
Nasha duduk di kursi yang berada di kamar Galaksi setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian piyama santai.
Sementara Galaksi berdiri di depan Nasha dengan angkuh.
“Kamu akan masuk dan keluar setiap hari. Kamar tidur saya adalah satu-satunya aksesmu. Jadi saya perlu mengingatkanmu bahwa kamu tidak bisa tinggal di kamar saya selama satu detik. Jangan menyentuh apa pun di sini, terutama tempat tidur saya."
Galaksi menunjuk ke tempat tidur besar yang bersih dan rapi di sampingnya. Setelah mendengar larangan dari Galaksi, Nasha semakin ingin menyentuh tempat tidur itu. Semakin Nasha dilarang, semakin Nasha penasaran.
Nasha menatap tempat tidur dengan minat.
Galaksi memicingkan sebelah alisnya saat melihat ekspresi Nasha yang menurutnya mengerikan.
“Nasha!”
“Wah, ini pertama kalinya kamu menyebut namaku.”
Nasha langsung berdiri dan tangannya terulur untuk menyentuh tempat tidur itu, guna untuk menggoda Galaksi.
Teriakan Galaksi yang memperingatkannya untuk kedua kalinya dibiarkan memenuhi udara. Suara Galaksi menyeruduk galendang telinganya namun Nasha tidak peduli.
Galaksi dengan sikap tak terduga menarik tangan Nasha membungkuk ke depan dan mendorongnya ke tempat tidur.
“Kamu—“
Galaksi menyuruh Nasha untuk diam. Pria itu menggunakan matanya untuk menunjukkan ke pintu. Tiba-tiba Nasha menyadari pintu yang sema tertutup di dorong terbuka sedikit. Sepasang mata mengintip di sana.
Namun ini tidak mengejutkan, yang lebih mengejutkan adalah Galaksi menundukkan bibirnya tanpa peringatan.
Tubuh Nasha kaku, ia benar-benar terpana. Ketika pintu perlahan-lahan ditutup, Galaksi menegakkan tubuhnya.
“Drama sudah selesai, kamu bisa bangun.”
Nasha buru-buru bangun dan menggeser rak buku itu dan membuka pintu di sana.
“Aku baru saja menyentuh kasurmu.”
“Tidak masalah, saya bisa melemparkannya besok.”
“Apakah kamu akan melempar ranjang atau melempar sepreinya saja?”
“Saya akan melemparkanmu.”
“Lucu sekali,” ucap Nasha sebelum menutup pintu ruang rahasianya.
...♡♡♡...
Sinar matahari perlahan-lahan naik ke atas. Karena kamar Nasha tidak ada jendela, ia bahkan tidak bisa merasakan sorotan sinar pagi yang hangat.
Hanya ada bunyi alarm dari ponselnya. Nasha segera mengulurkan tangannya untuk meraih ponselnya untuk mematikan bunyi yang berisik.
Setelah mengumpulkan banyak nyawa ia segera bangkit.
Pintu diketuk dan samar-samar terdengar suara Galaksi. Nasha langsung membuka pintunya dengan malas.
“Ikut saya.”
Berbicara tanpa melihatnya, itulah cara Galaksi memerintah. Nasha turun bersama pria itu tanpa kata.
Di ruang makan, sudah duduk orang tua Galaksi dan juga adik Galaksi. Nasha menyapa mereka semua dengan cara yang sopan dan manis.
Nasha duduk lalu melihat berbagai makanan enak di sajikan di atas meja.
“Mengapa kamu tidak makan? Ini tidak sesuai dengan seleramu?”
“Oh, tidak...tidak...”
Nasha mengambil sendoknya dan mengambil yang ia sukai. Ia tidak sungkan sama sekali dan repot-repot menyembunyikan sifat aslinya.
“Ah, benar. Kamu harus mengunjungi ayahmu kan? Galaksi, ibu sudah menyiapkan hadiah untuk ayah mertuamu—“
“Bu, aku tidak punya waktu.” Galaksi menolak dengan dingin.
“Apakah kamu membiarkan istrimu kembali sendirian?”
“Bu, aku bisa pergi sendiri sepulang bekerja.”
“Kamu tidak mengambil cuti?”
“Bu, dia harus bekerja di GustamaCorp,” ucap Galaksi mencoba membantu Nasha sebenarnya ia membantu dirinya sendiri agar tidak merasa kerepotan.
Setelah sarapan, Nasha dan Galaksi keluar dari vila. Mereka berangkat ke kantor masing-masing dengan menggunakan mobil masing-masing.
Nasha benar-benar melupakan waktu jika sudah berkutat dengan pekerjaan. Ia bahkan tidak menyadari bahwa matahari sudah mulai terbenam jika saja Manda tidak memberitahunya.
