Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 33



Galaksi menutup matanya. Ia meresapi hujan yang turun ke seluruh tubuhnya. Ia sama sekali tidak merasakan kedinginan.


Galaksi perlahan membuka matanya saat ia sama sekali tidak merasakan hujan menerpa kulitnya.


Wanita yang selalu ia pikirkan siang dan malam, memegang payung berwarna kuning dan memayunginya.


“Kembalilah,” ucap Nasha tanpa ekspresi.


“Apa kamu akan bersembunyi di sini selamanya?”


“Aku tidak sembunyi. Aku tidak melakukan kesalahan, jadi untuk apa aku sembunyi,” tukas Nasha.


“Apakah kita akan selamanya seperti ini? Apakah saat aku ingin melihatmu aku harus berdiri di sini?"


"Hatiku tidak cukup kuat untuk menghadapimu.”


“Apa yang kamu ingin aku lakukan agar kamu bisa memaafkanku?”


“Kamu tidak perlu melakukan apa pun.”


Nasha langsung meraih tangan Galaksi dan menyerahkan payungnya pada pria itu seraya berkata,” Jangan datang lagi. Aku belum memikirkan bagaimana cara menghadapimu.”


Tubuh Galaksi langsung bergetar. Mata Galaksi kembali kabur. Ia hanya melihat punggung Nasha yang semakin menjauh. Hatinya sungguh terasa sakit.


“Nasha, jangan pergi.”


Nasha menutup pintu rumahnya saat ia berbalik ia melihat ayahnya yang sudah ada di depannya.


“Ayah mencoba mengabaikannya tapi tidak bisa. Apa kamu ada masalah dengan Galaksi?” tanya


Nasha tidak menjawab pertanyaan ayahnya. Ia memilih untuk diam. Ia tidak ingin orang lain ikut campur dalam masalahnya termasuk ayahnya sendiri.


“Ayah, aku ingin ke kamar.”


Nasha melewati ayahnya begitu saja, saat ia mendapatkan langkahnya yang ketiga. Langkahnya berhenti seketika.


“Ayah bisa mengusirnya, jika kamu tidak ingin melihatnya.”


“Biarkan saja dia,” tolak Nasha dan bergegas kembali ke kamarnya.


Suara ketukan dari pintu, membuat Roseana bergegas untuk segera membukakannya. Ia sedikit terkejut saat melihat menantunya datang dengan basah kuyup.


“Galaksi.”


“Bisakah aku masuk, aku sangat kedinginan.”


Setelah sedikit tertegun, Roseana membukakan pintu lebih lebar, membiarkan Galaksi masuk. Ia langsung mempersilahkan pria itu masuk dan menyuruhnya mandi di kamar Nasha. Ia juga menyuruh pelayan untuk membuatkan minuman hangat.


Setelahnya ia langsung bergegas pergi ke ruang kerja suaminya untuk memberitahukan apa yang baru saja ia lihat.


Nasha yang berdiri di depan jendelanya yang tertutup tirai langsung membalikkan tubuhnya saat pintunya terbuka dari luar.


Ia sedikit terkejut melihat Galaksi yang masuk ke dalam kamarnya.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Nasha.


“Aku sangat kedinginan sekarang, tak bisakah aku mandi di sini?”


Melihat Nasha yang hanya melihatnya tanpa minat, Galaksi menambahkan, “Jika aku tidak mandi dan berganti baju, aku akan sakit.”


Nasha mengangkat matanya yang kosong dan pada akhirnya membiarkannya. Pria itu langsung ke kamar mandi dan segera suara air terdengar dari kama mandi. Sementara Galaksi mandi, Nasha menyiapkan baju lengkap untuk Galaksi. Di rumah ini, Galaksi mempunyai banyak pakaian.


Nasha mengetuk pintu kamar mandi dan mengatakan, “Aku membawakan pakaianmu.”


Tak berselang lama, pintu terbuka dan kepala pria itu terlihat. Pria itu melihat tangan Nasha yang membawakan pakaiannya. Galaksi langsung menerimanya dan mengucapkan terima kasih sebelum ia kembali menutup pintu kamar mandi kembali.


Duduk di sofa, pikiran Nasha sangat melayang menyebabkan dirinya kebingungan. Di satu sisi, ia ingin menyerah namun di lain sisi ia tidak ingin menyerah.


Nasha langsung mendongak ketika Galaksi selesai dengan urusan mandinya. Mereka terdiam sambil saling melemparkan pandangan.


“Kamu tak mau pergi?” desak Nasha.


“Nasha, ini salahku. Aku terlalu percaya padanya dan membiarkanmu menderita karenanya. Nasha, maafkan aku. Hatiku juga sangat sakit. Aku tidak pernah berpikir untuk kehilanganmu.”


