalu menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut. Wanita itu sama sekali tidak membahas masalah hasil tes DNA hari ini. Seolah kejadian tadi siang tidak pernah terjadi.


Galaksi benar-benar tidak tahan. Pria itu memeluk Nasha dari belakang.


“Ada apa?” tanya Nasha.


“Aku hanya ingin memelukmu.”


Nasha langsung membalikkan tubuhnya dan menatap wajah Galaksi.


“Aku mencintaimu, Nasha.”


Galaksi kemudian mengecup bibir Nasha dan wanita itu menerima kecupan tersebut. Galaksi mencium Nasha dengan mengerahkan segenap hati dan cintanya. Nasha membalasnya dengan penuh cinta.


Tangan Galaksi bergerak dengan mulusnya ke balik pakaian Nasha. Lantas pria itu langsung menekankan tubuh sehingga ia bisa merasakan desakan yang dirasakan Galaksi.


“Kita harus tidur. Besok aku ada rapat pagi.”


“Nasha,” geram Galaksi lalu pria itu memohon dengan sedih.


Nasha hanya tertawa.


Sebuah panggilan terdengar, dan itu dari Maya. Wanita itu ingin bertemu dengannya. Nasha menyetujuinya, ia tidak ingin kalah dari Maya.


“Aku akan pergi sebentar.”


“Kamu ingin ke mana?” tanya Galaksi.


“Manda ada di toserba depan. Dia ingin aku menemuinya,” ucap Nasha berbohong.