Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 40



Nasha menatap gelas minuman di depannya. Ia enggan menatap wajah Edward yang duduk di hadapan dan sedang memandanginya seolah tengah menelanjanginya.


Nasha menghela napas. Jari kanannya mengetuk meja karena sudah tidak tahan dengan sikap Edward.


“Katakan yang ingin kamu katakan,” ucap Nasha.


Kesabarannya kali ini setipis tisu.


“Selama setahun ini kamu tidak pernah terpesona denganku. Apakah kamu kali ini terpesona dengan Galaksi?”


“Tidak.”


Kali ini Nasha menyeruput minumannya dan ganti bertanya dengan santai. “Apakah kamu akrab dengan Galaksi?”


“Tidak terlalu akrab. Aku bertemu di suatu acara dan kami mengobrol.”


Nasha mengangguk. “Dia sepertinya berusia tiga puluhan. Apakah dia sudah menikah?”


“Mengapa kamu bertanya?”


Edward mengangkat sebelah kanan alisnya sembari menunjukkan raut selidik yang membuat Nasha memutar kedua bola matanya kesal.


“Hanya penasaran saja.”


“Entahlah. Dia sangat tertutup dengan masalah pribadinya.”


Di tempat lain, suasana hari Galaksi sangat buruk sekali hingga pria itu begitu putus asa. Ia memesan beberapa liter bir untuk menutup malamnya. Hanya ada satu orang yang bisa membuat Galaksi seperti ini. Nasha.


Pria itu mengisi gelasnya dan tanpa menunggu lagi langsung menandaskan gelas pertama. Padahal Galaksi adalah tipe pria yang tidak kuat minum.


Pria itu kembali mengisi gelasnya dan dengan cepat lagi menghabiskannya.


Lea segera bergegas ke bar. Gadis itu seperti bayangan yang selalu mengikuti Galaksi. Ia tahu persis segalanya tentang Galaksi.


“Jangan minum lagi. Kamu tidak kuat minum.”


Galaksi terdiam dan matanya yang dalam seolah dipenuhi oleh genangan air mata.


Melihat bahwa Galaksi tidak bicara. Lea langsung duduk di samping Galaksi.


“Sepertinya suasana hatimu sedang buruk.”


“Dia kembali.”


Perut Lea mengejang. Ia terkejut. “Siapa?” dengan kuat ia menahan guncangan dalam hatinya. “Nasha.”


“Iya. Dia bahagia sekarang. Aku senang ia menemukan pria yang jauh lebih baik.”


Galaksi tidak seperti bicara padanya. Ia menatap Lea tapi bukan Lea yang dilihatnya. Suaranya yang berat jelas-jelas karena pengaruh alkohol. Pria itu meraih gelas birnya lalu mereguknya dalam satu napas.


“Kamu masih tidak bisa melupakannya? Apakah begitu sulit? Karena dia sudah mempunyai seseorang. Mengapa kita tidak bersama. Aku akan mengobati luka di hatimu. Tidak ada yang lebih baik menghiburmu selain aku,” ucap Lea.


Galaksi langsung menggeleng. “Aku tidak bisa mencintai seseorang lagi. Aku sudah kehilangan kemampuan untuk mencintai seseorang.”


“Aku tidak peduli! Selama itu bersamamu.”


Wajah Galaksi mendekat, bau alkohol yang tajam seolah tersembur dari mulutnya. Lea duduk bergeming, dengan tangan ia kepalkan. Ia terlalu bingung dengan reaksi yang harus ditunjukkannya saat kalimat Galaksi menamparnya. “Sayangnya, aku sama sekali tidak tertarik.”


Hari berikutnya, Nasha mengunjungi kantornya yang sudah lama ia tak kunjungi. Tak ada perubahan besar yang tampak. Hanya beberapa interior yang sedikit dirubah.


Beberapa karyawan juga ada sedikit perubahan. Ada beberapa karyawan baru yang Nasha tidak begitu kenal. Contohnya, sekretarisnya sekarang. Rupanya sepeninggal Nasha pergi, Manda memutuskan untuk resign dan tugasnya diambil alih oleh Jini sekretaris ayah Nasha saat Nasha tidak ada di sini. Sekarang semuanya seperti semula. Nasha kembali memimpin perusahaannya.


“Bu, ponselmu berbunyi,” ucap Jini.


Nasha yang awalnya terfokus oleh beberapa dokumen yang dibawa Jini kini harus teralihkan.


“Halo,” sapanya tidak bersemangat ketika menempelkan benda itu ke telinganya.


“Kenapa lama?”


“Aku sibuk.”


“Di mana kamu?” tuntut Edward.


“Kantor.”


“Kamu sudah berjanji menemaniku ke perusahaan Jn Grup.”


Nasha menarik napas dalam dan memutar kursinya.


“Aku rasa aku tidak bisa. Itu adalah kerja sama antara perusahaanmu dan Jn Group. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Gustama Corp.”


“Tidak bisakah kamu menemaniku sebagai calon istriku.”


Ada nada memelas yang ditangkap oleh Nasha.


“Koreksi.”


“Tidak bisakah kamu menemaniku sebagai teman.”


“Kamu tidak takut rahasia perusahaanmu akan bocor di tanganku.”


“Hei, Gustama Corp juga bekerja sama dengan perusahaanku.”


