Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 54



Nasha bagaikan harta karun yang berharga. Ia tidak boleh melakukan hal yang berat. Bahkan untuk pergi ke kantornya.


Jadi yang bisa ia lakukan adalah duduk manis sambil membaca buku favoritnya sampai sore hari.


Nasha mendapatkan panggilan dari Edward. Pria itu memberinya selamat dan berjanji akan mengunjunginya.


Mereka mengobrol santai sampai Nasha tidak menyadari bahwa Galaksi sudah pulang dari kantornya.


Pria itu mengernyitkan dahinya karena Nasha mengabaikannya dan sedang asyik bertelepon dengan orang di seberang.


Pria itu penasaran siapa yang meneleponnya dan juga di tengah malam kemarin. Apakah mereka orang yang sama?


Galaksi langsung duduk di samping Nasha dan terus memperhatikannya sampai Nasha menutup panggilan tersebut.


“Oh, kapan kamu pulang?”


“Kamu asyik dengan ponselmu sehingga tidak sadar bahwa suamimu sudah pulang. Siapa yang menelepon? Apakah itu Edward?” Tanya Galaksi dengan penasaran.


“Bagaimana bisa kamu tahu?” tanya Nasha dengan polos.


“Apakah kamu akan menemuinya?”


“Ya karena kamu sudah menanyakannya maka aku akan menemuinya.”


“Nasha, apakah Edward lebih baik dariku?”


“Jujur jika aku memilih Edward itu pilihan bagus.”


“NASHA! Aku tidak ingin kamu memikirkannya.”


“Aku tidak sedang memikirkannya kamu sendiri yang memilih topik ini dulu.”


“Aku tidak berharap kamu menanggapinya juga.”


“Aku—“


Galaksi akhirnya tidak tahan lagi, dengan kasar Galaksi menekannya ke sofa dan mencium bibirnya. Galaksi menggendongnya dari sofa, bibir mereka saling melekat ketika pria itu bergerak ke tangga.


Tangan-tangan Nasha masih berada di dalam rambut Galaksi dan melepaskan ciuman mereka.


“Perhatian langkahmu,” ucap Nasha.


“Kamu menghancurkan suasana.”


“Ha ha ha ha.”


Keesokannya tanpa Nasha ketahui, rupanya Edward telah terbang untuk menemuinya. Sekitar jam dua siang, Edward datang berkunjung.


“Edward!” Pekik Nasha.


“Apakah kamu tidak ingin menyambutku? Peluk aku sekarang.”


Nasha melihat ke arah Edward dan langsung mengalihkan perhatiannya pada sosok wanita yang berdiri di sampingnya.


“Siapa dia? Dia sangat cantik.”


“Aku akan memperkenalkanmu. Dia adalah Mei, kekasih baruku. Mei, dia adalah Nasha kekasih lamaku.”


“Jangan percaya dia, kami hanya teman biasa.”


“Dia seperti itu, aku sungguh tidak mempermasalahkannya.”


Mei tersenyum dan memperlihatkan lesung pipinya.


“Sebenarnya, Ed sudah memberitahuku tentangmu. Aku tahu dia telah mengejarmu selama setahun tapi kamu memilih pria lain.


Nasha tersenyum canggung. “Yah, memang tapi dia dulu tidak serius.”


Edward tidak puas dengan ucapan Nasha. “Siapa yang tidak serius, aku selalu serius.”


Nasha tersenyum lantas menarik tangan Mei. “Masuklah”


Nasha langsung menyuruh pelayan untuk membutakan kopi dan teh serta beberapa camilan untuk mereka.


“Aku akan ke kamar mandi.”


“Oh, pelayan akan mengantarmu.”


Setelah kepergian Mei, Nasha langsung menatap Edward dengan menggoda.


“Mei adakah gadis yang baik.”


“Apakah kamu seorang peramal sekarang?”


“Aku bisa langsung melihat auranya. Kamu tidak salah memilih.”


“Kapan aku salah memilih? Dulu pun begitu hanya saja takdir sedang tidak memihak padaku.”


“Hyak, apakah kamu tidak membelikan oleh-oleh untuk si kembar?” Nasha mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


“Apakah itu kembar?” tanya Edward.


“Ya.”


“Wah aku tidak tahu haruskah aku senang atau sedih.”


Sorenya, Edward dan Mei sudah pulang ke hotel. Rencananya mereka akan menginap beberapa hari di sana.


Nasha tidak memberitahukan kedatangan Edward begitu pula dengan ibu mertuanya dan juga Bintang.


Nasha ingin segera mandi dan segera makan malam.


Ketika ia bisa melepas bajunya namun tidak dengan branya.


