
Nasha hanya membaringkan tubuhnya yang kelelahan di atas tempat tidur, hanya beristirahat, tidak untuk tidur. Padahal ini sudah pukul setengah dua belas malam.
Nasha membiarkan pintu balkonnya terbuka, agar ia bisa mendengar suara mobil Galaksi.
Nasha menghembuskan napasnya lalu bangun untuk menuju balkon. Ia duduk di sana sendirian menunggu Galaksi pulang. Angin yang menusuk epidermisnya, ia sudah tidak menghiraukannya lagi.
Nasha menatap ponselnya dan waktu sudah menunjukkan jam dua malam. Nasha tidak menyadari ia sudah duduk selama itu dan Galaksi belum kembali.
Wanita itu lantas menelepon Galaksi.
“Nasha, kenapa belum tidur?”
“Kapan kamu akan kembali? Kamu bilang akan kembali.”
“Aku tidak bisa kembali malam ini.”
“Kenapa? Wanita itu menahanmu?”
“Nasha bersikap murah hatilah. Ia tidak punya siapa-siapa di sini. Aku menemani Maya karena tanggung jawab jangan berpikiran aneh.”
“Apakah dia tanggung jawabmu? Kalau kamu berpikir dia tanggung jawabmu. Jangan kembali!”
Nasha menutup sambungannya dengan sepihak. Air matanya tiba-tiba menetes. Ia amat jengkel.
Wajah Galaksi terlihat tidak baik-baik saja ketika memasuki bangsal. Maya sudah mampu menebak bahwa pria itu baru saja bertengkar dengan Nasha.
“Istirahatlah! Aku akan duduk di sini,” ucap Galaksi ia duduk di sofa yang ada di bangsal itu. Ia menutup matanya dan segera ia pergi ke alam mimpinya.
Maya yang sama sekali tidak tidur. Bangkit dari ranjangnya. Ia berjalan mendekati Galaksi.
Tangan wanita itu terulur untuk membelai pipi Galaksi. Galaksi membuka matanya karena ada napas hangat yang menerpa kulitnya ia terkejut melihat Maya sudah duduk di depannya.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Galaksi, ayo kita bersama lagi.”
Maya langsung menutup matanya dan mencondongkan tubuhnya hendak mencium Galaksi namun ia mendapatkan penolakan dari pria itu. Galaksi mendorongnya dan menjauh.
“Jangan seperti ini.”
“Kenapa? Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi?”
“Aku mencintai istriku sekarang.”
“Kamu berbohong. Kamu tidak bisa membohongiku. Matamu tidak bisa berbohong.”
Galaksi terdiam sesaat dan menghela napas. Ia melihat waktu di pergelangan tangannya, sudah jam tiga malam.
“Aku akan pergi. Sepertinya kamu sudah sehat."
“Jangan pergi.”
Maya melihat Galaksi akan pergi, ia bergegas menyusul Galaksi dan ia terjatuh. Galaksi langsung berbalik dan menolong Maya. Wanita itu terlihat lemah dan Galaksi mengurungkan niatnya untuk pergi.
Beberapa menit, ponsel Galaksi berbunyi. Itu panggilan dari Nasha. Nasha mengeluh bahwa dirinya juga demam. Namun Galaksi tidak mempercayainya. Bahkan Galaksi menuduhnya berbohong dan ingin membandingkannya dengan Maya siapa yang lebih penting.
Jelas sekali bahwa Nasha tidak berbohong. Ia sudah kelelahan bekerja di kantor dan ia menunggu Galaksi semalaman. Tubuhnya merasa tidak enak.
“Maya demam dan sekarang kamu bilang bahwa kamu demam juga. Apakah kamu ingin melihat di antara kalian siapa yang paling penting di hatiku?”
Nasha tidak ingin mengatakan apa-apa. Ia tidak berbicara lagi. Ia langsung menutup ponselnya dan kembali ke kamarnya menutup pintu balkon.
Ketika fajar tiba, kepala Nasha terasa sakit dan berat. Tubuhnya merasa tidak enak namun ia berusaha untuk bangun. Ia berjuang untuk mengganti pakaiannya.
Di tempat lain, Galaksi mengantar Maya pulang. Maya mengajaknya untuk mampir namun pria itu menolaknya karena Nasha sudah menunggunya. Pria itu bergegas ke mobilnya dan langsung melakukan roda empatnya.
Karena waktu pagi banyak orang-orang yang mulai beraktivitas, Galaksi terjebak macet. Ia menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu mengambil ponselnya. Ia menatap layar ponselnya. Mencari nomor Nasya. Terdengar nada sambung telepon yang panjang dan berakhir suara operator yang mengatakan kalau pemilik telepon tidak menjawab – selalu berakhir seperti itu, meskipun ia sudah melalukannya beberapa kali.
