
“Uhuk, uhuk, aduuhhh, aku bisa mati.”
Surya tersedak oleh teh ginsengnya. Nasha segera berdiri dari kursinya dan mengamati lamat-lamat layar ponselnya yang menampilkan wajah ayahnya.
“Seharusnya ayah meminumnya pelan-pelan saja. Kenapa terburu-buru?”
“Ehem. Bagaimana ayah tidak terburu-buru? Seharian ini kamu selalu meminta video call 3x sehari hanya untuk melihat ayah meminum obat.”
Nasha kembali duduk di kursi dan ekspresinya berubah kaku.
“Kalau ayah tidak ingin aku video call maka turuti perkataan dokter. Sekarang minum obatnya dengan benar!”
“Ya ampun kamu ini benar-benar mirip dengan ibumu.”
“Karena aku anak ibu.”
Setelah menyaksikan ayahnya meminum obatnya dengan benar. Nasha menutup sambungan video call dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Sekitar jam lima sore ibu mertuanya menelepon dan memberitahukan bahwa suasana hati Galaksi sepertinya sedang kacau. Bahkan pria itu tidak bekerja, tidak makan dan hanya mengurung diri kamar. Mendengar itu, Nasha bergegas untuk pulang dan diam-diam menyelinap ke kamar Galaksi.
Nasha pikir Galaksi berbaring di ranjangnya namun pria itu duduk di kursi.
Nasha berjalan dengan tenang dan langsung duduk di samping pria itu.
“Mengapa kamu seharian ada di kamar? Kamu juga tidak bekerja hari ini?”
Galaksi menatap Nasha tanpa ekspresi. “Tinggalkan aku sendiri.”
“Apakah kamu marah denganku?”
“Apakah kamu tidak mendengarkanku? Keluar lah, pintu ada di sana.”
“Kamu benar-benar marah denganku.”
“Kamu bersama pria lain selama dua hari dan kamu menghabiskan satu malam dengannya dan kamu masih bertanya apakah aku marah?”
“Siapa yang menghabiskan satu malam dengan pria lain?” Nasha bertanya dengan bingung.
“Aku melihatmu. Edward masuk ke apartemenmu. Aku menunggu setengah jam dan dia tidak keluar.”
“Oh, waktu itu dia mengantarkanku pulang lalu dia berkata bahwa dia lapar. Jadi memasak makanan untuknya. Setelah dia makan, dia pergi.”
“Apakah kamu pikir aku akan percaya padamu?” Galaksi memicingkan matanya.
“Kamu bisa bertanya dengannya.”
“Tidak perlu! Karena kamu mempunyai hubungan yang romantis dengannya. Kamu dapat pergi dengannya. Aku tidak peduli.”
Wajah Nasha langsung berubah ekspresi. Ia sedikit kesal dengan Galaksi.
Nasha langsung mengambil bantal sofa dan langsung melemparkannya ke arah Galaksi.
“Baiklah, aku akan pergi.”
Nasha berdiri dan berbalik keluar. Galaksi melihat bahwa Nasha benar-benar ingin pergi langsung panik.
Pria itu langsung bangkit dan melangkah maju. Menarik Nasha ke dalam pelukannya.
Galaksi lantas menekan ke dinding dan menciumnya. Rasa bibir wanita itu manis, memabukkan dan menggoda.
Lidah Galaksi mengeksplorasi, memasuki rongga hangat Nasha dan mengecap manis di dalamnya.
Bibir Galaksi menjauh kini turun menciumi leher Nasha. Galaksi perlahan menjadi seorang serigala. Sifat alaminya perlahan muncul.
........
Saat pagi hari, Galaksi berbalik. Secara naluriah ia ingin memeluk Nasha tapi meraba-raba tangannya tak hanya menyentuh udara kosong.
Galaksi setengah membuka matanya dan mengerutkan alisnya. Baru detik berikutnya, ia benar-benar membuka matanya.
Hatinya berdebar ketakutan, dengan cepat ia menekan lampu samping tempat tidur. Di sampingnya sudah kosong.
Galaksi segera membuka selimutnya dan langsung pergi ke kamar sebelah, Nasha tidak ada di sana. Jantungnya langsung berdetak tak karuan.
Ia langsung turun dari lantai atas dan mencari-cari keberadaan Nasha.
Langkahnya terhenti saat ia mendengar suara tawa renyah dari wanita yang ia cari. Galaksi langsung memasuki area dapur dan melihat ibunya sedang memasak bersama Nasha.
Dengan satu tahun mengalami tekanan psikologisnya yang seperti musim dingin kini wajahnya akhirnya bisa menunjukkan senyum ringan layaknya musim semi.