“Sayang, masuklah!” teriak Nasha.


“Bantu aku membuka ini.”


Galaksi menelan salivanya sambil memperhatikan pemandangan indah. Pria itu berjalan mendekat dan membantu menyingkirkan satu-satunya kain yang melekat di tubuh Nasha.


“Terima kasih. Sekarang kamu boleh pergi.”


Nasha baru saja memasukkan satu kakinya ke bak mandi namun tiba-tiba Galaksi memeluknya dari belakang.


“Galaksi.”


“Jangan bicara, aku hanya memegangnya.”


Galaksi menahan betapa sulitnya ini. Pria itu bermain-main sebentar lalu dengan enggan melepaskan tangannya.


“Panggil aku jika membutuhkan sesuatu.”


“Ya,” jawab Nasha.


Setelah mandi, Galaksi tidak ada lagi di kamar. Namun ia menemukan makanan di atas nakas. Sepertinya Galaksi membawakannya.


Nasha langsung menyantapnya dan berakhir di bawah selimut lalu tidur dengan cepat.


Di tengah hari, dengan samar Nasha mendengar suara membuka pintu.


Dengan perlahan Galaksi melangkah dan langsung menuju ke kamar mandi.


Nasha membuka matanya dan merasa lapar tiba-tiba. Ia memutuskan untuk mencari camilan di bawah.


Setelah keluar dari kamar mandi, Galaksi terkejut karena wanita yang berbaring di ranjang tiba-tiba menghilang. Pria itu bergegas mencarinya namun Galaksi melihat Nasha berjalan ke atas.


“Dari mana saja kamu? Kamu membuatku takut.”


Nasha tersenyum dan menyeka mulutnya. “Aku sedang mencuri. Coba tebak apa yang aku curi?”


Nasha membuka mulutnya dan membiarkan Galaksi menciumnya.


“Ice cream mintchoco.”


“Ya.”


Nasha tersenyum dan memegang tangan Galaksi yang sudah terulur. Mereka kini sudah berbaring di ranjang.


“Kenapa kamu mandi terlambat? Apakah kamu bekerja sampai larut?”


“Ya.”


“Apakah ada masalah di kantor?”


“Hanya masalah kecil.”


“Huh? Aku ingin makan steak di luar.”


“Kita akan makan steak besok setelah aku pulang,” ucap Galaksi.


“Benarkah? Itu terdengar sangat luar biasa.”


Keesokan harinya, Galaksi benar-benar menempati janjinya. Mengajak Nasha untuk makan steak di luar.


“Wah kita sudah lama tidak ke sini. Ingat, kapan pertama kali kamu mengajakku ke sini?”


Galaksi berpikir sejenak, “Satu tahun yang lalu bukan dua tahun yang lalu. Tidak.”


Nasha memandang sekeliling restoran. Matanya tiba-tiba menangkap sosok wanita yang baru saja masuk ke restoran.


“Ada apa?” tanya Galaksi yang melihat ekspresi Nasha yang tak biasa.


“Lihat ke belakang! Bukankah dia Maya?”


Galaksi berbalik dan ketika berbalik, pria itu benar melihat Maya.


“Apakah kamu ingin menyapanya?”


“Apa yang kamu katakan? Abaikan dia.”


“Tapi sepertinya dia melihat kita,” ucap Nasha.


Galaksi diam.


“Dia akan datang,” ujar Nasha.


“Ayo pergi.”


Galaksi berdiri dan menggandeng tangan Nasha mengajak wanitanya segera pergi dari sana namun sudah terlambat. Maya sudah mendekati mereka.


“Galaksi, aku sudah lama tidak melihatmu. Kenapa kamu ingin pergi setelah melihatku?”


Galaksi tidak bicara karena ia sudah muak. Ia sudah tidak menyukainya dan tidak ingin berhubungan apa pun dengannya.


Maya melihat Galaksi mengabaikannya dan mengalihkan perhatiannya pada Nasha. Ia melihat tubuh Nasha yang tampak berisi dan matanya jatuh pada perutnya.


“Kalian masih bersama bahkan akan mempunyai anak.”


“Ayo kita pergi,” ucap Galaksi pada Nasha.


Galaksi mengambil tangan Nasha dan pada saat itu pelayan sudah menyiapkan steak untuk mereka.


“Tuan, bagaimana dengan steaknya?"


“Bungkus saja.”


Galaksi mengambil uangnya dari dompet dan mengambil steak yang sudah dibungkus dan tangan yang lainnya mengambil tangan Nasha dan berjalan keluar.


Maya hanya bisa menghela napas panjang. Ia sangat iri dengan Nasha.