Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 15



“Kamu sudah menunggu lama?”


Pertanyaan itu datang dari bibir Nasha keesokan harinya. Malam itu, Nasha bertemu dengan Daniel. Pria itu langsung membuka obrolan dengan mempertanyakan dengan maksud apa dia mencarinya.


“Bisakah kamu membawaku untuk bertemu dengan Maya? Ada yang ingin aku tanyakan padanya.”


Daniel terdiam sesaat dan menggeleng pelan selanjutnya. Nasha sedikit marah namun Daniel tetap tidak ingin mempertemukannya. Nasha langsung menyeruput kopinya. Ada raut kekecewaan di sana.


Setelah pertemuan dengannya dengan Daniel tidak membuahkan hasil. Nasha menelusuri jalanan dengan pikiran yang berkelana kemana-mana.


Di tempat berbeda, saat Galaksi akan pulang ia mendapatkan surat misterius. Ia langsung membukanya, di dalamnya ada tulisan dan Galaksi paham betul dengan bentuk tulisan tangan itu. Pria itu langsung membeku di tempatnya.


Tulisan itu berisi ajakan untuk bertemu. Seperti ada riak gelombang di hati Galaksi saat membacanya. Ia jatuh pada ingatan masa lalu yang membuatnya terlena akan kenangan indah sekaligus menyakitkan.


Sepanjang perjalanan pulang, Galaksi merasa gelisah. Galaksi tahu benar bahwa menemuinya berarti telah menyakiti Nasha, tapi ia tidak bisa menahan diri untuk tidak bertemu dengan Maya.


Setelah beberapa pikiran yang memenuhi otaknya, akhirnya ia membanting stir mobil memutar balik mobilnya. Mobil Galaksi berhenti di sebuah kafe yang pernah mereka kunjungi.


Galaksi menyiapkan mentalnya sebelum benar-benar membuka pintu kafe tersebut. Saat pria itu masuk pandangannya langsung menemukan keberadaan Maya.


Galaksi menatapnya tanpa kedip. Maya yang pernah ia cintai masih terlihat cantik. Ia tidak bisa mengatakan apa-apa.


Maya berteriak untuk memanggil Galaksi. Pria itu berjalan tanpa suara. Tangan Galaksi ia kepalkan dengan erat.


Kemunculan Maya membuat hatinya merasa tertekan.


Maya tersenyum seolah ia tidak melakukan kesalahan apa pun.


“Apakah kamu tidak ada pertanyaan untuk ditanyakan padaku?”


Galaksi tentu saja mempunyai sejuta pertanyaan untuk Maya namun ia ingin tahu lebih banyak tentang apa yang ingin dikatakan wanita itu.


Maya mengangkat matanya dan tersenyum.


“Aku dengar kamu sudah menikah.”


“Ya.”


“Apakah kamu bahagia?” tanya Maya.


“Tentu saja, tidak ada alasan untukku untuk tidak bahagia.”


Tanpa mereka sadari sosok wanita di luar tengah melihat mereka. Ada raut kemarahan, kekecewaan dan kesedihan. Semua perasaan campur, itu terlihat dari tangannya yang mengepal dan matanya yang sudah tergenang air mata.


Wanita itu telah menyiksanya selama tiga tahun namun pria itu masih menemuinya. Apakah sekuat itu cinta mereka? Cinta pertama Galaksi?


Napasnya seakan berhenti. Ia merasa sesak, jantungnya mungkin tergelincir ke bawah kakinya.


“Jadi dia Maya?”


Nasha langsung membalikkan badan dan meninggalkan Galaksi dengan wanita masa lalunya. Nasha menekan kepalannya semakin keras ke dada ketika ia berjalan di tengah dinginnya malam. Nasha langsung memasuki mobilnya dan melaju dengan kecepatan di atas rata.


Kembali ke Galaksi dan Maya. Pria itu mengajukan pertanyaan untuk Maya, mengapa wanita itu kembali.


“Karena ada alasan untuk kembali. Kamu bisa tahu tapi bukan saat ini waktunya. Galaksi, aku mencintaimu.”


Wajar saja bila Galaksi langsung membeku. Ia seperti patung. Saat mata Galaksi berkeliaran ia sekilas melihat mobil Nasha yang melaju kencang.


...♡♡♡...


Galaksi yang melihat mobil Nasha langsung pamit pergi. Pria itu meninggalkan Mata di kafe tersebut dan lebih memilih menyusul Nasha. Galaksi segera masuk ke dalam mobilnya dan menyusul Nasha. Melihat kecepatan yang diambil Nasha, hati Galaksi menjadi waswas. Ia sangat khawatir jika sesuatu terjadi pada Nasha.


Nasha melajukan mobilnya sampai ia ke pantai. Galaksi bersyukur pada akhirnya Nasha menghentikan laju mobilnya. Pria itu segera membuka pintu dan langsung menemui Nasha yang tengah berdiri di samping mobilnya.


“Nasha apa yang kamu lakukan dengan kecepatan itu?


Apakah kamu ingin mati?”


Galaksi berusaha meraih wanita itu dan mendapati Nasha menghindari sentuhannya.