“Baiklah, jemput aku di kantor.”


“Namaku Nasha bukan putri.”


Tak sampai menunggu lama, Edward sudah sampai di kantor Nasha. Pria itu sudah rapi dengan setelan jasnya.


Nasha tersenyum sebagai sapaan untuk menyambut Edward. Sepanjang perjalanan menuju kantor Galaksi, hati Nasha tidak tenang dan merasa tidak karuan.


Rupanya mereka secara langsung disambut oleh Galaksi dan beberapa stafnya. Di samping kanan Galaksi dan perempuan cantik yang Nasha tidak kenal. Ia mengernyitkan keningnya ketika tidak melihat Adrian.


Galaksi memandu mereka untuk berkeliling perusahaan. Nasha tidak terlalu memperhatikan jalannya karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Tanpa sengaja kakinya tergelincir untung saja Edward yang ada di sampingnya langsung menangkap tubuh Nasha sehingga wanita itu tak sampai jatuh.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Edward.


“Ya.”


Hal itu tak luput dari pandangan Galaksi. Pria itu melihat Edward memegang pinggang Nasha dan hatinya bergemuruh.


“Lea, bawa Nasha ke kantorku. Biar dia istirahat di sana. Sepertinya ia butuh istirahat.”


“Aku...”


“Baik, silakan ikut denganku.”


Nasha melihat ke arah Edward sebelum wanita itu mengikuti wanita yang bernama Lea.


“Nona Nasha, apakah kamu ingin minum air?”


“Tidak, terima kasih.”


Lea tersenyum. “Ini sangat tidak terduga. Aku tahu hubunganmu dengan presdir Galaksi.”


“Aku tidak ada hubungannya dengannya kamu pasti salah.”


Nasha sudah hendak berdiri dari kursinya untuk kembali.


“Aku telah memikirkan wanita seperti apa yang bisa membuat Presdir berada di titik ini sampai pada akhirnya aku punya jawaban.”


Setelah sekitar tiga puluh menit berkeliling, Galaksi dan Edward kembali ke ruang Galaksi untuk membicarakan kontrak karena Edward sangat tertarik dengan produk yang ditawarkan Galaksi.


“Jika JinX dan JN bekerja sama, kamu perlu mengirimkan satu karyawan untuk mengawasi perusahaan kami agar tidak terjadi kesalahpahaman. Ia juga dapat mengajukan pendapat dan ide karena kita akan menjadi mitra yang saling menguntungkan produk tersebut harus puas untuk kedua belah pihak. Bagaimana menurutmu?”


Edward mengangguk. “Orang yang aku percaya...” matanya perlahan melihat Nasha. “Kamu.”


“Aku tidak bisa,” ucap Nasha.


“Kenapa tidak bisa?”


“Aku harus mengelola perusahaanku sendiri.”


“Kamu hanya harus datang beberapa kali untuk melihat laporannya dan juga melihat prosesnya.”


“Edward.”


“Tidak ada keluhan.”


Nasha tidak dapat berbicara dan tidak ingin berdebat dengan Edward.


Edward baru saja menandatangani salinan pertama dan ia pamit ke kamar mandi sambil ditemani Lea untuk menunjukkan tempat kamar mandinya.


Di ruang itu hanya tersisa Galaksi dan juga Nasha. Setelah beberapa saat, Nasha memecahkan kesunyian.


“Tidakkah kamu bertanya padaku apakah aku baik-baik saja? Setidaknya untuk berbasa-basi.”


“Aku bisa melihatnya tanpa bertanya, kamu baik-baik saja.”


Nasha menatapnya dengan hati sedih. Ia ingin menangis dan tertawa.


“Apa yang kalian bicarakan?” Edward masuk dan bertanya.


Nasha langsung menggeleng. “Tidak ada.”


Suasana hati Nasha begitu berkecamuk. Sikap tak acuh Galaksi membuatnya begitu marah. Setelah menandatangani kontrak, Nasha bermaksud segera pergi namun Edward berbicara dengan Galaksi pada topik di luar pekerjaan.


Setalah menghabiskan tiga puluh menit untuk berbincang di luar topik pekerjaan Edward dan Nasha keluar dari perusahaan Galaksi.


Semakin memikirkannya semakin ia merasa marah. Hatinya sangat tidak nyaman.


“Tunggu sebentar.”


“Ada apa?” tanya Edward begitu melihat Nasha mendadak menghentikan langkahnya.


“Sepertinya aku meninggalkan ponselku di ruang presdir Galaksi. Aku akan kembali dan mengambilnya.”


Setelahnya Nasha sudah berbalik dan berlari menuju ke kantor Galaksi. Edward yang melihatnya langsung berteriak. “Aku akan menunggumu di mobil.”


Tentu saja Nasha tidak mendengarnya karena ia sudah berlari dan berbelok untuk memasuki lift. Faktanya ponselnya tidak tertinggal. Ia hanya berpikir bahwa ia tidak bisa pergi seperti ini. Ia harus mengatakan apa yang ia ingin katakan.


Kembali ke kantor Galaksi, pria itu menghadap ke jendela. Punggungnya terlihat namun dingin. Mendengar langkah kaki dan pintu terbuka. Pria itu langsung menoleh.


“Kenapa kamu kembali?”


Nasha langsung menghampiri dan menatap ke dalam mata yang tampak kesepian itu.