
Seharian Nasha tidak mengecek ponsel. Bahkan ia menaruh ponselnya di ruang kerjanya dalam mode silent saat disibukkan dengan beberapa pekerjaannya bersama Manda.
Setelah pekerjaannya selesai, Nasha duduk di kursinya dan mengambil ponselnya. Ia mengusap ponselnya, melihat ada sepuluh pesan dari...”Galaksi,” Nasha mengerutkan kening dan kerutannya semakin dalam saat ada dua panggilan tak terjawab dari nomor pria itu juga.
Nasha menggerakkan ibu jarinya di layar ponsel, menyentuh kotak pesan yang sudah memunculkan papan keyboard.
“Apakah aku harus membalasnya?” ia menguman.
Nasha tiba-tiba ragu, ibu jarinya menggantung di atas papan keyboardnya. Ia mengangkat bahunya dan akan membalas pesannya.
“Saya sangat lelah sampai saya akan pingsan. Tidak bisakah kamu membalas pesan saya.”
Suara Galaksi memenuhi ruang kerja Nasha. Nasha langsung membeku dan tiba-tiba kehilangan suaranya.
“Apakah kamu tetap duduk di sana?”
Nasha langsung buru-buru berdiri dan menghampiri Galaksi. Pria itu langsung menarik tangan Nasha dan menggenggamnya. Manda yang akan memasuki ruang Nasha melihat mereka berdua dan mulutnya langsung terbuka.
Sesampai di rumah, Nasha makan malam bersama keluarga besar Galaksi. Ketika makan, Nasha melihat wajah Galaksi dalam waktu ke waktu.
Di akhir makan malam, keduanya masuk ke kamar mereka.
“Mandi sana.”
“Aku sudah mandi,” ucap Nasha.
“Baiklah, saya akan mandi.”
Galaksi memasuki kamar mandi, Nasha dengan gugup bolak-balik di kamar Galaksi lalu memilih pergi ke ruang rahasianya.
Pintu rahasianya terbuka dan Galaksi berjalan telanjang dada. Otot-ototnya terlihat sangat menawan.
Nasha berdiri diam untuk sementara waktu. Galaksi langsung menunduk dan meletakkan bibinya di sana, tidak peduli bila ia bersikap curang. Erangan Nasha memenuhi kamarnya ketika lidah Galaksi berkelana.
Ada sedikit aroma mint yang memenuhinya. Nasha membiarkannya memegang erat-erat, matanya terpejam, mengangkat lengannya dan memegang lehernya erat-erat.
Galaksi meletakkannya ke tempat tidur dan menekannya menjebaknya di lengannya dan mulai mencium lehernya.
Tengah hari Galaksi terbangun namun ia tidak menemukan Nasha di sampingnya. Dengan segera Galaksi menyambar bajunya dan mencari Nasha dengan keadaan panik.
Galaksi pergi ke kamar mandi namun tidak mendapatkan Nasha di sana. Lantas pria itu beralih ke lantai satu. Galaksi melihat Nasha yang berada di dapur langsung memeluknya dari belakang.
Nasha langsung terkejut saat punggungnya terasa hangat.
“Galaksi...”
“Aku pikir kamu hilang.”
“Apakah kamu baru saja mimpi buruk?"
Galaksi mengangguk.
“Itu hanya mimpi,” ucap Nasha lalu wanita itu mencium sekilas bibir Galaksi. Karena pria itu kurang puas. Galaksi langsung meraih tubuh Nasha dan menciumnya lebih dalam.
Bintang yang kelaparan dan pergi ke dapur tidak berharap untuk melihat kejadian yang membuat jiwa jomlonya meronta.
“Ya ampun, apa yang aku lihat? Aku tidak melihat apa pun.”
Nasha langsung mendorong tubuh Galaksi begitu ia mendengar suara Bintang. Ia melihat bintang yang sudah berjalan keluar dapur.
“Kenapa kamu menciumku?”
“Kamu yang pertama memancing saya.”
Nasha langsung merengut dan meninggalkan Galaksi yang terlihat kebingungan.
Keesokan paginya Nasha kembali bekerja seperti biasa. Ia memimpin rapat dan juga menemui para koleganya.
Di tempat lain, Galaksi duduk di kursi yang menghadap pada sebuah meja lonjong. Saat ini, pria itu sedang memimpin rapat yang sedari tadi pagi belum selesai. Rapat ini memanglah penting karena memegang proyek yang bernilai miliaran.
