Well Dominated Love

Well Dominated Love
Bab 22



Keesokan harinya, karena tanggung jawabnya terhadap perusahaannya. Nasha melakukan aktivitasnya seperti biasa. Meskipun skandalnya semakin merajalela, tekadnya yang kuat untuk menghadapi kenyataan yang menyerangnya dengan lapang dada.


“Apakah kamu sudah menyiapkannya?”


Manda mengangguk dengan pasti.


“Aku tidak bisa diam saja di sini. Ayo mulai.”


Dengan langkah pasti, Nasha keluar dari kantornya dan pergi ke konferensi pers yang ia siapkan. Dengan langkah pasti dan dengan keanggunan dengan mantap Nasha mengangkat dagunya dalam lampu sorotan flash.


Ia memakai pakaian semi formal yang berkelas. Ia duduk di depan awak media.


“Halo semuanya. Saya Nasha Gustama, meminta maaf atas kegemparan yang terjadi. Di sini saya akan meluruskan semuanya.”


Reporter dari daily red langsung melemparkan pertanyaan. “Apakah benar bahwa pernikahan anda adalah pernikahan kontrak dan anda dipaksa oleh Galaksi Januartha?”


Mata tajam Nasha melirik ke arah reporter itu.


“Awalnya pernikahan kami memang adalah pernikahan kontrak namun seiring berjalannya waktu cinta hadir dan bersemi di antara kami dan suami saya tidak pernah memaksa saya sama sekali.”


“Jadi apakah anda yang memaksa Galaksi Januartha?”


Nasha hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu.


“Lalu bagaimana dengan lelaki yang bersamamu saat di Amerika. Banyak beredar bahwa kalian mempunyai hubungan.”


Nasha mengambil napas dalam-dalam dan tersenyum. “Ya, kami memang mempunyai hubungan tapi hubungan itu adalah hubungan rekan kerja.”


Nasha langsung berdiri.


“Aku di sini hanya ingin meluruskan rumor yang selama ini beredar. Masalah keluargaku adalah masalah privasi, saya harap kalian semua lebih bijak dalam membuat komentar dan berita. Maaf telah membuat kegemparan di tengah masyarakat.”


Nasha langsung membungkuk untuk meminta maaf.


Di tempat lain, Galaksi langsung mematikan ponselnya. Sebenarnya ia juga akan melakukan konferensi pers untuk meluruskan masalah yang sudah menyebar namun ia tidak berharap bahwa Nasha yang akan melakukannya.


Pria itu langsung menelepon Nasha. Namun panggilannya langsung terkalihkan. Pria itu ingin segera menemui Nasha namun langkahnya langsung dihentikan Adrian.


"Ada apa?”


“Sesuai instruksimu, aku sudah menyelidikinya. Rumor itu dimulai dari Zd group.”


Adrian langsung menyerahkan foto. Di sana tampak seorang wanita paruh bayai tengah minum kopi dengan seorang reporter. Jika tidak melihat dengan saksama akan sulit untuk melihat apa yang ada di sana.


“Siapa dia?” tanya Galaksi.


Adrian menatap Galaksi sebelum menjawab bawah wanita itu adalah pendiri perusahaan yang bergerak di bidang kecantikan. Sialnya, wanita itu rupanya adalah ibu kandung dari Ale.


Alis Galaksi langsung terajut mendengar latar belakang wanita itu.


Selepas mengadakan konferensi pers, Nasha menelepon seseorang yang ia panggil bibi Yun. Tanpa sepengetahuan Manda, Nasha langsung bergegas ke rumah bibi Yun.


Nasha dengan mata tajamnya menatap rumah yang menjulang tinggi. Ia pernah beberapa kali berkunjung di sini namun semenjak bibi Yun pergi ke China, ia sekarang jarang berkunjung. Satu bulan yang lalu Nasha mendengar bahwa bibi Yun sudah kembali, Ale yang memberitahukannya bahkan mereka mengundang Nasha untuk makan malam. Namun saat itu, Nasha tidak bisa hadir.


Sekarang Nasha datang ke sini bukan untuk makan malam melainkan menanyakan alasan dibalik ia menyerang suaminya.


Dengan tak gentar, Nasha mengetuk pintu kayu berwarna cokelat itu. Pintu terbuka tak berselang lama. Nasha langsung disambut wajah semringah wanita paruh baya itu.


“Nasha, kamu di sini. Betapa aku menunggu saat-saat kamu berkunjung.”


Nasha hanya tersenyum dan mengikuti bibi Yun yang mempersilahkannya untuk masuk. Seorang pelayan memberikan beberapa camilan dan juga teh hangat.