“Justru aku yang bertanya padamu. Kenapa kamu mengendarai mobil seperti orang gila dan datang ke mari.


“Aku merasa senang. Aku hamil.”


“Apa katamu?” Galaksi memastikan.


“Aku hamil,” ulang Nasha.


Pernyataan itu menghantamnya lagi. Efek perkataan Nasha menerjangnya dengan hebat. Ia tersenyum dengan kebanggaan yang memenuhinya. Istrinya sedang mengandung anaknya. Tak pernah terlintas dalam pikiran Galaksi. Kebahagiaan Galaksi murni adakah kebahagiaan seorang suami yang akan menjadi ayah.


Galaksi meraih bahu Nasha dan meremasnya. Saat ia menunduk untuk mengekspresikan perasaannya ia terkejut karena Nasha justru mendorongnya.


“Nasha.”


Nasha mengangkat tatapannya dan memandang Galaksi dengan ekspresi teguh di kedua bola matanya. Suara Nasha tenang, mencerminkan tekad wanita itu dan keseriusannya.


“Jadi aku ingin bercerai.”


“Kamu pasti bercanda.”


Wanita itu menggeleng dengan tegas.


“Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan dan mantan tunanganmu juga sudah kembali.”


“Apa-apaan ini!”


Galaksi bergerak mencengkeram bahu Nasha dan mengguncang wanita itu kuat.


“Jika kamu ingin bercerai karena aku bertemu dengan Maya. Kamu harus percaya padaku, tidak ada apa-apa antara aku dan Maya. Aku hanya ingin menyelesaikan urusan di masa lalu.”


Nasha mengangkat tangannya dan menepis kasar kedua lengan Galaksi.


“Perceraian ini bukankah sudah kesepakatan kita di awal. Lagi pula aku sama sekali tidak tertarik dengan hubunganmu dengan Maya, jadi jangan repot-repot untuk menjelaskannya."


Galaksi menggeleng keras. Ini bukan seperti Nasha yang dikenalnya. Pria itu setengah membentaknya untuk tidak meninggalkannya namun sepertinya Nasha tetap teguh dengan pendiriannya.


Galaksi membeku di tempat ketika Nasha berbalik darinya namun tubuh Galaksi bergerak secara refleks. Ia tidak bisa membiarkan Nasha meninggalkannya. Ia mencengkeram lengan Nasha dan membalikkannya namun Nasha bergegas menamparnya dan meninggalkan pria itu.


Galaksi tertegun di tempatnya, kali ini ia tidak menyusul Nasha. Sepanjang malam, Galaksi hanya terduduk di dalam mobilnya. Pagi-pagi buta ia langsung pergi ke perusahaannya. Saat ia duduk di kursinya, ia melihat foto pernikahannya dengan Nasha. Tiba-tiba rasa bersalah menyeruak di hatinya.


Ia segera menelepon Nasha namun panggilan tidak terhubung. Lantas Galaksi segera menelepon adiknya untuk mengetahui keadaan Nasha namun rupanya wanita itu tidak pulang ke rumahnya. Galaksi mendengar bahwa Nasha meninggalkan rumah dan detak jantungnya sepertinya berdetak lebih cepat. Ia langsung mengambil kunci mobil dan langsung keluar dari kantornya.


Lima bulan kemudian...


“Selamat Nasha, sekarang kamu adalah pemilik GustamaCorp.”


Nasha menarik napas dalam ketika ia menerima dokumen yang disodorkan oleh ayahnya. Nasha mengucapkan rasa terima kasih karena ayahnya mempercayainya. Nasha mengangkat wajah dan menatap mata ayahnya.


“Apakah kamu baik-baik saja?”


Nasha merasakan sentakan keras di ulu hatinya dan ia mulai tidak nyaman duduk di depan ayahnya dan semua jajaran staf yang lainnya.


“Aku jauh lebih dari kata baik.”


Ayahnya langsung memeluk erat Nasha. “Hanya ini yang bisa ayah berikan. Maaf.”


Ayahnya segera memberikan hak atas perushaan Gustama karena Nasha baru saja mengalami keguguran. Niat awal ayahnya adalah memberikan perusahaan setelah cucunya lahir namun takdir berkehendak lain.


Nasha menelan asin yang menyumpal tenggorokannya. Ayahnya meraih bahu Nasha dan merangkum wajahnya lembut.


“Ayah, maafkan aku.”


“Tidak,” ayahnya kembali menggeleng dan pria itu mengelus pipi Nasha dengan lembut sebelum memeluknya erat.


Keesokan harinya Nasha terbang ke Jepang untuk perjalanan bisnis sekaligus untuk pergi jalan-jalan. Nasha benar-benar membatasi diri dengan Galaksi. Pria itu sampai sekarang belum pernah melihat Nasha.


Galaksi berdiri di dekat jendela, ia mengambil ponselnya ketika ponselnya mendapatkan panggilan. Jelas sekali ekspresi Galaksi langsung berubah ketika ia mendengar informasi dari seberang. Ia langsung bergegas dengan pesawat jet pribadinya menuju ke Jepang.