Nasha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat setelah itu ia kembali ke vila Galaksi. Ia lupa untuk mengunjungi ayahnya. Begitu sampai vila terasa sepi hanya ada beberapa pelayan. Nasha langsung naik ke atas dan mengganti pakaiannya lalu kembali turun.
Sebenarnya Nasha tidak ingin turun namun ia juga tidak ingin berada terus di kamar rahasia. Jadi yang bisa ia lakukan adalah sedikit bermain-main dengan ponselnya.
“Kakak, kamu sudah pulang.”
“Ya, dimana ibu?”
“Ibu pergi ke rumah nenek untuk acara syukuran dapat menantu yang cantik dan baik.”
Nasha hanya terdiam saat mendapatkan pujian dari Bintang. Ia duduk di sebelah Bintang dan sekilas melihatnya sebelum mengajukan pertanyaan.
“Bolehkah aku bertanya?” tanya Nasha.
“Tentu saja,” ucap Bintang.
“Apakah sifat kakakmu yang dingin itu sudah ada sejak lahir?”
“Ya, kak Galaksi memang terlalu dingin pada wanita kecuali pada ibu dan aku. Apakah kak Galaksi masih bersikap dingin pada kakak?”
Nasha menggeleng pelan. Ya, kenyataannya memang benar.
“Kakak, meskipun terkadang sikap kak Galaksi dingin dan terlihat cuek. Sebenarnya ia adalah pria yang hangat. Kakak harus bertahan oke. Dan dalam kamus kakakku, kata yang tidak bisa dimaafkan adalah pengkhianatan.”
Nasha mengerjap-ngerjapkan matanya.
“Kakak, aku rasa aku harus ke kamar sekarang,” ucap Bintang dan segera lari ke kamarnya.
Nasha langsung menoleh ke belakang begitu udara di belakangnya terasa dingin.
“Ikut saya.”
Ketika Galaksi naik ke atas dan memasuki ruangan, pria itu melepaskan jasnya dengan marah dan melemparkannya ke tempat tidur.
“Apakah kamu sangat ingin mengetahui tentang saya?”
“Sedikit.”
“Mengapa kamu ingin tahu tentang saya? Suka sama saya?”
“Bukankah normal untuk memiliki rasa ingin tahu. Semua orang memiliki rasa ingin tahu. Ingin tahu bukan berarti suka.”
Mata Galaksi berkedip aneh, pria itu ingin mengatakan sesuatu namun ponsel Nasha berdering. Nasha menundukkan kepalanya dan ia berjalan ke ruang rahasia.
“Halo, ayah.”
Setelah menutup sambungannya, Nasha menghela napas pasrah. Ayahnya mendesaknya untuk segera menerima cucu. Sebenarnya, Nasha juga ingin segera mempunyai anak agar ayahnya segera menepati janjinya untuk menyerahkan GustamaCorp. Tapi itu tidak semudah membalikkan tangan.
Galaksi tidak bisa diajak kompromi. Pria itu benar-benar tidak tersentuh. Nasha harus mempunyai trik khusus untuk merobohkan benteng yang dibuat oleh Galaksi.
Nasha mengambil napas dalam dan membuka pintu rahasia.
“Galaksi, kamu tidak menyukaiku kan?”
Galaksi yang berdiri di depan jendela langsung berbalik dan menukikkan sebelah alisnya melihat Nasha.
Nasha mencoba untuk bertaruh dengan Galaksi. Nasha bertaruh akan bisa membangkitkan gairah dan perasaan Galaksi padanya.
Galaksi langsung mencibir. “Apakah kamu ingin merayu saya?”
“Jangan khawatir tentang apa yang aku lakukan saja. Iya atau tidak?”
Galaksi terdiam dan menikmati untuk mengamati wajah Nasha yang begitu serius.
“Mengapa? Kamu tidak berani?” Nasha mencoba provokatif.
“Kenapa saya tidak berani?”
Nasha tersenyum tipis dan berjinjit untuk mencium Galaksi. Galaksi memiliki pikiran kosong untuk sesaat. Pria itu seperti orang bodoh. Galaksi seolah-olah sedang bermimpi.
Sepertinya benteng Galaksi tidaklah sekokoh kelihatannya karena Nasha mampu membangunkan jiwa Galaksi yang lama terpendam.
Galaksi yang awalnya terbuai seolah tersadar. Dengan kasar, Galaksi mendorong tubuh Nasha.
Nasha yang terdorong menatap Galaksi, senyum tipis langsung tercipta di sana.
“Kamu,” ucap Galaksi Murka.
Nasha langsung mengerling lalu berlari cepat ke ruangan rahasianya.
Nasha langsung menutup pintu itu dan bersandar di sana.
"Ya ampun, aku pasti sudah gila.”