“Bibi Yun, kedatanganku ke sini untuk—“


“Nasha, sebelumnya bibi minta maaf. Berita itu menyebar atas ide bibi.”


“Kenapa bibi melakukannya?”


“Karena putraku sangat menyukaimu.”


“Ya, aku ingin melihat pernikahanmu dengan Galaksi kandas. Bibi, hanya membantumu keluar dari pernikahan yang memaksamu."


"Jika aku menikah dengan Ale itu juga termasuk keterpaksaan. Kenapa bibi tega melakukannya?”


“Nasha, jika kamu tidak pisah dengan Galaksi, bibi terpaksa akan membuat Grup Januartha bangkrut."


Nasha keluar dari rumah itu dengan emosi. Pada saat yang bersamaan. Ale baru saja tiba di rumahnya. Mereka berdua bertemu di halaman depan.


“Nasha.”


Nasha menatap tajam ke arah Ale dan langsung menampar pria itu.


“Aku selalu menganggapmu teman karena aku tidak mau kehilanganmu tapi bagaimana bisa kamu membiarkan ibumu mengancam dan menyuruhku untuk berpisah dengan suamiku? Menjadi kekasihmu? Istrimu? Itu tidak akan pernah terjadi.”


Ale menatap sedih saat Nasha pergi. Ale menyadari bahwa ia tidak bisa membiarkan Nasha pergi begitu saja. Pria itu lantas berlari mengejar Nasha dan mencegahnya. Pria itu menjelaskan pada Nasha yang sudah menaiki mobilnya. Ale mengetuk-ngetuk kaca mobil Nasha.


“Ini sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Aku tidak pernah menyuruh ibuku untuk mengancammu.”


Nasha langsung melajukan mobilnya dengan brutal. Ale memperhatikan ketika mobilnya berangsur-angsur hilang menjauh. Pria itu menutup matanya dan berteriak. Bahkan ia menendang batu kerikil di halamannya yang tidak bersalah.


“Sial.”


Ale langsung masuk ke mobilnya dan melarikan diri untuk menenangkan pikirannya.


Hari sudah malam dan di sinilah Ale berada. Di sebuah bar terkenal dengan suara berisik yang memekakkan telinga. Ale bukanlah pria peminum namun terkadang sesekali ia ke bar jika ia mempunyai masalah.


Suasana hati Ale pastinya benar-benar buruk. Pria itu memesan beberapa liter bir untuk menutup malamnya. Ale mengambil ponselnya yang ada di saku dan memanggil seseorang.


Seseorang yang ia panggil adalah Manda. Setelah menerima panggilan dari Ale, wanita itu langsung bergegas ke bar.


“Ale, apa yang terjadi padamu?” tanya Manda ketika sudah sampai dan melihat Ale yang sedang minum dengan sedih.


Manda melihat Ale kembali mengisi gelasnya dengan cepat dan menghabiskannya dengan lebih cepat lagi.


“Ale, jangan minum lagi.”


Manda langsung merebut gelas yang berisi bir yang akan Ale minum.


“Apa kamu menyukaiku?”


Pertanyaan Ale membuat Manda langsung diam seribu bahasa. Kebisuan Manda membuat Ale kesal.


“Jawab aku! Apakah kamu menyukaiku?”


“Apakah ini karena Nasha? Nasha yang memberitahumu. Ya, aku menyukaimu.”


Emosi Ale di luar kendali. Beberapa menit kemudian emosinya mulai stabil dan ia menatap Manda dengan serius.


“Ayo menikah.”


Sontak saja ucapan Ale membuat Manda terkejut. Manda menganggap bahwa pria itu dalam pengaruh alkohol dan sedang bercanda dengannya namun sialnya Ale berkata bahwa ia tidak mabuk atau sedang bercanda.


“Mengapa kamu tiba-tiba mengajakku menikah?” tanya Manda.


Wajah Ale mendekat, bau alkohol yang tajam seolah tersembur dari mulutnya. Manda duduk bergeming di kursinya.


“Karena dengan begitu, ibuku akan berhenti menyakiti Nasha.”


Hati Manda terasa sakit saat kata-kata Ale meluncur begitu saja dari mulutnya. Ia merasa bahwa ia dianggap sebagai alat saja. Manda merasa bahwa ia sedang dipermainkan.


“Ibuku mencoba memaksanya untuk menceraikan Galaksi. Ibuku ingin Nasha bersamaku.”


“Kamu mengorbankan aku untuk orang yang kamu cintai.”


Ale menggeleng pelan. “Aku ingin menikah dan aku tidak mempunyai pasangan. Kamu mencintai dan menyukaiku jadi aku memintamu untuk menikah denganku. Tidak ada yang dikorbankan di sini.”