Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 35



Saat ini, Nasha berada di sebuah klub malam di daerah distrik kawasan Rodeo street. Tempatnya berada di jejeran kawasan outlet. Memiliki pintu masuk dua katup kayu lebar yang menjorok ke dalam.


Begitu masuk ke dalam, disambut ruangan yang begitu remang-remang dengan suara musik yang begitu keras. Matanya berkeliaran untuk menemukan keberadaan Maya.


Rupanya Maya berada di meja bundar tepat di sudut ruangan. Wanita itu sengaja memakai baju yang ketat, menampilkan perut berisinya.


“Kenapa kamu memanggilku?” tanya Nasha begitu wanita itu duduk di depan Maya. Ia tidak ingin berbasa-basi dengannya.


“Aku hanya penasaran apa yang kamu lakukan setelah mendengar hasil tesnya. Kamu kemarin langsung pergi," ucap Maya sambil memamerkan perutnya.


“Kamu melahirkan anak dan aku akan membesarkannya.”


Seketika tawa menggelegar di sana. Seakan Maya baru saja mendengar lelucon paling konyol di siaran komedi.


“Mengapa kamu harus membesarkannya? Ini adalah anakku.”


“Lalu bawa anakmu dan pergilah,” ucap Nasha sarkas.


“Apakah kamu orang yang tidak tahu malu? Kamu menjauhkan ayah dari anaknya.”


“Siapa yang tidak tahu malu? Aku dengan besar hati ingin merawat anak orang lain.”


Maya benar-benar jengkel dibuatnya. “Apakah kamu ingin tahu bagaimana aku mendapatkan anak ini?”


“Aku tidak ingin tahu,” ucap Nasha dengan singkat dan tanpa ekspresi.


“Tapi aku ingin mengatakannya. Aku memberikan obat tidur dan obat perangsang untuk Galaksi. Aku juga minum obat kesuburan selama sebulan. Aku begitu senang ketika mendapatkan anak ini dari pria yang aku cintai.”


Wajah Nasha langsung pucat. Tangannya gemetar, sedemikian rupa ia menyembunyikan tangannya di bawah meja. Ia tidak ingin dilihat Maya bahwa saat ini ia sedang rapuh.


“Apakah kamu bangga dengan itu?”


“Tentu saja,” ucap Maya dengan bangga bahkan ia menaikkan dagunya dengan sombong.


“Kamu tahu saat ini kamu seperti wanita yang tidak ada harga dirinya karena tidur dengan suami orang lain dan kamu bangga dengan itu. Menjijikkan.”


Maya tersulur emosinya. Ia ingin menjatuhkan harga diri Nasha tapi malah sebaliknya. Dengan marahnya, Maya mengambil air yang ada di depannya dan menyiramkannya pada wajah Nasha.


“Aku akan menunjukkan harga diriku.”


Nasha marah, karena wanita itu sudah mempermalukannya dengan segera Nasha berdiri dan menampar keras pipi Maya beberapa kali.


Wanita itu terlihat kacau. Nasha langsung mengambil tisu di meja dan mengelap tangannya sendiri lalu tisu itu ia lemparkan pada tubuh Maya setelahnya Nasha pergi menulikan suara dari teriakkan Maya.


Nasha langsung pulang ke penthousenya, karena tidak ingin Galaksi curiga ia mampir di minimarket dan membeli berbagai camilan.


Saat ia berada di pintu penthousenya ia melihat ibu mertuanya yang terlihat mondar-mandir di depan pintu.


“Bu, apa yang ibu lakukan di depan pintu? Kenapa tidak langsung masuk?” tanya Nasha.


“Nasha, aku ingin mendiskusikan sesuatu denganmu.”


Nasha mengangguk. Saat ia hendak menekan tombol pasword penthouse, ibu mertuanya menghentikannya.


“Nasha, sebaiknya kita mendiskusikannya di luar.”


Nasha menolaknya, karena ia baru saja keluar. Ia tidak ingin Galaksi mencarinya. Alasan lainnya, karena Nasha sudah bisa menebak diskusi apa yang dimaksud oleh ibu mertuanya. Itu pasti berkaitan dengan Maya.


“Sayang, kamu sudah pulang.”


Suara Galaksi menyambutnya dengan riang. Senyum pria itu berubah kaku ketika ia melihat ibunya berkunjung.


“Bu, apa yang kamu lakukan di malam-malam begini?” tanya Galaksi.


“Aku hanya merindukan Nasha. Kebetulan ibu baru saja pulang dari sebuah pesta lalu ibu mampir.”