Nasha menggerakkan tubuhnya, menepis lengan-lengan Galaksi. Ia bergerak menjauh dan menatap Galaksi dengan tegas.


“Sudah terlambat untuk menyesal. Karena nasi sudah jadi bubur maka kamu harus bertanggung jawab.”


“Nasha, kenapa kamu mengatakannya? Kamu tahu perasaanku untukmu.”


“Akankah perasaanmu bisa mengubah kenyataan bahwa anak itu adalah anak orang lain,” balas Nasha.


“Bagaimana bisa kamu mengatakan bahwa anak itu anakku?”


“Lalu bagaimana kamu membuktikan bahwa anak itu bukan milikmu?” suara Nasha kinu setengah menjerit.


“Nasha jika aku tidak bisa membuktikannya. Jangan khawatir tentang keberadaannya. Selama kita saling mencintai tidak ada alasan dan tidak ada orang lain yang bisa memisahkan kita.”


Nasha tersenyum kecut, ia tidak bisa menebak pikiran Galaksi.


“Aku tidak bisa mengabaikan kenyataannya. Aku tidak bisa.”


Nasha menggeleng liar dan menatapnya lebih liar lagi.


“Aku berpikir bahwa tidak peduli seberapa sulitnya, kamu akan menghadapinya bersamaku. Kamu sering mengatakannya tapi bahkan kamu tidak mencoba lebih keras lagi. Nasha, bahkan jika kemungkinan harapannya 0,1 persen aku tetap berpegang pada peluang itu.” Suara Galaksi bergetar dan terdengar nada memohon. Betapa berharapnya ia Nasha bisa berdiri bersamanya di masa sulit ini.


Nasha tidak mengatakan apa-apa dan Galaksi sedikit kecewa.


Pria itu lagi-lagi memeluk Nasha dan kini lebih erat. Setengah tubuhnya menempelkan tubuhnya yang keras pada tubuh bahwa Nasha yang lembut. Galaksi menunduk lalu memaksa wanita itu agar menatapnya.


“Bisakah kita saling berpegangan erat untuk menyelesaikannya. Aku membutuhkanmu, Nasha.”


Galaksi menyadari bahwa Nasha tidak lagi bergerak. Wanita itu hanya diam di dalam pelukannya, menatap Galaksi dengan mata polisnya yang menggetarkan. Mata itu kini memancarkan keraguan, pengharapan dan rasa takut yang tidak bisa wanita itu sembunyikan.


Tiba-tiba, Nasha memeluk pinggang kuat Galaksi. Ia membenamkan wajahnya di dada Galaksi dan mulai menangis di sana. Sebenarnya jauh di lubuk hati Nasha, wanita itu enggan membiarkan Galaksi pergi.


Galaksi kembali merasakan perih di matanya. Pria itu berterima kasih pada Nasha karena tidak menyerah untuk mempercayainya.


Keduanya saling berpelukan dan tidak bicara satu sama lain. Mereka hanya meneteskan air mata dan saling meresapi hati mereka masing-masing.


Dalam diamnya mereka, mereka berjanji akan menjaga pernikahan mereka.


“Katakan kalau kamu akan pulang bersamaku.”


“Ya,” bisik Nasha pelan.


“Terima kasih,” ******* pria itu seolah keluar dari dadanya, beraromakah kelegaan dan sesuatu yang hangat.


Galaksi melepaskan pelukannya dan meraih kepala Nasha, mendekatkan wajah Nasha agar pria itu bisa mengecupnya tepat di bibir. Sekali dua kali lalu bibir itu menggodanya lebih dalam dan lebih lama, mungkin lebih kuat dan lebih liar.


Saat Galaksi ingin lebih dari, pintu kamar Nasha tiba-tiba terbuka dari luar. Sontak saja mereka langsung terlonjak kaget.


“Astaga,” ucap pelayan. “Maafkan saya,” tambahnya.


Pelayan itu langsung menutup pintu kamar Nasha kembali namun tak lama kemudian pelayan itu kembali membuka pintu karena ia lupa niat awalnya.


“Ada apa?” tanya Nasha.


“Saya hanya ingin memberikan bubur dan teh hangat ini.”


“Taruh di meja,” ucap Galaksi.


Setelah pelayan itu selesai dengan urusannya, buru-buru ia pergi. Rupanya ada seorang yang telah menunggu.


“Bagaimana? Apakah mereka bertengkar?” tanya Roseana pada pelayannya.


“Tidak Nyonya, mereka baik-baik saja dan terlihat mesra.”


“Benarkah?” Roseana terlihat ragu dengan jawaban dari pelayannya. “Kamu boleh pergi,” imbuhnya.