Ia berusaha mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya, melenguh lalu memejamkan mata berharap kemacetan ini segera berlalu.
Dan benar saja tak selang beberapa menit, mobilnya sudah bisa berjalan maju meskipun lamban.
Setiba di apartemen, Galaksi memanggil-manggil nama Nasha namun tidak ada sahutan. Mata elang Galaksi menyusuri setiap sudut apartemen namun ia tidak bisa menemukan Nasha. Ia kembali mencoba menghubungi Nasha, perlahan ia mendengar suara nada dering ponsel orang lain.
Yang tak lain adalah bunyi suara dering dari ponsel Nasha.
Ia bergegas masuk ke lobi perusahaan Nasha dan tidak sengaja melihat Manda.
“Huh? Kenapa kamu ada di sini? Di mana Nasha?” tanya Manda yang terlihat bingung karena melihat Galaksi sendiri.
“Kalimat ini seharusnya menjadi pertanyaan saya. Di mana Nasha sekarang?”
Manda merasa bingung karena memang ia tidak mengetahui keberadaan Nasya sekarang. Seharusnya Galaksi yang lebih tahu keberadaan Nasha karena dia adalah suaminya.
...♡♡♡...
Nasha segera menolehkan wajahnya ketika pintu masuk bangsalnya di ketuk dari luar. Pintu terbuka dan menampilkan seorang pria yang memakai baju yang sama seperti kemarin malam. Rupanya pria itu tak kunjung pulang, padahal Nasha sudah menyuruhnya untuk pulang.
Nasha mengerutkan keningnya. “Kenapa kamu kembali? Aku menyuruhmu istirahat, aku sudah menyita tidur malammu kemarin.”
“Aku tidak butuh istirahat.”
“Lalu bekerjalah, aku menggajimu bukan untuk bolos kerja.”
Pria itu, Ale mendecih. “Aku sekarang sedang bekerja, menjilat bosku. Siapa tahu aku bisa naik jabatan.”
Tangan Ale terulur untuk memberikan bubur ayam untuk Nasha. “Sarapan.”
Nasha menyipitkan matanya. “Untukku?" tangannya terulur hendak meraihnya.
“Bukan, untuk perawat di sini.” Ale tersenyum pada Nasha yang sudah mendelikkah matanya.
“Tidak ada ucapan terima kasih?” tanya Ale menelengkan wajahnya.
Nasha menggeleng lalu ia mendongak menatap Ale.
Nasha menghabiskan bubur yang dibelikan Ale lalu wanita itu memberitahukan pada Ale bahwa ia sudah diizinkan untuk pulang.
“Setelah ini antar aku ke kantor.”
“Kamu baru saja sembuh, pulang dan istirahatlah.”
“Tidak, aku baik-baik saja.”
Nasha bersikeras untuk membujuk Ale agar membawanya ke kantor. Ale paham betul dengan temperamen Nasha. Mau tidak mau ia mengantarkan Nasha.
........
“Kamu tidak berpikir, aku adalah pria yang baik hati kan?”
Ale baru saja membuka pintu mobil, mempersilahkan Nasha untuk keluar dan segera menutupnya kembali saat gadis itu keluar dan segera menutupnya kembali saat gadis itu berdiri di hadapannya.
Nasha menggeleng. Ia lebih memilih memperhatikan wajahnya dan berkaca di kedua mata Ale.
“Kamu sedang apa?” tanya Ale salah tingkah.
“Berkaca.”
Nasha langsung berjalan dengan langkah yang mantap. Namun ia merasakan tubuhnya tiba-tiba lemah. Untungnya ada sepasang lengan yang kuat membantunya tepat waktu. Itu membuatnya ia tidak terjatuh. Nasha perlahan mendongak dan bertemu pandang dengan Ale.
“Aku sudah katakan, kamu butuh istirahat.”
Makna kepedulian dalam nada bicara Ale sangat lah jelas.
“Aku baik-baik saja.”
Nasha langsung memperbaiki posisi berdirinya. Ia mengambil langkah lagi dan ia melihat Manda berdiri di depannya sedang memandang mereka.
Nasha mengambil langkah cepat untuk mencapai Manda.
“Jangan salah paham denganku, dia hanya membantu—“
“Jangan jelaskan padaku. Kamu harus menjelaskannya pada suamimu.”
“Galaksi? Pria itu sibuk dengan mantannya.”
Nasha baru saja membuka pintu ruangan kerjanya dan menemukan Galaksi sedang duduk di kursi yang biasa Nasha duduki.