Galaksi mengangguk tanpa curiga.


“Galaksi, ibu ingin bicara dengan Nasha berdua. Bisakah—“


“Ibu ingin membicarakan apa dengan istriku?” selidik Galaksi.


"Aku ingin minum teh sambil mengobrol dengan ibu. Kamu bisa tidur lebih dulu,” ucap Nasha meyakinkan Galaksi.


Galaksi terdiam sejenak namun ia menganggukkan kepalanya dengan lemah. Dengan perlahan ia menyeret kakinya ke kamarnya.


“Dia sudah pergi ke kamarnya. Apa yang ingin ibu bicarakan denganku?” tanya Nasha begitu ia melihat Galaksi pergi.


Melihat ibunya tak kunjung bicara, Nasha mengajak ibunya berbicara di ruang perpustakaan mininya. Nasha menutup pintu dan menunggu ibunya berbicara lebih dulu.


“Ini tentang Maya.”


Nasha langsung mendongak. Kepalanya akan meledak dengan marah bahkan hanya ketika mendengar nama itu.


“Dia mengandung anak laki-laki. Dia akan menyerahkan anak itu dengan syarat. Nasha, mungkin ibu terlihat kejam tapi ini semua demi kebaikan bersama,” ucap Amara. Ia menelan salivanya dan menambahkan, “Bisakah kamu meninggalkan Galaksi.”


Nasha menatap ibu mertuanya dengan tidak percaya.


“Itu hanya satu tahun. Setelah Maya melahirkan, aku akan mencari cara agar kamu kembali pada Galaksi.”


Amara membuka tasnya dan menyodorkan sebuah lembaran pada Nasha.


“Ini adalah perjanjian perceraian. Aku harap kamu bisa meyakinkan Galaksi untuk menandatanganinya.”


Isi kepala Nasha terasa kosong, ia tampak seperti orang bodoh yang tak tahu lagi berbuat apa.


Keterkejutannya berubah menjadi ekspresi acuh tak acuh. Ia tidak percaya bahwa ibu mertuanya akan mendorongnya sejauh ini. Ia hanya duduk tenggelam dalam kesedihannya.


Nasha mengambil napas dalam-dalam dan berkata, “Apakah ibu akan mendorongku sejauh ini?”


“Nasha maafkan ibu. Kami tidak mempunyai pilihan.” Amara menangis. “Jika surat ini tidak ditandatangani sampai besok sore, wanita itu akan mengancam menggugurkan kandungannya. Kamu tahu anak itu sangat penting bagi kami yang sudah tua.”


Ibu mertuanya menangis dan memohon padanya. Sungguh hati Nasha sangat bimbang.


“Aku akan menandatanganinya.”


Nasha tanpa pikir panjang menandatangani surat itu di depan mertuanya.


“Maaf Nasha, yakinlah pada ibu aku akan mengembalikan Galaksi padamu dalam waktu satu tahun.”


“Tidak! A...aku tidak akan pernah kembali,” jawab Nasha dengan terbata-bata.


Setelah ibu mertuanya pergi, Nasha masih terdiam di tempatnya. Air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata Nasha pun jatuh.


Setelah menata hatinya ia menyeka air maya yang mengalir dari kedua matanya. Nasha segera melangkah ke kamarnya dan menemukan Galaksi sedang duduk di sofa. Saat pria itu melihatnya, ia langsung berdiri.


“Apa yang kamu bicarakan dengan ibu?” Galaksi menatap Nasha dengan wajah khawatir.


“Kita akan bercerai.”


Galaksi panik dan memegang bahunya, “Apa yang kamu bicarakan?”


“Aku sudah menandatanganinya.”


Nasha menyerahkan perjanjian pernikahan di meja. Galaksi terkejut perlahan mengalihkan perhatiannya ke perjanjian perceraian. Tangan dan bahunya bergetar.


“Apakah ibu yang memaksamu?”


“Tidak! Ini adalah ideku. Aku sudah lelah dengan semua ini.”


“Nasha, aku mohon jangan tinggalkan aku.”


Galaksi yang terlihat kuat, tangguh dan kuat tiba-tiba menangis seperti anak kecil. Nasha yang mendengar teriakan Galaksi tak berdaya merasakan sakit di hatinya.


“Aku benar-benar lelah. Biarkan aku pergi.”


“Jika kamu keluar dari pintu itu, jangan kembali lagi.” Galaksi tiba-tiba menggeram.


Nasha berhenti dan memejamkan mata dan meneteskan air mata. Nasha dengan teguh melewati pintu itu dan tidak pernah kembali.