Di tengah ra
pat yang hening sebuah ponsel terdengar nyaring di sana. Semua anggota rapat saling memandang.
Galaksi yang merasa ponselnya terdengar langsung menggeser ponselnya dan mengangkat panggilan dari ibunya. Ya, itu adalah panggilan dari ibunya yang menyebutkan bahwa Nasha mengalami kecelakaan.
Galaksi yang panik langsung menutup ponselnya dan meninggalkan rapat dan menyerahkan semua rapat ke Adrian. Galaksi langsung keluar dari perusahaannya dan langsung menaiki mobilnya.
Galaksi mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Setelah sampai di rumah, ia langsung mendorong pintu dan berjalan dengan tergesa-gesa. Galaksi langsung menuju ke kamarnya dan menemukan Nasha berbaring di tempat tidur. Ya, Nasha tidur di kamar utama sementara kamar rahasia yang sebelumnya digunakan Nasha dijadikan ruang baca.
“Huh? Kenapa kamu kembali di jam segini?”
Galaksi tidak menjawab pertanyaan Nasha, pria itu malah terlihat memeriksa setiap inci tubuh Nasha.
“Apa ini?” tanya Galaksi saat pria itu melihat ada luka di sana.
“Hanya lecet. Saat aku akan menyeberang, aku keserempet motor.”
“Keserempet motor? Apa ada yang terluka lagi? Coba lihat!”
Nasha melihat Galaksi yang panik. Pria itu bahkan menyuruh Nasha untuk memeriksa ke rumah sakit. Namun Nasha menolaknya. Ia bersikukuh mengatakan bahwa ia baik-baik saja.
Galaksi tidak bisa lagi memaksa Nasha dan lebih memilih menghela napas untuk mengalah.
Pagi-pagi ketika Nasha bangun, ia sudah tidak menemukan Galaksi di sampingnya. Nasha baru saja bisa mengumpulkan nyawanya ketika ponselnya tiba-tiba berdering.
“Selamat pagi, sayang.”
Nasha langsung membuka matanya dan kembali melihat siapa si penelepon. Benar, itu panggilan dari Galaksi. Galaksi kembali memanggil nama Nasha ketika di seberang tidak ada suara.
“Aku akan pergi ke perusahaan. Aku akan tutup teleponnya.”
“Tunggu sebentar.”
Galaksi menyuruh untuk Nasha membuka laci yang ada di ruang kerjanya. Nasha langsung pergi ke ruang kerja Galaksi. Ia membuka laci di tengah sesuai instruksi Galaksi.
Ada banyak dokumen di dalamnya. Ia melihat-lihat salinan dan melihat foto di bagian bawah laci. Ia mengambil foto tersebut dan ada empat orang di dalamnya.
Orang di sebelah kanan sendiri adalah Andrian, lalu Galaksi dan dua orang lagi, Nasha tidak tahu. Tapi ada satu perempuan di dalamnya. Nasha tiba-tiba duduk di kursi Galaksi.
Pikirannya berkelana, menduga-duga bahwa perempuan itu adalah calon istri yang Galaksi yang pergi.
“Halo, sayang. Apakah kamu sudah menemukannya?”
“Hm.”
“Kontrak itu tentang proyek Louzy. Aku memberikannya padamu.”
Nasha menutup panggilannya dan terus melihat foto tersebut. Ia masih penasaran dengan foto tersebut. Nasha langsung memfoto foto terebut.
Setelah mendapatkan kontrak, Nasha langsung pergi ke perusahaan Galaksi. Saat berada di depan kantor Galaksi, mendadak hati Nasha menjadi gelisah. Nasha di sadarkan oleh kehadiran Adrian.
Adrian langsung bertanya pada Nasha kenapa ia tidak langsung masuk. Tanpa kata, Nasha langsung menyeret Adrian di tangga darurat.
“Aku ingin bertanya padamu, apakah kamu tahu siapa wanita dan laki-laki ini? Apakah dia benar calon istri Galaksi yang kabur?” tanya Nasha.
“Itu...dia adalah Maya, wanita yang pernah dicintai presdir. Kamu pasti sudah mengetahui detailnya.”
“Dan apakah pria ini adalah saudara Galaksi yang membawa Maya pergi?”
Adrian menganggukkan kepalannya pelan sebagai jawaban.