Setelah mengantar Nasha ke kantor, Galaksi melakukan aktfitasnya seperti biasa. Sepanjang hari mood nya benar-benar baik. Membuat orang di sekitarnya merasakan dampaknya.
Senyum tipis tak pernah luntur dari wajah tampan Galaksi bahkan ketika pria menghadiri rapat.
Waktu terasa lama bagi Galaksi, karena pria itu ingin cepat-cepat pulang sehingga dapat melihat wajah wanitanya.
Galaksi melihat jam di pergelangan tangannya dan langsung beranjak dari kursinya. Ia benar-benar ingin segera melihat wajah wanitanya.
Galaksi terlihat linglung begitu melihat ruangan Nasha kosong. Sekretaris Nasha yang kebetulan melihatnya langsung menyapanya.
“Ya.”
“Direktur Nasha mempunya sesuatu yang mendesak jadi pulang lebih awal.”
Galaksi menunjukkan sedikit rasa tidak nyaman tapi tidak menunjukkannya. Ia tersenyum tipis.
“Ya.”
Lantas Galaksi bergegas untuk pulang.
Setibanya Galaksi berada di rumah, ia langsung bergegas ke kamar utama. Pria itu meneriaki nama Nasha namun tidak ada yang menyahutinya.
Galaksi membuka pintu kamar utamanya namun ia tidak menemukan Nasha di sana. Ia memanggilnya dan melihat ke kamar mandi, hasilnya masih sama. Tidak ada orang di sana.
Ia langsung berjalan ke bawah dengan tergesa-gesa. Pelayan yang melihatnya langsung bertanya.
“Apakah tuan muda mencari nona muda?”
“Ya.”
Pelayan langsung mengambil sebuah amplop dari sakunya dan menyerahkannya padanya.
“Tuan Muda, Nyonya muda menyerahkan ini untukmu.”
Dengan terburu-buru, Galaksi langsung mengambilnya dan membukanya dengan tergesa-gesa.
Aku pergi. Jangan mencariku
Galaksi dengan marah menelepon Nasha dan suara operator terdengar bahwa telepon uang anda hubungi sedang sibuk atau berada di luar servis area, cobalah beberapa saat lagi.
Hati Galaksi seperti di remas.
Ibunya yang baru saja keluar dari kamarnya langsung melihat raut putranya yang terlihat gelisah.
“Ada apa?”
“Ibu, apakah ibu tahu di mana Nasha?”
“Bukankah dia masih berada di kantor?” ibunya bertanya dengan bingung.
Galaksi langsung menggeleng lemah.
“Aku harus pergi,” ucap Galaksi.
Pria itu bergegas untuk pergi ke rumah Nasha. Siapa tahu wanita itu berada di rumah ayahnya.
Namun sesampai di sana, wanita itu rupanya tidak ada. Ayah Nasha juga tidak memberitahu keberadaan Nasha dengan alasan dia juga tidak tahu.
Galaksi tidak mempercayainya, sehingga pria itu tetap berada depan gang rumah orang tua Nasha.
Ia melihat Roseana keluar dari halaman rumahnya dan tampak terlihat mengamati keadaan sekitar lalu wanita itu mendekati mobilnya dan mengetuk kaca mobil Galaksi.
Galaksi langsung menurunkan kacanya.
“Kamu ingin mencari Nasha.”
Roseane langsung menyerahkan secarik kertas yang tertulis alamat Nasha.
“Meskipun aku tidak menyukaimu tapi aku akan membantumu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu lebih buruk dari Edward,” ucap Roseane yang langsung berlari kecil ke dalam halaman rumahnya.
“Apa dia bilang, aku lebih buruk dari pria itu!”
Meskipun ia terlihat sangat kesal pada Roseane, namun ia sedikit berterima kasih padanya.
Malam itu juga ia terbang ke luar negeri dan mencari alamat yang diberikan Roseane.
Galaksi langsung memesan hotel setiba di sana untuk beristirahat dan keesokan harinya ia baru mencari alamat Nasha.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk mencari alamat Nasha.
Pria itu mendorong pagar putih yang tidak terlalu besar. Pria itu dengan mantap melangkah ke halaman dan mulai mengetuk pintu.
Butuh waktu lama untuk pintu itu terbuka.
Nasha tampak terkejut saat melihat Galaksi berada di depannya.
“Bagaimana bisa kamu menemukanku?”
“Meskipun kamu bersembunyi di lubang semut, aku tetap bisa menemukanmu.”
Nasha mengedipkan kelopak matanya yang tampak bingung.
“Apakah hobimu sekarang meninggalkan rumah?” Galaksi menyindir dengan pertanyaan itu.